Mengajarkan
Perdamaian pada Anak
Oleh:
Sekar Purbarini Kawuryan
Abstract
Warna kekerasan dalam dunia pendidikan kita mencerminkan kurangnya ajaran
kasih sayang dalam setiap proses pembelajaran di dalam kelas. Keberadaan
pendidikan perdamaian dalam setiap proses pembelajaran yang diperoleh
masing-masing individu akan mempengaruhi sikap, karakter dan perilaku individu
itu sendiri, baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang. Pendidikan
perdamaian yang didasarkan pada filosofi untuk mengajar tanpa kekerasan, penuh
cinta, mengembangkan perasaan belas kasih, kepercayaan, kejujuran, keadilan,
kerjasama dan penghormatan kepada seluruh umat manusia dan semua kehidupan di
bumi ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan dunia yang rukun dan
damai.
Key Word: Teaching peacemaking, Early Childhood
A.
PENDAHULUAN
Kekerasan merupakan fenomena yang tidak aneh lagi dalam dunia
pendidikan Indonesia. Hampir setiap saat, kekerasan dalam beragam bentuknya
terjadi. Ada yang berbentuk kekerasan guru terhadap murid, murid senior
terhadap junior, sesama murid dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.
Warna kekerasan dalam dunia pendidikan kita mencerminkan
kurangnya ajaran kasih sayang dalam setiap proses pembelajaran di dalam kelas.
Guru cenderung meletakkan siswa sebagai obyek, bukan subyek, bukan
pribadi-pribadi yang memiliki kekhasan yang patut dihargai, tetapi malah
diseragamkan lewat bahasa "disiplin".
Cepatnya proses
perubahan, yang merupakan hasil dari dinamisasi sosial dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan lingkungan, membawa masyarakat untuk memperhatikan dengan
sungguh-sungguh syarat untuk menjadi manusia yang mempunyai keahlian dan
kualitas pendidikan yang lebih baik. Untuk mendidik generasi yang lebih
berkualitas, proses pendidikan harus diorganisasi dan dikembangkan dengan baik
pada masa sekarang sampai masa yang akan datang.
Fenomena yang dituliskan di bagian awal tulisan ini
menunjukkan kepada kita bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih cukup
jauh untuk bisa dikatakan “damai”. Dalam hubungan ini, memahami perdamaian
seharusnya dipertimbangkan sebagai faktor yang menentukan untuk menciptakan
dunia yang lebih nyaman. Oleh karena itu, keberadaan pendidikan perdamaian
dalam setiap proses pembelajaran yang diperoleh masing-masing individu akan mempengaruhi
sikap, karakter dan perilaku individu itu sendiri, baik pada masa sekarang
maupun pada masa yang akan datang.
Jaringan
pemikiran seperti yang diuraikan di atas itulah yang kemudian mendorong
munculnya tulisan ini.
B. Pengertian Pendidikan Perdamaian
Pendidikan perdamaian (Zamroni, 2008) adalah suatu bentuk
pemberdayaan manusia dengan keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan yang
meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Membangun, menegakkan dan memperbaiki
hubungan di semua level interaksi manusia
b. Mengembangkan pendekatan-pendekatan yang
bersifat positif untuk menyelesaikan konflik, dimulai dari personal sampai
internasional
c. Menciptakan lingkungan yang aman, baik
secara fisik maupun emosinal, yang dibutuhkan semua individu
d. Membangun lingkungan yang aman secara
berkelanjutan dan melindunginya dari adanya ekspoitasi dan perang.
Pendidikan perdamaian didasarkan pada filosofi untuk
mengajar tanpa kekerasan, penuh cinta, mengembangkan perasaan belas kasih,
kepercayaan, kejujuran, keadilan, kerjasama dan penghormatan kepada seluruh
umat manusia dan semua kehidupan di bumi ini.
UNICEF
mendeskripsikan pendidikan perdamaian sebagai pendidikan yang diterima di
sekolah dan pendidikan di luar sekolah yang bertujuan untuk menjunjung tinggi
hak anak sebagai isi dari Konvensi Hak Anak. Tujuannya adalah menyiapkan guru
supaya mampu mengembangkan sekolah dan iklim kelas dengan tingkah laku yang
saling menghargai dan penuh kedamaian kepada semua anggota komunitas belajar
dan menerapkan prinsip kesetaraan serta tidak diskriminatif, baik pada
kebijakan administrasi maupun pada prakteknya (Tudball dalam Zamroni,2003:31).
Program pendidikan perdamaian yang disalurkan dengan
resolusi konflik dan pemahaman multikultural termasuk suatu kegiatan yang
didasarkan pada kemampuan individu dalam berpendapat. Mencoba memahami dan
mengerti orang lain dan hal-hal yang mendasari pemikiran mereka akan bermanfaat
sebagai alat yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah, misalnya rasisme,
diskriminasi atau mengganggu orang lain (Hakvoort dalam Zamroni, 2002:35).
Untuk itu, salah satu tujuan utama lembaga pendidikan
dasar seharusnya adalah membantu siswa mencapai pemikiran bahwa perdamaian
adalah jalan kehidupan dan kultur universal yang memiliki kontribusi untuk
mengembangkan fondasi kerjasama dengan masyarakat dan budaya yang berbeda.
Dalam hal ini, pendidikan dasar seharusnya menjadi pusat di mana kultur
perdamaian ditransfer pada anak-anak. Colman McCarthy dalam Zamroni (2001:35)
menunjukkan bahwa jika kita tidak mendidik anak kita dengan damai, suatu hari
nanti orang lain akan mengajarkan perang pada mereka. Ia menggarisbawahi fungsi
sekolah dalam pendidikan perdamaian.
C.
Karakteristik Pendidikan Perdamaian
Menurut Harris dalam Zamroni (1996), pendidikan
perdamaian adalah salah satu upaya pembelajaran yang bisa memberikan kontribusi
dan mampu menciptakan warga negara yang lebih baik di dunia ini. Proses
transformasi keduanya sama yaitu dengan cara menanamkan filosofi yang mendukung
dan mengajar tanpa kekerasan, yang juga berarti menjaga lingkungan dan
kehidupannya sendiri sebagai manusia. Pendidikan perdamaian memberikan
alternatif dengan mengajarkan kepada siswa bagaimana kekerasan bisa terjadi dan
menginformasikan pengetahuan kepada siswa tentang isu-isu kritis dari
pendidikan perdamaian yaitu menjaga perdamaian (peacekeeping), menciptakan perdamaian (peacemaking), dan membangun perdamaian (peacebuilding).
D.
Peran Keluarga dan Sekolah dalam
Mengajarkan Perdamaian kepada Anak
Faktor-faktor
seperti keluarga dan sekolah merupakan faktor yang paling krusial peranannya
pada individu di masa depan.
1.
Peran Keluarga
Peranan
keluarga dalam memberikan pemahaman yang utuh mengenai konsep, makna dan
penerapan perdamaian sangat signifikan dan dapat menjadi latar atau pondasi
sebuah keyakinan atas prinsip perdamaian di dalam hati anak-anak kita. Hal ini
menjadi modal dasar sebuah tatanan nilai perilaku dalam skala kecil di tingkat
paling bawah yaitu diri dan keluarga. Pendidikan individual dimulai dari keluarga dan dilanjutkan oleh sekolah
dan lingkungan sosial. Proses untuk memperoleh pengetahuan yang penting,
keterampilan dan perilaku yang baik diawali dari keluarga sampai pada
pendidikan dasar dan dilanjutkan oleh media dan lingkungan sosial. Semua
pengetahuan, keterampilan dan tingkah laku yang diperoleh secara langsung akan
mempengaruhi cara pandang terhadap kehidupan. Dengan kata lain, keyakinan dan
nilai-nilai yang diperoleh dalam setiap fase pembelajaran bukan hanya membentuk
karakter seseorang tetapi berkontribusi untuk membentuk dunia yang lebih baik.
Orang dewasa
adalah role model bagi anak-anak. Anak
mengidentifikasikan diri dengan lingkungan dan orang dewasa di
sekitarnya. Mereka mengambil nilai tidak hanya yang disosialisasikan secara
verbal tapi juga yang dicontohkan dalam perilaku keseharian.
Anak belajar
menghargai jika ia tumbuh dalam asuhan kasih sayang. Anak belajar melawan jika
ia tumbuh dalam penindasan. Anak menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar persoalan
jika ia tumbuh dengan cara kekerasan. Anak
tumbuh dalam asuhan manusia dewasa untuk ditumbuhkan kodrat manusiawinya. Jika kita ingin memutus rantai kekerasan yang ada dalam kehidupan kita, bukan dimulai dengan mengajarkan apa itu kekerasan pada anak. Orang dewasalah yang harus belajar untuk tidak melakukan tindak kekerasan. Apalagi memanfaatkan anak secara struktural maupun biologis sebagai pihak yang lemah untuk sasaran tindakan kekerasan itu.
tumbuh dalam asuhan manusia dewasa untuk ditumbuhkan kodrat manusiawinya. Jika kita ingin memutus rantai kekerasan yang ada dalam kehidupan kita, bukan dimulai dengan mengajarkan apa itu kekerasan pada anak. Orang dewasalah yang harus belajar untuk tidak melakukan tindak kekerasan. Apalagi memanfaatkan anak secara struktural maupun biologis sebagai pihak yang lemah untuk sasaran tindakan kekerasan itu.
Sebaliknya
limpahan kasih sayang, perhatian dan perlindunganlah yang harus diberikan agar
anak tumbuh dalam atmosfer yang penuh dengan cinta kasih dan perdamaian. Di
masa depan mereka akan menginternalisasikan nilai-nilai luhur itu dalam
kehidupan mereka, dan tentu saja mewariskannya pada generasi berikutnya. Makna
anak sebagai investasi moral luhur seperti inilah yang seharusnya kita
perjuangkan.
2. Peran Sekolah
Satu hal yang paling bermakna untuk memajukan
masyarakat adalah dengan membentuk sistem pendidikan. Semua masyarakat
memerlukan institusi pendidikan untuk mendidik generasi-generasi baru. Dalam
pengertian ini, sekolah adalah sebuah institusi yang menyiapkan individu
menghadapi kehidupan dan memungkinkan mereka untuk mengembangkan diri dan
memperluas pemikirannya. Oleh karena itu, pendidikan dasar berperan penting
bagi anak-anak dalam menanamkan nilai-nilai nasional dan universal yang
berhubungan dengan masyarakat dan kehidupan (Sever dalam Zamroni, 2003:34).
Sebagai individu yang dikelilingi oleh lingkungan dan
media, pendidikan perdamaian di sekolah seharusnya didukung oleh berbagai
institusi yang ada, yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan perdamaian.
Dengan kata lain, sikap dan perilaku yang diperoleh di sekolah juga dianjurkan
oleh pendidikan informal (dengan keluarga). Dengan demikian, hasil yang lebih
baik akan bisa dicapai. Dari pengertian ini, memahami budaya damai yang diberikan pada pendidikan
dasar selanjutnya akan menyebar semakin luas ke semua masyarakat. Dengan
demikian, nilai-nilai yang dimiliki oleh anak-anak tidak hanya menentukan
ketika mereka beranjak dewasa, tetapi juga pada saat sekarang sebagai partisipan
aktif. Kita perlu belajar untuk mendengar apa yang dipikirkan, dirasakan, dan
dibutuhkan anak-anak dalam rangka untuk memahami bagaimana mereka berkontribusi
aktif pada kehidupan keseharian mereka. Dengan memahami kebutuhan, harapan dan
pikiran anak-anak mengenai saat sekarang dan yang akan datang, kita akan
mencapai pengetahuan yang mendalam bagaimana kontribusi anak-anak, dimana
mereka memerlukan perlindungan dan bagaimana menyiapkan mereka denagn cara yang
terbaik untuk menyambut masa depan mereka (Hakvoort dalam Zamroni, 200:44).
Sekolah, khususnya pendidikan dasar tidak hanya
mempengaruhi pengembangan karakter, tetapi juga memperluas cara berpikir dengan
cara menunjukkan nilai-nilai yang berbeda. Dalam proses yang terjadi pada
jenjang pendidikan dasar ini, masing-masing individu memiliki kesempatan yang
sama untuk belajar tentang kehidupan sosial dan lingkungannya, oleh karena itu
masing-masing individu ini bisa mengembangkan prinsip-prinsip hidupnya. Dalam
hal ini, pendidikan dasar bisa dipandang sebagai periode penting dan kritis.
Dalam periode ini, individu diberikan kesempatan untuk membuktikan dirinya dan
mencapai keterampilan-keterampilan wajib. Pada periode ini pula individu
berhadapan dengan banyak sekali faktor yang mempengaruhi lingkungan dan
masyarakat, oleh karena itu mereka memulai untuk mencapai nilai-nilai
universal.
Tujuan dari pendidikan dasar adalah mendidik
individu-individu yang sadar mengenai masalah sosial dan masalah universal dan
pada orang yang memusatkan pengembangan diri dan lingkungannya. Jadi, lewat
pendidikan dasar individu juga memulai untuk memperoleh nilai-nilai yang
berhubungan dengan perang dan damai, dan belajar tentang hasilnya. Pencapaian
pendidikan perdamaian dalam fase ini akan berguna bagi kehidupan yang aman dan
damai. Oleh karena itu, satu dari tujuan paling pokok dari pendidikan dasar
seharusnya membekali generasi muda dengan sikap dan nilai yang berhubungan
syarat perdamaian dunia.
Sebagai praktek yang efisien dalam pendidikan dasar
agar bermakna untuk masa depan dan masyarakat yang berkualitas baik, maka harus
memunculkan individu yang bisa membedakan yang baik dan buruk, maka dalam
sistem pendidikan yang efisien membuat individu berkontribusi untuk
memperhatikan kemanusiaan (Topba dalam Zamroni, 2004:35). Lebih dari itu, pada
jenjang pendidikan dasar, pendidikan perdamaian seharusnya tidak dibatasi hanya
pada ilmu sosial. Proses pendidikan dasar seharusnya juga berisi aktivitas yang
menekankan pada pentingnya kebutuhan damai untuk kemanusiaan. Dalam hal ini,
siswa tidak hanya memperoleh nilai-nilai bahwa perang dan kekerasan bisa
merusak peradaban, tetapi mereka juga menerima pengetahuan tentang perbedaan
kebudayaan dan bangsa, yang akhirnya menghasilkan pemahaman multikultural.
Jika target umum dunia pada abad 21 adalah untuk
memperoleh keuntungan dari perdamaian dan masyarakat yang makmur, pendidikan
perdamaian seharusnya termasuk dalam program pendidikan dan demikian juga
kemanusiaan secara keseluruhan seharusnya mencari berbagai solusi untuk perdamaian.
Dengan menggunakan pendekatan ini, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik
dan memahami budaya damai secara lebih baik. Dalam pengertian ini, penghapusan
perang sangat bergantung pada pendidikan. Dengan kata lain, mendidik orang yang
bertujuan untuk menciptakan budaya damai merupakan hal yang sangat potensial.
Meskipun begitu, pendidikan perdamaian tidak bisa dicapai hanya sebagai program
di sekolah (Gwen dalam Zamroni, 2001:42). Jika semua manusia dan
lembaga-lembaga yang ada memfokuskan perhatian secara bersama-sama pada
pendidikan perdamaian, maka dunia yang damai akan bisa diciptakan.
E. Upaya yang Bisa Dilakukan Keluarga dan Sekolah
untuk Mengajarkan Perdamaian kepada Anak
1. Membiasakan Sikap Dan Perilaku Rukun Sesuai Usia
Anak
Kerukunan selalu menjadi cita-cita orang yang cinta
akan perdamaian. Kerukunan akhirnya masalah kebiasaan. Kerukunan hanya akan terwujud bila orang peduli dan
menaruh empati. Dengan demikian, orang tidak lagi didasari
sikap egois, sikap ingin menang sendiri, sikap iri hati dan merendahkan yang
lain. Untuk terciptanya suasana kerukunan tentu dibutuhkan suatu usaha untuk
saling mengenal, baik antar pribadi maupun lembaga dan komunitas. Ada pepatah: “tak kenal
maka tak sayang”. Pepatah ini kiranya menjadi kunci bagi kita dalam usaha
saling mengenal dan memahami pihak lain.
Banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membiasakan anaknya supaya
mereka memiliki kepedulian dan empati serta membangun dan menciptakan kerukunan
dalam hidup. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut:
a.
Membiasakan
orang tua untuk berdiskusi dengan anak. Beberapa pertanyaan bisa diajukan,
misalnya apa artinya berbaik hati dengan teman? Bagaimana perasaanmu ketika
seorang teman berbaik hati kepadamu? Pikirkan saat seseorang menyakitimu. Apa yang terjadi dan bagaimana perasaanmu?
b.
Ketika anak disakiti oleh temannya atau terlibat
pertengkaran dengan teman-temannya, bantulah mereka mengenali bagaimana
kata-kata dan perilaku mempengaruhi orang lain. Ajaklah mereka berdamai. Ajari
anak duduk dan mendengarkan pendapat dari kedua belah pihak, setiap orang
mengajukan usulan untuk berkompromi. Kemudian pilihlah salah satu usulan
tersebut dan laksanakan. Proses terus berlanjut hingga anak merasa puas atau
setidaknya merasa lebih baik.
c.
Ajaklah anak ke alam terbuka dengan melakukan perjalanan.
Tunjukkan beberapa binatang kecil yang ditemukan seperti semut dan diskusikan
bagaimana binatang-binatang tersebut bersesuaian di dalam ekosistem
d.
Kunjungi panti jompo atau panti asuhan dan anak
terlantar. Berikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan
penghuni rumah atau panti tersebut.
Maka setiap orang tua harus membiasakan diri dengan
sikap-sikap positif terhadap anaknya. Kebiasaan melakukan interaksi dengan
orang sekitar bahkan dengan makhluk lain (tumbuhan dan binatang) sekalipun akan
semakin memupuk jiwa anak itu sendiri untuk peduli terhadap orang lain.
Kepedulian dan empati akan memunculkan sikap yang membawa cinta dan damai.
2. Penerapan Prinsip
Mengajar Penciptaan Perdamaian
Guru sebagai fasilitator pembelajaran di sekolah memegang
peranan yang krusial demi terwujudnya kehidupan yang rukun dan damai di
kalangan siswa-siswinya. Berikut ini diuraikan cara menerapkan prinsip mengajar
penciptaan perdamaian.
1. Be creative
Jadilah seseorang yang penuh dengan kreatifitas. Terima
dan akomodasi talenta/bakat-bakat dari setiap siswa. Doronglah daya imaginasi
mereka dan cobalah untuk selalu siap sedia dalam mengantisipasi segala respon
ataupun pertanyaan, bahkan yang terburuk sekalipun di ruang kelas. Pilihlah
kegiatan-kegiatan yang mendorong daya pikir kreatif sekaligus praktek secara
langsung di lapangan.
2. Be intentional
Bila melakukan sesuatu, lakukanlah dengan suatu maksud
yang jelas, pikirkan dan renungkan sebelum melakukan dan selama dalam proses
melakukan setiap bagian dari program pengajaran perdamaian ini. Tak lupa
perhatikan hal-hal sekalipun itu nampak sepele, sebab hal-hal yang dianggap
sepele pun dapat digunakan untuk mengajar siswa-siswi di ruang kelas kita.
Perhatikan juga tentang penggunaan bahasa dan setiap kata yang kita gunakan dalam proses pengajaran ini. Berbicaralah secara terbuka tentang konflik, sebab ini akan mendorong anak-anak kita untuk bertanya-tanya, untuk berbagi rasa takut mereka, untuk membantu mereka dengan ide-ide yang sulit untuk mereka cerna.
Perhatikan juga tentang penggunaan bahasa dan setiap kata yang kita gunakan dalam proses pengajaran ini. Berbicaralah secara terbuka tentang konflik, sebab ini akan mendorong anak-anak kita untuk bertanya-tanya, untuk berbagi rasa takut mereka, untuk membantu mereka dengan ide-ide yang sulit untuk mereka cerna.
Saat anak-anak kita tahu bahwa orang-orang dewasa terus
berjuang demi melawan kekerasan dan konflik, mereka pun akan merasa lebih aman,
dan juga akan memberikan pengharapan kepada mereka, bahwa masih ada
manusia-manusia dewasa yang terus berjuang demi perdamaian dan kasih sayang di
bumi ini.
3.
Use Symbols
Gunakan simbol-simbol dengan tujuan yang jelas.
Simbol-simbol membuat hal-hal yang abstrak menjadi jelas dan mudah untuk
dimengerti. Sebab dengan simbol-simbol tersebut kita bisa meraba, melihat,
mendengar, ataupun merasakan hal-hal yang tadinya abstrak.
4. Balance
structure and choice
Seimbangkan pilihan dan struktur. Mengajar Perdamaian
tidaklah berarti bahwa para guru atau orang dewasa membiarkan anak-anak membuat
seluruh keputusan sendiri.
Mengajar perdamaian lebih berarti bahwa para pemimpin
(guru dan orang dewasa) menyusun sebuah struktur dan lingkungan yang mampu
memberikan ruang bagi anak-anak didik untuk memilih. Dengan kata lain para guru
haruslah menyediakan alternatif-alternatif yang darinya anak-anak didik kita
bisa memilih. Dengan memberikan pilihan diantara berbagai bentuk aktifitas
dalam proses pengajaran, para guru telah menunjukkan kemampuannya tentang
konsep penting lainnya yaitu: penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan di antara
anak-anak didik.
5. Enrich the
environment
Salah satu bentuk konkrit dalam usaha memperkaya
lingkungan belajar ini adalah dengan jalan memberikan pilihan-pilihan. Sebagai
tambahan, para guru bisa juga mencoba membuat ruang kelas lebih atraktif dan
nyaman terhindar dari segala bentuk gangguan. Musik-musik lembut bertemakan
perdamaian, dekorasi ceria tapi elegan, serta tata letak 'furniture' pun turut
mendukung suasana 'damai' dalam ruang kelas kita.
6. Value
individuality and differences
Berikan perhatian khusus dan apresiasi terhadap setiap
perbedaan. Hargai perbedaan kultur (cultural diversity) dan setiap keunikan
karakter/pribadi dari anak-anak didik kita. Belajarlah untuk lebih kreatif
dalam menggunakan keberbedaan-keberbedaan yang ada seperti: umur, talenta/bakat
khusus, suku bangsa, agama, juga belajarlah untuk memahami bagaimana cara hidup
dan pikir dari orang lain.
7. Teach
cooperation
Sewaktu masih belia anak-anak didik kita hidup dalam
dunia yang diwarnai oleh kerjasama dan kasih sayang. Tapi tak lama setelah itu,
dimensi baru yang lebih diwarnai oleh kompetisi (bahkan tak jarang amat
brutal!) membuat anak-anak didik kita lupa tentang semangat kerjasama, saling
bantu-membantu.
Semangat kerjasama ini haruslah diajarkan secara
berkesinambungan. Jangan melakukan aktifitas-aktifitas yang mendorong adanya
semangat kompetisi. Tapi gunakan bentuk-bentuk aktifitas dan permainan yang
bersifat saling membantu.
8. Be positive and
empowering
Gunakanlah kata-kata yang bersifat membangun. Dorong
anak-anak didik kita agar memiliki suatu visi yang bersifat kedepan. Bagikan
visi anda sendiri kepada anak-anak didik kita. Milikilah keyakinan bahwa
perdamaian itu mungkin direalisasikan. Ajar setiap anak didik kita apa yang
dapat mereka lakukan sebagai individu guna membuat bumi ini semakin hari
semakin damai sejahtera. Ceritakan cerita-cerita hidup para pecinta damai,
berikanlah kepada anak-anak didik kita pahlawan-pahlawan dan 'role model' yang
mencintai dan menghidupi kehidupan kedamaian.
F.
PENUTUP
Kegiatan yang berhubungan dengan keberadaan pendidikan
perdamaian seharusnya tidak terbatas pada sekolah atau institusi pendidikan
saja. Isu ini seharusnya dipahami dalam perspektif yang lebih luas baik dalam
dimensi nasional maupun internasional.
Bersama-sama dengan upaya yang dilakukan oleh staf
sekolah, komunitas dunia seharusnya bergabung satu sama lain dalam rangka
membuat perdamaian itu permanen dan efektif di seluruh dunia dan mereka
seharusnya juga memfokuskan pada pendidikan perdamaian pada proses pendidikan
dasar. Lembaga yang memusatkan perhatian pada budaya perdamaian, khususnya
sekolah dasar seharusnya dengan sungguh-sungguh memperhatikan bagaimana manusia
memperoleh pendidikan perdamaian dan budaya damai. Dengan kata lain, perlu
upaya untuk memelihara adanya perdamaian dalam pendidikan. Karena pendidikan
dasar diwajibkan di seluruh dunia, dalam proses ini prinsip-prinsip pendidikan
perdamaian seharusnya dikembangkan dan budaya damai universal seharusnya
diciptakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Zamroni.
(2008). Peace Education. A Reader.
Gary T. Furlong. (2005). The Conflict Resolution Toolbox. John
Wiley & Sons Canada, Ltd.
Stephen Baron et.al. (2000). Social Capital. critical Perspectives. Oxford
University Press Inc. New York .
Sholehuddin
A. Aziz. Penguatan Peace
Building Melalui Sosialisasi Perdamaian
& Community Empowerment (artikel).
Joshua W. Utomo. Teaching
Peacemaking (artikel)
LPKB Perwakilan Medan.
2006. Penerapan Kerukunan di Kalangan
Anak-anak



0 komentar:
Posting Komentar