Kamis, 27 September 2018

Kebudayaan


BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Budaya berasal dari kata budi-daya yang asal muasalanya dari bahasa sansekerta yang dalam arti bahasa Indonesianya adalah daya-budi,oleh karena itu budaya secara harfiyah berarti hal-hal yang berkaitan dengan fikiran dan hasil dari tenaga fikiran tersebut. Sedangkan dalam KBBI budaya adalah suatu yang menjadi kebiasaan yang sudah sukar untuk diubah, dan dalam budaya asing disebut culture. Suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat yang sampai saat ini masih dilakukan karena kepatuhan mereka terhadap budayanya seolah-olah hal tersebut adalah wajib hukumnya dan harus selalu dilaksanakan karena mereka terlalu patuh dengan kebudayaannya.
Kebudayaan = Cultur (bahasa Belanda) = Culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab), berasal dari perkataan Latin “Colere” yang artinya mengelola, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, dari sini berkembanglah arti culture segala dan akrivitas manusia untuk mengelola dan mengubah alam.[1] Kebudayaan sendiri adalah suatu fenomena universal. Setiap masyarakat –masyarakat di dunia mempunyai kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat yang satu dengan masyrakat yang lain.[2]
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu kebudayaan ?
2.      Apa Hubungan Kebudayaan dan Manusia ?
3.      Kebudayaan di Indonesia ?
4.      Pengaruh Kebudayaan Asing di Indonesia ?




BAB II
Pembahasan

A.    Kebudayaan
Seperti yang sudah di jelaskan di atas kebudayaan merupakan suatu fenomena universal. Setiap masyarakat –masyarakat di dunia mempunyai kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat yang satu dengan masyrakat yang lain. Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Tak ada manusia yang dapat hidup di luar ruang lingkup kebudayaan.
Suatu penjelasan yang menarik ide kebudayaan muncul pada akhir abad ke delapan belas dan terus berlanjut sampai ke abad ke sembilan belas, perubahan ini membuat bingung semua orang dari hal politik, sosial, dan personal, tidak hanya membingungkan tetapi bahkan bisa kehilangan arah. Perubahan semacam itu melalui industrialisasi dan teknologi.[3]
Para sosiolog dan antropolog sudah menjelaskan konsep kebudayaan dengan berbagai cara. Dalam berbagai cara, dalam pengertiannya secara umum dan paling banyak digunakan istilah sebuah kata benda kolektif yang di gunakan untuk mendefinisikan ranah dan lingkungan manusia. Kebudayaan adalah sebuah kategori yang deskriptif dan konkret, kebudayaan dipandang  sebagai sekumpulan besar karya seni dan karya intelektual di dalam suatu masyarakat tertentu.[4]
Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bukan kemiskinan. Bahwa Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi budaya yang luar biasa, jika mengacu pada pengertian bahwa kebudayaan adalah hasil cipta manusia
Kebudayaan lah yang memberi nilai dan makna pada hidup manusia, seluruh bangunan hidup manusia dan masyarakat terdiri di atas landasan kebudayaan. Karena itu penting sekali artinya bagi kita untuk memahami hakikat kebudayaan. Manusia adalah pencipta kebudayaan, dan sebagai ciptaan manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.
B.     Hubungan Manusia dan Kebudayaan
Namun manusia dan kebudayaan, pada dasarnya berhubungan secara dialektis. Ada interaksi kreatif antara manusia dan kebudayaan, kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaannya. Itulah dialektika fundamental yang mendasari seluruh proses hidup manusia.
Dialektika fundamental ini terdiri dari tiga momen atau tahap, yakni;
1.      Eksternalisasi adalah proses pencurahan diri manusia secara terus menerus ke dalam dunia melalui aktivitas fisik dan mentalnya
2.      Objektivasi adalah tahap dimana aktivitas manusia menghasilkan suatu realitas objektif yang berada di luar diri manusia.
3.      Internalisasi adalah tahap dimana realitas objektif hasil ciptaan manusia itu diserap kembali oleh manusia.[5]
Melalui eksternalisasi  manusia menciptakan kebudayaan, sedangkan melalui internalisasi kebudayaan membentuk manusia. Dengan kata lain, melalui internalisasi manusai menjadi produk kebudayaan, contoh seperti kehadiran gedung-gedung pencakar langit itu memberikan inspirasi bagi para arsitek untuk mengembangkan kreasi-kreasi baru yang lebih hebat dari apa yang sekerang. Atau contoh lagi seperti jaman sekarang manusia yang menggunakan komputer untuk kebutuhan sehari-hari, bagi mereka yang menggunakan komputer tentu berpikir bahwa tanpa komputer pekerjaannya akan terhambat.
Selain mempengaruhi pola pikir manusia, hal-hal yang diciptakan pun dapat mempengaruhi pola prilaku, aktivitas, dan gaya hidup. Lain gaya hidup orang-orang di kota besar yang sehari-harinya bergaul dengan handphone, komputer, sabun mandi, dll di supermarket, berbeda dengan orang-orang pedalaman yang hanya bergaul dengan senjata untuk berburu dan ladang untuk berkebun.
Beberapa contoh terpapar di atas memperlihatkan bagaimana kebudayaan yang merupakan produk manusia itu kembali membentuk manusia. Manusia dan kebudayaan memang saling mengandaikan, adanya manusia mengandaikan adanya budaya, negitupun sebaliknya. Tanpa kebudayaan manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya secara manusiawi, tanpa kebudayaan manusia akan tetap tererat dalam determinisme absolut alam primer, dan terkurung dalam kerajaan hewan.[6]
Kiranya sudah jelas bahwa apa yang di sebut kebudayaan itu merupakan semua urusan manusia bukan urusan orang-orang atau kalangan tertentu saja. Tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan suatu tipe kebudayaan yang kondusif bagi pembentukan manusia dan masyarakat yang aktif-kreatif-dinamis.
C.    Kebudayaan Di Indonesia
Indonesia mempunyai sejarah tertulis yang dimulai sejak abad ke-4 M. Pada dasarnya, penduduk Indonesia dianggap terdiri dari masyarakat dengan kebudayaan-kebudayaan suku bangsa lokal yang hanya sedikit berhubungan satu dengan yang lain. Ketika kepulauan nusantara menjadi satu bagian yang integral dalam perdagangan Asia, dengan rute perdagangan yang merentang dari Asia Barat Daya dan Asia Selatan ke Tiongkok, dan ketika pada abad ke-4 dan ke-5 rempah-rempah dari kepulauan Indonesia, seperti merica, cengkeh dan pala, menjadi komoditi penting dalam ekonomi dunia kuno, keterlibatan dalam perdagangan rempa-rempah meningkatkan mobilitas antarpulau di kalangan penduduk nusantara. [7]
Mereka yang tinggal di daerah-daerah strategis dalam jaringan perdagangan antar pulau, seperti Sulawesi Selatan, pantai timur dan barat, Pulau Jawa, Sumatra Selatan, Malaka dan Aceh, kemudian tampaknya menjadi negara-negara atau kerajaan-kerajaan dagang kecil. Tergantung keadaan, mereka mungkin telah mengalami persaingan keras namun merupakan negara-negara tetangga yang bekerja sama pula. Negara-negara ini terpusat pada kota-kota pelabuhan, dan pada umumnya tidak memiliki daerah pedalaman yang luas maupun penduduk yang padat.
Keadaan geografis yang membagi wilayah Indonesia atas kurang lebih 3.000 pulau yang tersebar disuatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3.000 mil dari timur ke barat dan lebih dari 1.000 mil dari utara ke selatan, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap terciptanya pluralitas sukubangsa di Indonesia. Ketika nenek moyang bangsa Indonesia yang sekarang ini mula-mula sekali datang secara bergelombang sebagai emigran dari daerah yang sekarang kita kenal sebagai daerah Tiongkok Selatan pada kira-kira 2.000 tahun sebelum masehi, keadaan geografis serupa itu telah memaksa mereka untuk harus tinggal menetap di daerah yang terpisah-pisah satu sama lain.[8]
Ada beberapa budaya besar (bukan dalam konteks baik dan buruk) yang terkait dan selalu dikaitkan dengan kebudayaan Indonesia dalam pencariannya, yakni istilah budaya timur, dominasi sebuah budaya lokal dan pengaruh Islam sebagai agama mayoritas. Pengaitan itu pada dasarnya bukan mengarah kepada pencarian jawaban atas apa yang dimaksud dengan kebudayaan nasional, tetapi lebih cenderung menjadi sesuatu yang dipaksakan sebagai turunan dari kepentingan ideologis, yang kemudian mengatasnamakan integrasi nasional.
Dengan perkecualian yang sangat kecil , mereka pada umumnya memiliki bahasa dan warisan kebudayaan yang sama. Lebih daripada itu, mereka biasanya mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu kepercayaan yang seringkali di dukung oleh mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat. Tentang berapa jumlah sukubangsa yang sebenarnya ada di Indonesia, ternyata terdapat berbagai-bagai pendapat yang tidak sama di antara para ahli ilmu kemasyarakatan. Hidred Geertz (1981), misalnya, menyebutkan adanya lebih dari 300 sukubangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan identitas kultural yang berbeda. Skinner, menyebutkan adanya lebih dari 35 sukubangsa menurut kajian induk bahasa dan adat yang tidak sama.
Van Vollenhoven (1926), mengemukakan sekurangnya ada 19 daerah pemetaan menurut hukum adat yang berlaku walaupun angka-angka tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan pada puluhan tahun yang lalu; akan tetapi dengan perkiraaan bahwa angka kelahiran dan angka kematian selama ini memiliki rata-rata yang sama bagi kebanyakan sukubangsa yang ada di Indonesia.

D.    Pengaruh Kebudayaan Asing
Akulturasi adalah perubahan besar yang terjadi dalam kebudayaan sebagai akibat adanya kontak antar kebudayaan yang berlangsung lama. Hal itu terjadi apabila ada kelompok-kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda saling berhubungan secara langsung dan intensif. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan pada salah satu kelompok atau keduanya. Perubahan kebudayaan akibat adanya proses akulturasi tidak mengakibatkan perubahan total pada kebudayaan yang bersangkutan, hal ini disebabkan karena ada unsur-unsur kebudayaan yang masih bertahan, masyarakatpun ada yang menerima sebagian atau mengadakan penyesuaian dengan unsur-unsur kebudayaan yang baru.
Indonesia ditandakan dengan banyaknya berhubungan dengan masyarakat asing seperti Cina, India, Persia, Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang; keberadaanmereka ternyata banyak meninggalkan unsur-unsur kebudayaan yang kemudian beberapa darinya diadopsikan dalam budaya lokal.

1.      Pengaruh India (Hindu – Budha)
Pengaruh yang pertama kali menyentuh masyarakat Indonesia berupa pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha dari India sejak 400 tahun sebelum masehi. Hinduisme dan Budhaisme, pada waktu itu tersebar meliputi daerah yang cukup luas di Indonesia, serta lebur bersama-sama dengan kebudayaan asli yang telah lama hidup. Namun demikian terutama di pulau Jawa dan pulau Bali pengaruh agama Hindu dan Budha itu tertanam dengan kuatnya sampai saat ini. Cerita seperti Mahabharata atau Ramayana sangat populer sampai sekarang, bahkan pada beberapa sukubangsa seperti Sunda, Jawa, atau Bali, pengaruh cerita-cerita itu sudah dianggap sebagai bagian atau ciri dari kebudayaannya.
2.      Pengaruh Kebudayaan Islam
Pengaruh kebudayaan Islam mulai memasuki masyatrakat Indonesia sejak abad ke 13, akan tetapi baru benar-benar mengalami proses penyebaran yang meluas sepanjang abad ke 15. Pengaruh agama Islam terutama memperoleh tanah tempat berpijak yang kokoh di daerah-daerah di mana pengaruh agama Hindu dan Budha tidak cukup kuat. Di daerah Jawa tengah dan Jawa Timur, dimana pengaruh agama Hindu dan Budha telah tertanam dengan cukup kuat, suatu kepercayaan keagamaan yang bersifat sincretic dianut oleh sejumlah besar penduduk di kedua daerah tersebut, dimana kepercayaan animisme dinamisme bercampur dengan kepercayaan agama Hindu, Budha dan Islam. Pengaruh reformasi agama Islam yang memasuki Indonesia pada permulaan abad ke 17 dan terutama pada akhir abad ke 19 itupun tidak berhasil mengubah keadaaan tersebut, kecuali memperkuat pengaruh agama Islam di daerah-daerah yang sebelumnya memang telah merupakan daerah pengaruh agama Islam.


3.      Pengaruh Kebudayaan Barat
Pengaruh kebudayaan Barat mulai memasuki masyarakat Indonesia melalui kedatangan bangsa Portugis pada permulaan abad ke 16, kedatangan mereka ke tanah Indonesia ini karena tertarik dengan kekayaan alam berupa rempah-rempah di daerah kepulauan Maluku, rempah-rempah ini adalah sebagai barang dagangan yang sedang laku keras di Eropa pada saat itu. Kegiatan misionaris yang menyertai kegiatan perdagangan mereka, dengan segera berhasil menanamkan pengaruh agama Katolik di daerah tersebut. Ketika bangsa Belanda berhasil mendesak bangsa Portugis untuk meninggalkan Indonesia pada sekitar tahun 1600 M, maka pengaruh agama Katolik pun segera digantikan oleh pengaruh agama Protestan. Namun demikian, sikap bangsa Belanda yang lebih lunak di dalam soal agama jika dibandingkan dengan bangsa Portugis, telah mengakibatkan pengaruh agama Proterstan hanya mampu memasuki daerah-daerah yang sebelumnyaa tidak cukup kuat dipengaruhi oleh agama Islam dan agama Hindu, sekalipun bangsa Belanda berhasil menanamkam kekuasaan politiknya tidak kurang selama 350 tahun lamanya di Indonesia.[9]






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kebudayaan yang beraneka ragam, tersebar luas di seluruh dunia sebagai masyarakat yang baik kita harus meneruskan kebudayaan tersebut agar tidak hilang oleh zaman.
Manusia tidak akan terlepas dari kebudaya karna manusia membutuhkan kebudayaan untuk keberlangsungan hidupnya, manusia menciptakan kebudayaan dan bergantung kepada hasil ciptaannya. Kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.
Kebudayaan di Indoenesia beraneka ragam dari sabang sampai marauke, , mereka pada umumnya memiliki bahasa dan warisan kebudayaan yang sama. Lebih daripada itu, mereka biasanya mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu kepercayaan yang seringkali di dukung oleh mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.
Kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia, kebudayaan India, kebudayaan Islam, kebudayaan Barat, di indonesia memang banyak sekali kebudayaan yang ada.









DAFTAR PUSTAKA

·         Chris Jenks, Culture Studi Kebudayaan (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2013).
·         Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT. Rineka Cipta, 2004).
·         Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasiaonal Indonesia (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009).
·         Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan “Dalam Perspektf Ilmu Budaya Dasar” (Jakarta; PT. Asdi Mahasatya, 2000).



[1] Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 28.
[2] Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2000), hlm. V.
[3] Chris Jenk, Culture Studi Kebudayaan, (Yogayakarta; Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 2.
[4] Chris Jenk, Culture Studi Kebudayaan, (Yogayakarta; Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 4-10.
[5] Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 16.
[6] Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 18.
[7] Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia, (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009), hlm. 5.
[8] Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia, (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009), hlm.    6-7.
[9] Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia, (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009), hlm.    7-9.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar