Pemikiran Iluminasi Menurut Ibnu Thufail
Dunia Pemikiran
adalah dunia tanpa batas maka, persoalannya adalah bagaimana seseorang mampu
berinteraksi dengan semua tradisi dan budaya yang mengitarinya, baik yang merupakan
warisan masa lalu maupun yang muncul kemudian sebagai produk zamannya. Dari
proses berinteraksi dengan tradisi dan budaya yang ada diharapkan akan mampu
melahirkan sebuah teori baru sesuai dengan spirit dan paradigma yang
berkembang. Inilah makna dari pergeseran paradigma (shifting paradigma)
yang oleh Thomas S. Kuhn disebut sebagai revolusi ilmiah. Menurut Buddy Munawar
Rachman menyatakan bahwa
Di dalam mencapai kebenaran sejati lebih mendasarkan pada olah
spiritual. Dengan cara demikian seorang akan mampu mencapai musyahadah
dalam tingkatan ekstase total dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran sejati.
Kedua model pemikiran itu menyatu dalam pribadi Hayy ibn Yaqzan (sang
filsuf iluminis).
Pemikiran Ibn
Thufail yang dituangkan dalam kisah Hayy ibn Yaqdzan setidaknya juga merupakan
satu contoh dari satu teori pengetahuan di atas; dalam arti bahwa lahirnya
pemikiran iluminasi Ibn Thufail adalah hasil dari pembacaan dan interaksinya
dengan tradisi filsafat yang ada ketika itu. Dalam hal ini, pemikiran iluminasi
Ibn Thufail lahir dari hasil pembacaanya atas pemikiran filsafat Ibn Sina.
Dalam hal ini, Ibn Thufail secara eksplisit menyatakan bahwa pemikiran
iluminasinya, yang dituangkan dalam kisah Hayy ibn Yaqdzan, adalah
sebagai penjelasan atas rahasia-rahasia yang terkandung didalam filsafat
Timurnya Ibn Sina. Oleh karnanya, pemikiran Ibn Sina sedikit-banyak juga
dipengaruhi struktur filsafat Ibn Thufail. Namun demikian, hal itu tentu tidak
menjadikan Ibn Thufail kehilangan orisilitasnya sebagai seorang flsuf. Maka,
dalam hal ini, sesuai dengan teori Continuity and Change (John O. Voll,
1993), Ibn Thufail berhasil, setidaknya, memunculkan pemahaman baru terhadap
filsafat inilah yang di sebut oleh al-Jabiri sebagai pembacaan yang produktif.
Lebih dari itu, al-Jabiri menyatakan bahwa pembacaan Ibn Thufail terhadap
pembacaan Ibn Sina sebenarnya sama dengan pembacaan Suhrawardi terhadap
filsafat yang sama, yang kemudian melahirkan paradigma yang baru dalam sebuah
sistem pengetahuan yang dikenal dengan filsafat iluminasi.
Secara etimologis,
kata al-isyraq, yang berakar dari kata asy-syarq (timur),
mengandung arti pencahayaan. Sedangkan kata al-masyriq berarti tempat
terbitnya matahari. Kesatuan antara cahaya dan timur dalam terminologi filsafat
iluminasi berkaitan erat dengan simbolisasi matahari yang terbit di timur dan
menerangi segala sesuatu. Sedangkan kata illumination,yang biasanya
dipakai untuk menggantikan sebagai padanan kata al-isyriq, mengandung
arti penerangan dan cahaya. Illuminationism adalah aliran yang
menetapkan bahwa sumber pengetahuan adalah cahaya atau penyinaran. Penyinaran
yang di maksud di sini adalah intuisi, yang menghubungkan antara diri yang
mengetahui dengan subtansi cahaya baik dalam kondisi meninggi atau menurun.
Aliran fisafat ini menegaskan adanya hubungan yang erat pengetahuan dengan
keutamaan, dalam hal ini hikmah dimaknai sebagai perpindahan rohani secara
praksis dari alam kegelapan, dimana pengetahuan dan kebahagiaan tidak mungkin
bisa di capai, menuju kepada cahaya akal yang mana pengetahuan dan kebahagiaan
dapat di capai secara bersama-sama.
Filsafat iluminasi
banyak menggunakan bahasa dan juga termak-termak khusus, berupa simbol-simbol,
yang didasarkan kepada tamsil cahaya dan kegelapan. Simbolisme cahaya digunakan
pada saat menetapkan suatu faktor yang menentukan wujud, bentuk, dan materi,
dengan kata lain penggunaan simbol-simbol itu merupakan ciri khas dalam bangunan
filsafat illuminasi. Dan merupakan aliran filsafat yang dalam mencapai
pengetahuan tidak hanya mengandalkan kekuatan rasio akan tetapi juga
mendasarkannya kepada kekuatan intuisi, ia berusaha memadukan dua hikmah
sekaligus yaitu fisafat dengan tasawuf.
Dalam kisah Hayy
ibn Yaqzan Ibn Thufail sebenarnya ingin membangun struktur pengetahuan yang
lebih tinggi dari apa yang di tulis oleh pendahulunya, struktur filsafat Ibn
Thufail dibangun di atas dua model sekaligus, yakni pengetahuan diskursif yang
di dasarkan pada rasio murni dan pengetahuan sufistik-mistik yang didasarkan
pada ketajaman intuistik. Karena itu, dalam perspektif iluminasi Ibn Thufail,
rasio dan intuisi dipandang secara seimbang sebagai sumber sekaligus
pengetahuan baik pengetahuan fisika maupun metafisika, dengan pengertian lain
rasio yang disebut sebagai daya berfikir, meskipun mampu mencapai pengetahuan
alam yang bersifat indriawi, namun ia tidak akan mampu begitu saja mencapai
pengetahuan sejati tentang kebenaran Tuhan. Hal itu karena rasio merupakan
bagian dari esensi manusia yang dalam realitasnya berada di alam materi,
sehingga ia hanya mencapai pengetahuan indriawi. Karna Tuhan adalah imateri
maka ia hanya bisa di capai memalui daya yang juga bersifat imateri, dalam
perspektif Ibn Thufail hanya manusia yang memiliki daya imateri, esensi manusia
yang imateri ini mampu mencapai pengetahuan sejati tentang Tuhan.
Ibn Thufail
menggambarkan bahwa filsafat atau akal dapat berkembang sendiri tanpa
bergantung kepada masyarakat seperti kisah Hayy ibn Yaqzan, Ibn Thufail
ingin menjelaskan agama pada dasarnya sesuai dengan alam pikiran, dengan
akalnya manusia akan dapat menyelami maksud agama, jadi kedua pemikiran
tersebut saling sangkut paut terhadap pemikirain satu dengan lainnya.
Oleh karena itu melalu kisah Hayy ibn Yaqzan, Ibn Thufail
hendak menegaskan bahwa pengetahuan diskursif pengetahuan rasional tidak cukup
untuk mengantarkan seseorang mengetahui kebenaran sejati tentang kebenaran
Tuhan. Pengetahuan rasio murni harus dibarengi degan olah spiritual karena
hanya salah satu saja tidak akan mencapainya. Ibn Thufail lebih dekat iluminis
ketimbang filsuf peripatetik, sebagai mana disebutkan oleh berbagai referensi
dan juga kebanyakan peneliti.



0 komentar:
Posting Komentar