Rabu, 12 September 2018

Pemikiran Ibnu Thufail


Pemikiran Iluminasi Menurut Ibnu Thufail

            Dunia Pemikiran adalah dunia tanpa batas maka, persoalannya adalah bagaimana seseorang mampu berinteraksi dengan semua tradisi dan budaya yang mengitarinya, baik yang merupakan warisan masa lalu maupun yang muncul kemudian sebagai produk zamannya. Dari proses berinteraksi dengan tradisi dan budaya yang ada diharapkan akan mampu melahirkan sebuah teori baru sesuai dengan spirit dan paradigma yang berkembang. Inilah makna dari pergeseran paradigma (shifting paradigma) yang oleh Thomas S. Kuhn disebut sebagai revolusi ilmiah. Menurut Buddy Munawar Rachman menyatakan bahwa
Di dalam mencapai kebenaran sejati lebih mendasarkan pada olah spiritual. Dengan cara demikian seorang akan mampu mencapai musyahadah dalam tingkatan ekstase total dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran sejati. Kedua model pemikiran itu menyatu dalam pribadi Hayy ibn Yaqzan (sang filsuf iluminis).
            Pemikiran Ibn Thufail yang dituangkan dalam kisah Hayy ibn Yaqdzan setidaknya juga merupakan satu contoh dari satu teori pengetahuan di atas; dalam arti bahwa lahirnya pemikiran iluminasi Ibn Thufail adalah hasil dari pembacaan dan interaksinya dengan tradisi filsafat yang ada ketika itu. Dalam hal ini, pemikiran iluminasi Ibn Thufail lahir dari hasil pembacaanya atas pemikiran filsafat Ibn Sina. Dalam hal ini, Ibn Thufail secara eksplisit menyatakan bahwa pemikiran iluminasinya, yang dituangkan dalam kisah Hayy ibn Yaqdzan, adalah sebagai penjelasan atas rahasia-rahasia yang terkandung didalam filsafat Timurnya Ibn Sina. Oleh karnanya, pemikiran Ibn Sina sedikit-banyak juga dipengaruhi struktur filsafat Ibn Thufail. Namun demikian, hal itu tentu tidak menjadikan Ibn Thufail kehilangan orisilitasnya sebagai seorang flsuf. Maka, dalam hal ini, sesuai dengan teori Continuity and Change (John O. Voll, 1993), Ibn Thufail berhasil, setidaknya, memunculkan pemahaman baru terhadap filsafat inilah yang di sebut oleh al-Jabiri sebagai pembacaan yang produktif. Lebih dari itu, al-Jabiri menyatakan bahwa pembacaan Ibn Thufail terhadap pembacaan Ibn Sina sebenarnya sama dengan pembacaan Suhrawardi terhadap filsafat yang sama, yang kemudian melahirkan paradigma yang baru dalam sebuah sistem pengetahuan yang dikenal dengan filsafat iluminasi.
            Secara etimologis, kata al-isyraq, yang berakar dari kata asy-syarq (timur), mengandung arti pencahayaan. Sedangkan kata al-masyriq berarti tempat terbitnya matahari. Kesatuan antara cahaya dan timur dalam terminologi filsafat iluminasi berkaitan erat dengan simbolisasi matahari yang terbit di timur dan menerangi segala sesuatu. Sedangkan kata illumination,yang biasanya dipakai untuk menggantikan sebagai padanan kata al-isyriq, mengandung arti penerangan dan cahaya. Illuminationism adalah aliran yang menetapkan bahwa sumber pengetahuan adalah cahaya atau penyinaran. Penyinaran yang di maksud di sini adalah intuisi, yang menghubungkan antara diri yang mengetahui dengan subtansi cahaya baik dalam kondisi meninggi atau menurun. Aliran fisafat ini menegaskan adanya hubungan yang erat pengetahuan dengan keutamaan, dalam hal ini hikmah dimaknai sebagai perpindahan rohani secara praksis dari alam kegelapan, dimana pengetahuan dan kebahagiaan tidak mungkin bisa di capai, menuju kepada cahaya akal yang mana pengetahuan dan kebahagiaan dapat di capai secara bersama-sama.
            Filsafat iluminasi banyak menggunakan bahasa dan juga termak-termak khusus, berupa simbol-simbol, yang didasarkan kepada tamsil cahaya dan kegelapan. Simbolisme cahaya digunakan pada saat menetapkan suatu faktor yang menentukan wujud, bentuk, dan materi, dengan kata lain penggunaan simbol-simbol itu merupakan ciri khas dalam bangunan filsafat illuminasi. Dan merupakan aliran filsafat yang dalam mencapai pengetahuan tidak hanya mengandalkan kekuatan rasio akan tetapi juga mendasarkannya kepada kekuatan intuisi, ia berusaha memadukan dua hikmah sekaligus yaitu fisafat dengan tasawuf.
            Dalam kisah Hayy ibn Yaqzan Ibn Thufail sebenarnya ingin membangun struktur pengetahuan yang lebih tinggi dari apa yang di tulis oleh pendahulunya, struktur filsafat Ibn Thufail dibangun di atas dua model sekaligus, yakni pengetahuan diskursif yang di dasarkan pada rasio murni dan pengetahuan sufistik-mistik yang didasarkan pada ketajaman intuistik. Karena itu, dalam perspektif iluminasi Ibn Thufail, rasio dan intuisi dipandang secara seimbang sebagai sumber sekaligus pengetahuan baik pengetahuan fisika maupun metafisika, dengan pengertian lain rasio yang disebut sebagai daya berfikir, meskipun mampu mencapai pengetahuan alam yang bersifat indriawi, namun ia tidak akan mampu begitu saja mencapai pengetahuan sejati tentang kebenaran Tuhan. Hal itu karena rasio merupakan bagian dari esensi manusia yang dalam realitasnya berada di alam materi, sehingga ia hanya mencapai pengetahuan indriawi. Karna Tuhan adalah imateri maka ia hanya bisa di capai memalui daya yang juga bersifat imateri, dalam perspektif Ibn Thufail hanya manusia yang memiliki daya imateri, esensi manusia yang imateri ini mampu mencapai pengetahuan sejati tentang Tuhan.
            Ibn Thufail menggambarkan bahwa filsafat atau akal dapat berkembang sendiri tanpa bergantung kepada masyarakat seperti kisah Hayy ibn Yaqzan, Ibn Thufail ingin menjelaskan agama pada dasarnya sesuai dengan alam pikiran, dengan akalnya manusia akan dapat menyelami maksud agama, jadi kedua pemikiran tersebut saling sangkut paut terhadap pemikirain satu dengan lainnya.
Oleh karena itu melalu kisah Hayy ibn Yaqzan, Ibn Thufail hendak menegaskan bahwa pengetahuan diskursif pengetahuan rasional tidak cukup untuk mengantarkan seseorang mengetahui kebenaran sejati tentang kebenaran Tuhan. Pengetahuan rasio murni harus dibarengi degan olah spiritual karena hanya salah satu saja tidak akan mencapainya. Ibn Thufail lebih dekat iluminis ketimbang filsuf peripatetik, sebagai mana disebutkan oleh berbagai referensi dan juga kebanyakan peneliti.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar