-
Kamis, 29 Desember 2011 20:13 WIBRatusan mantan pemberontak Libya yang ikut membantu mendongkel mantan Presiden Libya, Muammer Kadhafi dari pucuk
-
Rabu, 26 Oktober 2011 10:44 WIBLebih lanjut, Faraj marah dan mengeluh bahwa tidak ada ambulans yang tersedia untuk mengangkut korban luka ke rumah sakit
-
Rabu, 12 Oktober 2011 17:42 WIBSejumlah foto seksi dan vulgar istri Hannibal Khadafi, anak Muammar Khadafi, beredar dalam berbagai pose
-
Minggu, 9 Oktober 2011 23:56 WIBPasukan pemerintah sementara Libya tampak hampir menguasai sasaran utama di Sirte, kota kelahiran Kolonel Khadafi
-
Senin, 19 September 2011 15:45 WIBKelahiran pemerintahan baru Libya, dengan diumumkannya nama Menteri mengalami penundaan pada Minggu
-
Minggu, 18 September 2011 10:16 WIBPasukan Pemerintah transisi Libya, Minggu (18/9/2011), menggempur benteng pertahanan pasukan loyalis mantan Presiden Libya Moammar Khadafi
-
Rabu, 14 September 2011 17:38 WIBKementerian Luar Negeri (Kemenlu) dalam waktu dekat akan mengaktifkan kembali kegiatan KBRI di Ibu Kota Libya
-
Selasa, 13 September 2011 18:06 WIBPimpinan Dewan Peralihan Nasional (NTC) Libya, Mustafa Abdul Jalil, menyampaikan pidato pertamanya di ibu kota Tripoli
-
Senin, 12 September 2011 15:46 WIBSeorang putra pemimpin Libya Kolonel Muammar Khadafi, Saadi Khadafi, dikabarkan telah tiba di negeri tetangga Libia, Niger
-
Jumat, 9 September 2011 23:06 WIBOrganisasi polisi internasional, Interpol, mengeluarkan surat penangkapan untuk Kolonel Muammar Khadafi
-
Selasa, 6 September 2011 14:50 WIBMuammar al-Khaddafi, presiden Libya dipastikan juru bicaranya, Moussa Ibrahim dalam kesehatan terbaik.
-
Senin, 5 September 2011 07:48 WIBNegara yang tergabung dalam ASEAN mendukung semua upaya mendorong rekonsiliasi dan membentuk Libya yang demokratis
-
Senin, 5 September 2011 01:49 WIBIndonesia, selaku negara yang saat ini mengetuai lembaga negara ASEAN mengambil sikap untuk mendukung demokrasi di Libya
-
Sabtu, 3 September 2011 18:33 WIBSekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, mendesak dunia internasional untuk membantu mengembalikan stabilitas politik di Libya
-
Sabtu, 3 September 2011 10:53 WIBPemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Marty M. Natalegawa kembali menyampaikan dukungan Indonesia terhadap
-
Jumat, 2 September 2011 13:42 WIBPemimpin Libya, Muammar Gaddafi telah mengeluarkan pesan audio yang menantang, dan menuduh pasukan internasional
-
Jumat, 2 September 2011 04:17 WIBMoammar Khadafimengatakan kekuatan asing mengincar minyak Libya dan sumber daya alam negerinya.
-
Jumat, 2 September 2011 04:01 WIBPimpinan Libya yang saat ini menjadi buronan paling dicari, Muammar Khadafi, kembali bersumpah bahwa ia tidak akan menyerah
-
Jumat, 2 September 2011 00:47 WIBKhadafi menyerukan taktik gerilya melawan pemberontak. Sebuah kondisi yang berbalik, mengingat pasukan Khadafi tadinya menguasai kota
-
Kamis, 1 September 2011 20:15 WIBKeberadaan pemimpin Libya Muammar Gaddafi masih mendatangkan tanya besar. Setelah menyebutnya lari ke
-
Kamis, 1 September 2011 20:12 WIBMenteri luar negeri Aljazair pada hari Kamis membantah pernyataan bahwa Moammar Gadhafi di negaranya.
-
Kamis, 1 September 2011 14:15 WIBDua anak pemimpin Libya, Muammar Khadafi saling berseberangan dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan di negaranya.
-
Kamis, 1 September 2011 11:15 WIBPajriyah ikut bersama majikan perempuan dan keluarganya mengungsi ke Tunisia
-
Kamis, 1 September 2011 11:00 WIBKedutaan Besar RI di Tunis melaporkan berhasil mengevakuasi seorang TKW Indonesia, Pajriyah Abdullah (30)
-
Rabu, 31 Agustus 2011 13:52 WIBKorban jiwa tersebut, menurutnya merupakan masyarakat sipil, kombatan, juga dari organisasi kemanusiaan
-
Selasa, 30 Agustus 2011 05:47 WIBPerang memakan korban di kubu diktator Libya, Moamar Khadafi. Seorang putra Khadafi , Khamis Khadafi dilaporkan tewas
-
Selasa, 30 Agustus 2011 03:43 WIBKementerian luar negeri Aljazair mengatakan istri pemimpin Libya yang digulingkan Moammar Khadafi, putrinya dan dua putranya
-
Selasa, 30 Agustus 2011 01:59 WIBdiktator Libya, Moamar Khadafi dilaporkan telah kabur dan mengungsi dan kini berada di Aljazair
-
Senin, 29 Agustus 2011 19:25 WIBDewan Transisi Nasiona Libya, NTC, meminta agar NATO meneruskan dukungan militernya
-
Senin, 29 Agustus 2011 13:46 WIBKedutaan Korea Selatan di ibukota Libya, Tripoli diserang oleh para penjarah di tengah kekacauan yang timbul akibat pertempuran
Setelah lebih dari sebulan kemelut Libya tak kunjung selesai akhirnya
pelakon sesungguhnya di balik krisis Libya unjuk gigi. Tidak optimalnya
peranan pihak oposisi dan Kerajaan Arab Saudi sebagai alat Barat untuk
menurunkan sang pemimpin Libya, Muammar Ghadafi membuat pihak sekutu
dalam hal ini NATO di bawah pimpinan Perancis turun tangan juga. Hal ini
kembali menunjukan ternyata ada campur tangan asing di luar Libya yang
bermain dalam krisis yang melanda negara tersebut.
Serangan kali ini adalah serangan barat terbesar pasca
penyerangan dan pendudukan Iraq beberapa tahun yang lalu. Kalau di Iraq
dalih penyerangan adalah untuk menghukum Saddam Husein yang memiliki
senjata pemusnah massal dan pelanggaran HAM, maka di Libya pun dalihnya
adalah untuk penegakan HAM. Namun pertanyaannya, apakah sekutu memang
benar-benar ingin menghukum atas nama pelanggaran HAM atau ada agenda
lain? Media-media dunia dan lokal pun sangat getol memberitakan bahwa di
Libya terjadi pembantaian besar-besaran terhadap warga oleh militer
loyalis Muammar Ghadafi. Tapi, sesungguhnya sampai hari ini penulis
memandang belum ada bukti yang kuat untuk membenarkan berita-berita
tersebut.
Adakah ini adalah bagian dari konspirasi dunia barat
terhadap negara-negara muslim yang kaya. Hal ini tidak menutup
kemungkinan. Sebab negara-negara yang selama ini masuk dalam daftar
penyerangan AS adalah negara-negara yang memiliki potensi sumber daya
alam yang besar dan kesemuanya adalah negara muslim. Sebagai contoh,
Iraq adalah negara dengan kekayaan minyak yang besar dan salah satu
negara dengan tingkat perekonomian terkuat diantara negara-negara Arab.
Bayangkan saja, cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh negara Iraq saat
ini mencapai 115 miliar barel dengan jumlah produksi perharinya
mencapai 2,4 juta barel. Afganistan yang selama ini kita anggap sebagai
negara miskin yang tidak memiliki apa-apa ternyata memiliki cadangan
mineral sebesar $ 3 T. Dengan kekayaan sebesar itu tentunya akan dapat
menaikkan taraf hidup masyarakat Afganistan. Akan tetapi, potensi Sumber
Daya Alam tersebut saat ini telah dikuasai oleh pihak asing. Jadilah
negara ini sebagai penonton saja melihat hasil kekayaan negaranya
dieksploitasi oleh negara lain.
Negara yang saat ini dalam kemelut yaitu Libya adalah negara
penghasil minyak terbesar di Afrika. Produksi minyak hariannya mencapai
1,79 juta barel dan memiliki cadangan sebesar 44,3 miliar dollar atau
3,27% dari total proporsi cadangan minyak seluruh dunia. Jumlah cadangan
minyak dan produksi hariannya yang cukup besar tersebut mampu
mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Dari rentetan dan fakta-fakta tersebut dapat kita analisis
dengan nalar dan logika sehat bahwa sesungguhnya krisis yang terjadi di
Timur Tengah adalah sebuah rekayasa politik dan ekonomi yang memang
sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dalam teori konspirasi
disebutkan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa
(pada umumnya peristiwa politik, ekonomi, sosial, atausejarah) adalah
suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh
sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau
berpengaruh. The first actionnya adalah adanya penghancuran gedung
pencakar langit Word Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Inilah
awal dimulainya aksi tersebut dan perencanaan sesungguhnya sudah dari
sejak waktu yang lama.
Aksi penyerangan sekutu ke Libya saat ini mengatasnamakan
Hak Azasi Manusia karena sang pemimpin Libya dituduh telah melakukan
Genosida. Setidaknya itulah informasi yang kita peroleh dari sekian
banyak media di seluruh dunia. Akan tetapi, dalih sekutu tersebut
sesungguhnya adalah dalih yang dibuat-buat dan sangat lemah. Mengapa
demikian?? Sebab, jika dikatakan bahwa AS dan sekutunya peduli terhadap
pelanggaran HAM, maka yang harus terdahulu diinvansi adalah Yahudi
Israel yang telah membantai jutaan rakyat Palestina. Orang yang pertama
kali harus diadili adalah para pemimpin Israel yang telah mengarahkan
mesin-mesin pembunuhnya kepada anak-anak Palestina yang tidak berdosa.
Atau juga para pimpinan militer negara-negara sekutu sendiri yang telah
melanggar hak asasi dan kedaulatan rakyat Iraq, Afganistan, Pakistan,
dll.
Bukan suatu bentuk pembelaan kepada Ghadafi sebenarnya saya
menulis tulisan ini. Tidak dipungkiri selama kepemimpinan Ghadafi tentu
banyak pelanggaran yang dilakukannya. Akan tetapi, ternyata kerugian
yang diciptakan oleh AS dan sekutunya terhadap rakyat akibat penyerangan
Libya jauh lebih besar dari kerugian sebelum tentara koalisi menyerang.
Dalam konteks keadilan, maka apa yang dilakukan oleh sekutu adalah
sebuah bentuk ketidakadilan internasional. Hal ini tidak dapat
dilepaskan dari agenda Barat untuk menguasai ladang minyak di Timur
Tengah.
Dalam penyerangan kali ini memang Amerika Serikat tidak
terjun langsung. Akan tetapi, negara ini adalah negara penyokong nomor
satu dari tindakan barbar tentara sekutu. Upaya pembagian dan
pemcabik-cabikan wilayah merupakan strategi lama kaum imperialis. Lagi
pula, yang memiliki kepentingan langsung dengan minyak Libya adalah
negara-negara Eropa. Maka, untuk menciptakan citra positifnya AS tidak
terjun langsung dalam agresi kali ini.
Lebih parahnya lagi, negara-negara di dunia telah terseret
arus opini yang telah dibuat oleh media pro-barat sehingga menghalalkan
apa yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya. Melalui legitimasi dan
dukungan PBB, sekutu secara leluasa menghantam semua sasarannya dan
bukan tidak mungkin suatu hari Indonesia akan menjadi target juga.
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
Setelah lebih dari sebulan kemelut Libya tak kunjung selesai akhirnya
pelakon sesungguhnya di balik krisis Libya unjuk gigi. Tidak optimalnya
peranan pihak oposisi dan Kerajaan Arab Saudi sebagai alat Barat untuk
menurunkan sang pemimpin Libya, Muammar Ghadafi membuat pihak sekutu
dalam hal ini NATO di bawah pimpinan Perancis turun tangan juga. Hal ini
kembali menunjukan ternyata ada campur tangan asing di luar Libya yang
bermain dalam krisis yang melanda negara tersebut.
Serangan kali ini adalah serangan barat terbesar pasca
penyerangan dan pendudukan Iraq beberapa tahun yang lalu. Kalau di Iraq
dalih penyerangan adalah untuk menghukum Saddam Husein yang memiliki
senjata pemusnah massal dan pelanggaran HAM, maka di Libya pun dalihnya
adalah untuk penegakan HAM. Namun pertanyaannya, apakah sekutu memang
benar-benar ingin menghukum atas nama pelanggaran HAM atau ada agenda
lain? Media-media dunia dan lokal pun sangat getol memberitakan bahwa di
Libya terjadi pembantaian besar-besaran terhadap warga oleh militer
loyalis Muammar Ghadafi. Tapi, sesungguhnya sampai hari ini penulis
memandang belum ada bukti yang kuat untuk membenarkan berita-berita
tersebut.
Adakah ini adalah bagian dari konspirasi dunia barat
terhadap negara-negara muslim yang kaya. Hal ini tidak menutup
kemungkinan. Sebab negara-negara yang selama ini masuk dalam daftar
penyerangan AS adalah negara-negara yang memiliki potensi sumber daya
alam yang besar dan kesemuanya adalah negara muslim. Sebagai contoh,
Iraq adalah negara dengan kekayaan minyak yang besar dan salah satu
negara dengan tingkat perekonomian terkuat diantara negara-negara Arab.
Bayangkan saja, cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh negara Iraq saat
ini mencapai 115 miliar barel dengan jumlah produksi perharinya
mencapai 2,4 juta barel. Afganistan yang selama ini kita anggap sebagai
negara miskin yang tidak memiliki apa-apa ternyata memiliki cadangan
mineral sebesar $ 3 T. Dengan kekayaan sebesar itu tentunya akan dapat
menaikkan taraf hidup masyarakat Afganistan. Akan tetapi, potensi Sumber
Daya Alam tersebut saat ini telah dikuasai oleh pihak asing. Jadilah
negara ini sebagai penonton saja melihat hasil kekayaan negaranya
dieksploitasi oleh negara lain.
Negara yang saat ini dalam kemelut yaitu Libya adalah negara
penghasil minyak terbesar di Afrika. Produksi minyak hariannya mencapai
1,79 juta barel dan memiliki cadangan sebesar 44,3 miliar dollar atau
3,27% dari total proporsi cadangan minyak seluruh dunia. Jumlah cadangan
minyak dan produksi hariannya yang cukup besar tersebut mampu
mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Dari rentetan dan fakta-fakta tersebut dapat kita analisis
dengan nalar dan logika sehat bahwa sesungguhnya krisis yang terjadi di
Timur Tengah adalah sebuah rekayasa politik dan ekonomi yang memang
sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dalam teori konspirasi
disebutkan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa
(pada umumnya peristiwa politik, ekonomi, sosial, atausejarah) adalah
suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh
sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau
berpengaruh. The first actionnya adalah adanya penghancuran gedung
pencakar langit Word Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Inilah
awal dimulainya aksi tersebut dan perencanaan sesungguhnya sudah dari
sejak waktu yang lama.
Aksi penyerangan sekutu ke Libya saat ini mengatasnamakan
Hak Azasi Manusia karena sang pemimpin Libya dituduh telah melakukan
Genosida. Setidaknya itulah informasi yang kita peroleh dari sekian
banyak media di seluruh dunia. Akan tetapi, dalih sekutu tersebut
sesungguhnya adalah dalih yang dibuat-buat dan sangat lemah. Mengapa
demikian?? Sebab, jika dikatakan bahwa AS dan sekutunya peduli terhadap
pelanggaran HAM, maka yang harus terdahulu diinvansi adalah Yahudi
Israel yang telah membantai jutaan rakyat Palestina. Orang yang pertama
kali harus diadili adalah para pemimpin Israel yang telah mengarahkan
mesin-mesin pembunuhnya kepada anak-anak Palestina yang tidak berdosa.
Atau juga para pimpinan militer negara-negara sekutu sendiri yang telah
melanggar hak asasi dan kedaulatan rakyat Iraq, Afganistan, Pakistan,
dll.
Bukan suatu bentuk pembelaan kepada Ghadafi sebenarnya saya
menulis tulisan ini. Tidak dipungkiri selama kepemimpinan Ghadafi tentu
banyak pelanggaran yang dilakukannya. Akan tetapi, ternyata kerugian
yang diciptakan oleh AS dan sekutunya terhadap rakyat akibat penyerangan
Libya jauh lebih besar dari kerugian sebelum tentara koalisi menyerang.
Dalam konteks keadilan, maka apa yang dilakukan oleh sekutu adalah
sebuah bentuk ketidakadilan internasional. Hal ini tidak dapat
dilepaskan dari agenda Barat untuk menguasai ladang minyak di Timur
Tengah.
Dalam penyerangan kali ini memang Amerika Serikat tidak
terjun langsung. Akan tetapi, negara ini adalah negara penyokong nomor
satu dari tindakan barbar tentara sekutu. Upaya pembagian dan
pemcabik-cabikan wilayah merupakan strategi lama kaum imperialis. Lagi
pula, yang memiliki kepentingan langsung dengan minyak Libya adalah
negara-negara Eropa. Maka, untuk menciptakan citra positifnya AS tidak
terjun langsung dalam agresi kali ini.
Lebih parahnya lagi, negara-negara di dunia telah terseret
arus opini yang telah dibuat oleh media pro-barat sehingga menghalalkan
apa yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya. Melalui legitimasi dan
dukungan PBB, sekutu secara leluasa menghantam semua sasarannya dan
bukan tidak mungkin suatu hari Indonesia akan menjadi target juga.
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
Setelah lebih dari sebulan kemelut Libya tak kunjung selesai akhirnya
pelakon sesungguhnya di balik krisis Libya unjuk gigi. Tidak optimalnya
peranan pihak oposisi dan Kerajaan Arab Saudi sebagai alat Barat untuk
menurunkan sang pemimpin Libya, Muammar Ghadafi membuat pihak sekutu
dalam hal ini NATO di bawah pimpinan Perancis turun tangan juga. Hal ini
kembali menunjukan ternyata ada campur tangan asing di luar Libya yang
bermain dalam krisis yang melanda negara tersebut.
Serangan kali ini adalah serangan barat terbesar pasca
penyerangan dan pendudukan Iraq beberapa tahun yang lalu. Kalau di Iraq
dalih penyerangan adalah untuk menghukum Saddam Husein yang memiliki
senjata pemusnah massal dan pelanggaran HAM, maka di Libya pun dalihnya
adalah untuk penegakan HAM. Namun pertanyaannya, apakah sekutu memang
benar-benar ingin menghukum atas nama pelanggaran HAM atau ada agenda
lain? Media-media dunia dan lokal pun sangat getol memberitakan bahwa di
Libya terjadi pembantaian besar-besaran terhadap warga oleh militer
loyalis Muammar Ghadafi. Tapi, sesungguhnya sampai hari ini penulis
memandang belum ada bukti yang kuat untuk membenarkan berita-berita
tersebut.
Adakah ini adalah bagian dari konspirasi dunia barat
terhadap negara-negara muslim yang kaya. Hal ini tidak menutup
kemungkinan. Sebab negara-negara yang selama ini masuk dalam daftar
penyerangan AS adalah negara-negara yang memiliki potensi sumber daya
alam yang besar dan kesemuanya adalah negara muslim. Sebagai contoh,
Iraq adalah negara dengan kekayaan minyak yang besar dan salah satu
negara dengan tingkat perekonomian terkuat diantara negara-negara Arab.
Bayangkan saja, cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh negara Iraq saat
ini mencapai 115 miliar barel dengan jumlah produksi perharinya
mencapai 2,4 juta barel. Afganistan yang selama ini kita anggap sebagai
negara miskin yang tidak memiliki apa-apa ternyata memiliki cadangan
mineral sebesar $ 3 T. Dengan kekayaan sebesar itu tentunya akan dapat
menaikkan taraf hidup masyarakat Afganistan. Akan tetapi, potensi Sumber
Daya Alam tersebut saat ini telah dikuasai oleh pihak asing. Jadilah
negara ini sebagai penonton saja melihat hasil kekayaan negaranya
dieksploitasi oleh negara lain.
Negara yang saat ini dalam kemelut yaitu Libya adalah negara
penghasil minyak terbesar di Afrika. Produksi minyak hariannya mencapai
1,79 juta barel dan memiliki cadangan sebesar 44,3 miliar dollar atau
3,27% dari total proporsi cadangan minyak seluruh dunia. Jumlah cadangan
minyak dan produksi hariannya yang cukup besar tersebut mampu
mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Dari rentetan dan fakta-fakta tersebut dapat kita analisis
dengan nalar dan logika sehat bahwa sesungguhnya krisis yang terjadi di
Timur Tengah adalah sebuah rekayasa politik dan ekonomi yang memang
sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dalam teori konspirasi
disebutkan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa
(pada umumnya peristiwa politik, ekonomi, sosial, atausejarah) adalah
suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh
sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau
berpengaruh. The first actionnya adalah adanya penghancuran gedung
pencakar langit Word Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Inilah
awal dimulainya aksi tersebut dan perencanaan sesungguhnya sudah dari
sejak waktu yang lama.
Aksi penyerangan sekutu ke Libya saat ini mengatasnamakan
Hak Azasi Manusia karena sang pemimpin Libya dituduh telah melakukan
Genosida. Setidaknya itulah informasi yang kita peroleh dari sekian
banyak media di seluruh dunia. Akan tetapi, dalih sekutu tersebut
sesungguhnya adalah dalih yang dibuat-buat dan sangat lemah. Mengapa
demikian?? Sebab, jika dikatakan bahwa AS dan sekutunya peduli terhadap
pelanggaran HAM, maka yang harus terdahulu diinvansi adalah Yahudi
Israel yang telah membantai jutaan rakyat Palestina. Orang yang pertama
kali harus diadili adalah para pemimpin Israel yang telah mengarahkan
mesin-mesin pembunuhnya kepada anak-anak Palestina yang tidak berdosa.
Atau juga para pimpinan militer negara-negara sekutu sendiri yang telah
melanggar hak asasi dan kedaulatan rakyat Iraq, Afganistan, Pakistan,
dll.
Bukan suatu bentuk pembelaan kepada Ghadafi sebenarnya saya
menulis tulisan ini. Tidak dipungkiri selama kepemimpinan Ghadafi tentu
banyak pelanggaran yang dilakukannya. Akan tetapi, ternyata kerugian
yang diciptakan oleh AS dan sekutunya terhadap rakyat akibat penyerangan
Libya jauh lebih besar dari kerugian sebelum tentara koalisi menyerang.
Dalam konteks keadilan, maka apa yang dilakukan oleh sekutu adalah
sebuah bentuk ketidakadilan internasional. Hal ini tidak dapat
dilepaskan dari agenda Barat untuk menguasai ladang minyak di Timur
Tengah.
Dalam penyerangan kali ini memang Amerika Serikat tidak
terjun langsung. Akan tetapi, negara ini adalah negara penyokong nomor
satu dari tindakan barbar tentara sekutu. Upaya pembagian dan
pemcabik-cabikan wilayah merupakan strategi lama kaum imperialis. Lagi
pula, yang memiliki kepentingan langsung dengan minyak Libya adalah
negara-negara Eropa. Maka, untuk menciptakan citra positifnya AS tidak
terjun langsung dalam agresi kali ini.
Lebih parahnya lagi, negara-negara di dunia telah terseret
arus opini yang telah dibuat oleh media pro-barat sehingga menghalalkan
apa yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya. Melalui legitimasi dan
dukungan PBB, sekutu secara leluasa menghantam semua sasarannya dan
bukan tidak mungkin suatu hari Indonesia akan menjadi target juga.
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
Setelah lebih dari sebulan kemelut Libya tak kunjung selesai akhirnya
pelakon sesungguhnya di balik krisis Libya unjuk gigi. Tidak optimalnya
peranan pihak oposisi dan Kerajaan Arab Saudi sebagai alat Barat untuk
menurunkan sang pemimpin Libya, Muammar Ghadafi membuat pihak sekutu
dalam hal ini NATO di bawah pimpinan Perancis turun tangan juga. Hal ini
kembali menunjukan ternyata ada campur tangan asing di luar Libya yang
bermain dalam krisis yang melanda negara tersebut.
Serangan kali ini adalah serangan barat terbesar pasca
penyerangan dan pendudukan Iraq beberapa tahun yang lalu. Kalau di Iraq
dalih penyerangan adalah untuk menghukum Saddam Husein yang memiliki
senjata pemusnah massal dan pelanggaran HAM, maka di Libya pun dalihnya
adalah untuk penegakan HAM. Namun pertanyaannya, apakah sekutu memang
benar-benar ingin menghukum atas nama pelanggaran HAM atau ada agenda
lain? Media-media dunia dan lokal pun sangat getol memberitakan bahwa di
Libya terjadi pembantaian besar-besaran terhadap warga oleh militer
loyalis Muammar Ghadafi. Tapi, sesungguhnya sampai hari ini penulis
memandang belum ada bukti yang kuat untuk membenarkan berita-berita
tersebut.
Adakah ini adalah bagian dari konspirasi dunia barat
terhadap negara-negara muslim yang kaya. Hal ini tidak menutup
kemungkinan. Sebab negara-negara yang selama ini masuk dalam daftar
penyerangan AS adalah negara-negara yang memiliki potensi sumber daya
alam yang besar dan kesemuanya adalah negara muslim. Sebagai contoh,
Iraq adalah negara dengan kekayaan minyak yang besar dan salah satu
negara dengan tingkat perekonomian terkuat diantara negara-negara Arab.
Bayangkan saja, cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh negara Iraq saat
ini mencapai 115 miliar barel dengan jumlah produksi perharinya
mencapai 2,4 juta barel. Afganistan yang selama ini kita anggap sebagai
negara miskin yang tidak memiliki apa-apa ternyata memiliki cadangan
mineral sebesar $ 3 T. Dengan kekayaan sebesar itu tentunya akan dapat
menaikkan taraf hidup masyarakat Afganistan. Akan tetapi, potensi Sumber
Daya Alam tersebut saat ini telah dikuasai oleh pihak asing. Jadilah
negara ini sebagai penonton saja melihat hasil kekayaan negaranya
dieksploitasi oleh negara lain.
Negara yang saat ini dalam kemelut yaitu Libya adalah negara
penghasil minyak terbesar di Afrika. Produksi minyak hariannya mencapai
1,79 juta barel dan memiliki cadangan sebesar 44,3 miliar dollar atau
3,27% dari total proporsi cadangan minyak seluruh dunia. Jumlah cadangan
minyak dan produksi hariannya yang cukup besar tersebut mampu
mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Dari rentetan dan fakta-fakta tersebut dapat kita analisis
dengan nalar dan logika sehat bahwa sesungguhnya krisis yang terjadi di
Timur Tengah adalah sebuah rekayasa politik dan ekonomi yang memang
sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Dalam teori konspirasi
disebutkan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa
(pada umumnya peristiwa politik, ekonomi, sosial, atausejarah) adalah
suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh
sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau
berpengaruh. The first actionnya adalah adanya penghancuran gedung
pencakar langit Word Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Inilah
awal dimulainya aksi tersebut dan perencanaan sesungguhnya sudah dari
sejak waktu yang lama.
Aksi penyerangan sekutu ke Libya saat ini mengatasnamakan
Hak Azasi Manusia karena sang pemimpin Libya dituduh telah melakukan
Genosida. Setidaknya itulah informasi yang kita peroleh dari sekian
banyak media di seluruh dunia. Akan tetapi, dalih sekutu tersebut
sesungguhnya adalah dalih yang dibuat-buat dan sangat lemah. Mengapa
demikian?? Sebab, jika dikatakan bahwa AS dan sekutunya peduli terhadap
pelanggaran HAM, maka yang harus terdahulu diinvansi adalah Yahudi
Israel yang telah membantai jutaan rakyat Palestina. Orang yang pertama
kali harus diadili adalah para pemimpin Israel yang telah mengarahkan
mesin-mesin pembunuhnya kepada anak-anak Palestina yang tidak berdosa.
Atau juga para pimpinan militer negara-negara sekutu sendiri yang telah
melanggar hak asasi dan kedaulatan rakyat Iraq, Afganistan, Pakistan,
dll.
Bukan suatu bentuk pembelaan kepada Ghadafi sebenarnya saya
menulis tulisan ini. Tidak dipungkiri selama kepemimpinan Ghadafi tentu
banyak pelanggaran yang dilakukannya. Akan tetapi, ternyata kerugian
yang diciptakan oleh AS dan sekutunya terhadap rakyat akibat penyerangan
Libya jauh lebih besar dari kerugian sebelum tentara koalisi menyerang.
Dalam konteks keadilan, maka apa yang dilakukan oleh sekutu adalah
sebuah bentuk ketidakadilan internasional. Hal ini tidak dapat
dilepaskan dari agenda Barat untuk menguasai ladang minyak di Timur
Tengah.
Dalam penyerangan kali ini memang Amerika Serikat tidak
terjun langsung. Akan tetapi, negara ini adalah negara penyokong nomor
satu dari tindakan barbar tentara sekutu. Upaya pembagian dan
pemcabik-cabikan wilayah merupakan strategi lama kaum imperialis. Lagi
pula, yang memiliki kepentingan langsung dengan minyak Libya adalah
negara-negara Eropa. Maka, untuk menciptakan citra positifnya AS tidak
terjun langsung dalam agresi kali ini.
Lebih parahnya lagi, negara-negara di dunia telah terseret
arus opini yang telah dibuat oleh media pro-barat sehingga menghalalkan
apa yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya. Melalui legitimasi dan
dukungan PBB, sekutu secara leluasa menghantam semua sasarannya dan
bukan tidak mungkin suatu hari Indonesia akan menjadi target juga.
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html
zonakuerror© http://zonakuerror.blogspot.com/2011/03/perang-libya-sebuah-rekayasa-konspirasi.html










