Kamis, 27 September 2018

Konsep Alam Menurut Al-Qur'an


BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Alam semesta adalah sebuah sesuatu yang mencakup Mikrokosmos dan Makrokosmos.Para ahli astronomi menggunakan istilah alam semesta dengan penegertian ruang angkasa yang terdapat benda langit yang ada didalamnya. Alam semesta menurut orang Baby Lonia merupakn suatu ruangan atau selengkup dengan bumi yang datar sebagi lantainya dan beserta bintang sebagai atapnya.
Menurut pendapat lain, alam merupakan segalanya selain Allah yang sifatnya baru, memerlukan yang lain yang dapat berubah. Alam semesta terdiri dari berbagai aspek, termasuk tenaga dan radiasi serta hal yang telah diketahui dan baru dalam tahap percaya bahwa pasti ada di antariksa.
Oleh karena itu para ilmuwan Barat penasaran dengan terbentuknya alam semesta. Hal ini yang memicu muncul teori-teori tentang alam semesta. Teori alam semesta misalnya Teori keadaan tetap ( Steady-State Theory) dan teori dentumn besar ( Big-bang Theory).
Dalam penulisan ini akan menyampaikan tentang keadaan alam semesta dan pembentukannya menurut Islam dan Barat. Karena alam semesta adalah suatu tempat yang sangat luas yang banyak orang merasa penasaran akan terbentuknya alam semesta dan segala isinya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah alam semesta mempengaruhi kehidupan manusia?
2.      Apakah manusia dapat memahami alam semesta yang ada saat ini?





BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian alam
Alam semesta, menurut orang Babylonia, merupakan suatu ruangan atau selungkap dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit beserta bintang sebagai atapnya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah suatu ruangan yang maha  besar yang di dalamnya terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik, serta didalamnya terjadi segala peristiwa alam baik yang dapat diungkapkan manusia maupun yang tidak. Apabila kita hendak mempelajari alam semesta mempelajari makro-kosmos. Sebaliknya apabila mempelajari permasalahan kecil, berarti kita mempelajari mikro-kosmos.[1]
                Alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Telah diteliti oleh ilmuwan dari berbagai belahan bumi ini, terutama sejak Morley dan Michelson pada tahun 1905, yang mendorong Einstein melahirkan teori “Relativitasnya”. Demikian juga, dengan Gamov pada tahun 1952 yang berpendapat pada suatu saat seluruh alam ini semakin mengecil volumenya yang lahir dari ledakan maha dahsyat dari suatu titik dan mengembnag sebagaimana diteliti oleh hubble.[2]
B.     Alam menurut Islam
Alam semesta adalah identik dengan jagat raya, yang dalam bahsa inggris diistilahkan dengan universe. Istilah ini dialihbahasakan ke dalam bahasa arab sebagai alam dalam Al-Quran ditemukan hanya dalam bentuk jamak ‘alamin sebanyak 73 kali yang tersebar pada 30 surat. Dalam hal penciptaan alam semesta, terdapat beberapa lafazh yang dapat digunakan untuk melacak konsep penciptaan alam semesta menurut al Qur’an yaitu : khalaqa, ja’ala, bada’a, fathara, dan shana’a, namun lafazh yang dipakaikan dengan obyek alam semesta (universe) adalah khalaqa.[3]


هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَـكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاثُمَّ اسْتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ  ۗ  وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“ Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah daripada apa yang mereka persekutukan ” QS. Al-Baqarah: 29.
Ada juga dalam surat An-Nahl: 3, yang berbunyi
خَلَقَ  السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَـقِّ ۗ  تَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“ Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Al Qur’an didapati kesimpulan yang cukup besar peluang kebenarannya bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalam Al Qur’an. Gambaran jelasnya, bahwa semua proses alam semesta ini mengikuti dan mengekor pada segala yang tertuang dalam Al Qur’an, apakah diketahui atau tidak tabir rahasianya oleh manusia. Dengan kata lain, kejadian dunia ini adalah sebagai “cermin manifestasi” dan “kenyataan lahir” dari rencana Allah yang sebenarnya sudah diberitahukan kepada manusia lewat Al Qur’an, sebelum kejadian tersebut terjadi, dengan tidak ada tekanan apakah manusia mau atau tidak memahaminya guna mendapatkan takwil isyarat-Nya.
Al Qur’an diturunkan bukan hanya kepada umat Islam, tetapi sebagai mediator menyampaikan pesan Tuhan Pencipta Alam kepada semua makhluk-Nya. Al Qur’an yang sedemikian sempurna ini memberi kabar dan cerita semua kejadian di alam semesta ini. Kemukjizatan Al-Qur'an ditandai dengan keorisinilannya sejak diturunkan . Kitab suci ini juga tidak dapat ditandingi oleh siapa pun di dunia ini hingga akhir zaman. Ia tidak akan lekang dimakan pergeseran masa dan dapat diuji dari sudut mana pun  juga. Sekarang pun, saat ilmu pengetahuan berkembang pesat, ternyata Al-Qur'an sanggup menjawab tantangan sains modern. Salah satu hal yang membuat takjub para ilmuwan adalah adanya persesuaian antara konsep penciptaan alam semesta menurut Al-Qur'an dan sains (ilmu pengetahuan) modern. Dalam pandangan sains modern, pada awalnya alam semesta ini masih berupa kabut gas yang panas dan kemudian terpisah. Terpisahnya kabut gas ini merupakan proses awal terciptanya galaksi-galaksi. Dari pecahan-pecahan kabut gas tersebut selanjutnya melalui proses evolusi terbentuk milyaran matahari dengan planet-planetnya, termasuk bumi yang kita huni ini. Ilmuwan cerdas yang pertama kali mengemukakan teori di atas bernama Laplace dari Perancis dan Immanue Kant dari Jerman. Meskipun demikian, ratusan tahun sebelum ilmuwan itu mengemukakan teorinya, Al-Qur'an telah menyebutkan secara gamblang. [4]
C.    Alam menurut Barat
Terbentuknya alam semesta kesan umum luas dan megahnya alam semesta diperoleh penghuni bumi dengan memandang langit malam yang cerah tanpa cahaya Bulan. Langit tampak penuh taburan bintang yang seolah tak terhitung jumlahnya. Struktur dan luas alam semesta sangat sukar dibayangkan manusia, dan progres persepsi dan rasionalitas manusia tentangitumemerlukanwaktuberabad-abad.
Manusia sebagai mahluk Tuhan yang berakal budi dan sebagai penghuni alam semesta selalu tergoda oleh rasa ingin tahunya untuk mencari penjelasan tentang makna dari hal-hal yang diamati. Dengan diperolehnya berbagai pesan dan beraneka ragam cahaya dari benda-benda langit yang sampai dibumi timbullah beberapa teori yang mengungkapan tentang terbentuknya alam semesta. teori tersebut dikelompokan menjadi 4 :
a)      Teori Keadaan Tetap
Teori ini menyatakan bahwa tiap-tiap galaksi terbentuk (lahir), tumbuh menjadi tua, dan akhirnya mati. Jadi teori ini beranggapan bahwa alam semesta itu tak terhingga besarnya dan tak terhingga tuanya (tanpa awal dan akhir), sehingga teori ini beranggapan bahwa alam semesta ini sudah ada selamanya dalam susunan seperti sekarang ini, dan zat-zat terus terbentuk.
b)      Teori Dentuman Besar
Teori ini belandaskan dari asumsi massa yang sangat besar dan mempunyai massa jenis yang sangat besar. Karena adanya reaksi inti kemudian meledak dengan hebat. Masa tersebut kemudian mengembang dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan. Teori ini dikembangkan berdasarkan pemikiran yang menggunakan hukum fisika dan teori pemuaian Edwin Hublle.
Menurut teori ini, ada dua massa penting yang berlangsung selama sejarah awal alam semesta.
1) Era radiasi dari saat alam semesta baru lahir sedetik sampai sejuta tahun kemudian.
2) Era pendinginan dari alam semesta berumur sejuta tahun dan terus berlanjut selama gerak memuai alam semesta yang diikuti dengan alam senyapa gema sisa detuman besar. Sisa gema itu akan terangkap dalam bentuk radiasi bersuhu 5K<0C(273 K)
.
c)      Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori ini diambil berdasarkan adanya siklus dari alam semesta yaitu masa ekspansi dan masa kontraksi dalam jangka waktu tiga puluh ribu tahun. Dalam masa ekspansi terbentuklah galakis beserta bintang-bintangnya.ekspansi tersebut didukung oleh tenaga yang bersumber dari reaksi inti hydrogen yang akhirnya membentuk berbagai unsure lain yang kompleks. Pada masa kontraksi terjadi galaksi dan bintang-bintang yang terbentuknya meredup sehingga unsur-unsur menyusut menimbulkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Teori ekspansi dan kontraksi menguatkan asumsi bahwa partikel tersebut, berasal dari pratikel yang ada pada zaman dahulu kala.
d)      Oscillating Theory
Yaitu pendapat yang mengatakan bahwa alam semesta ini tetap dalam keadaan melar dan menciut dalam jangka ribuan juta tahun. Berdasarkan teori-teori sebagaiman disebutkan di atas adalah merupakan hasil pemikiran manusia, bahwa pada hakikatnya terjadinya alam semesta ini adalah bukan terjadi tanpa rencana besar yang tentu disiapkan oleh pencipta alam semesta itu sendiri yang agung, yang maha benar atas segala sesuatu. Pada tahun 1543 Copernicus mengemukakan pendapatnya bahwa matahari sebagai pusat dari sistem tata surya yang dikenal dengan heliocentris.[5]
D.    Terbentuknya Alam Semesta & Penghuninya
Allah telah proses penciptaan bumi. Dan Allah telah memberitahukan kepada umatnya mengenai penciptaan bumi dan alam semesta melalui Al Qur’an . Kitab suci umat islam inilah sumber dari segala macam ilmu pengetahuan. Dalam surat An Naaziat (79) ayat 27-33 menerangkan proses penciptaan bumi dan alam semesta. Dalam ayat tersebut tertulis bumi dan alam semesta tercipta dalam enam masa. Masih dalam perdebatan mengenai enam masa yang dimaksud. Entah  itu enam tahun, enam hari, enam periode, ataupun enam tahapan.
Teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. FredHoyle bertahan menghadapi semuakeberatan terhadap teori ini, sementarabukti-bukti yang berlawanan mulaiterungkap. Selanjutnya, Sciama berceritabahwa pertama-tama ia menentang bersamaHoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulaibertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatantersebut telah selesai dan teori keadaan ajegharus dihapuskan. Prof. George Abel dariUniversity of California juga mengatakanbahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkanbahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan dentuman besar. Dia mengakui bahwa dia tidakmemiliki pilihan lain kecuali menerima teori dentuman besar. Dengan kemenangan teori dentuman besar, konsep “zat yangkekal” yang merupakan dasar filosofimaterialis dibuang ke tumpukan sampahsejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum dentuman besar, dan kekuatan apakah yangmenjadikan alam semesta ini “ada” melaluisebuah dentum-an besar, jika sebelumnyaalam semesta ini “tidak ada”? Pertanyaan inijelas menyiratkan, dalam kata-kata ArthurEddington, adanya fakta “yang tidakmenguntungkan secara filosofis” (tidakmenguntungkan bagi materialis), yaituadanya Sang Pencipta.
“Sesungguhnya dalam penciptaan tata kerja langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yangberguna bagi manusia, dan apa yang Allah Turunkan dari langit berupaair itu Dia hidup kan bumi sesudah mati (kering)-Nya, dan Dia sebarkan dibumi itusegala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yangdikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al- Baqarah: 164).7
Setiap muslim percaya bahwa tata kerja alam raya berjalan konsisten sesuai
dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Semua proses penciptaan
alam semesta ini berada dalam kendali dan perintah sang Maha pencipta, dengan
bentuk yang sempurna. Hukum dan fenomenanya teratur dan dapat meliputi ruang
yang maha luas sampai pada unsur yang terkecil di alam semesta, semua itu tundukkepada satu pola dan susunan yang sama. Sungguh hanya Allah yang menciptakan
alam semesta ini dengan berjuta galaksi, bintang dan planet yang taat pada aturan
yang ditetapkan untuk mereka secara sempurna.
Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menganjurkan manusia untuk berfikir,meneliti dan mengkaji penciptaan alam semesta serta hukum-hukum yang berlaku didalamnya. Ditegaskan pula kegiatan dan kajian terhadap penciptaan alam besertahukum-hukumnya yang berlaku merupakan usaha pemenuhan kebutuhan manusia itusendiri. Sebab manusia akan mendapat banyak manfaat dari kegiatan tersebut, baikuntuk kepentingan kehidupan dunia maupun kepentingan akhirat. Setiap kalipenelitian yang dilakukan manusia untuk mengungkap rahasia-rahasia hukum alam,semakin disadari betapa rapi, teratur dan menakjubkan penciptaan alam tersebut.
E.     Teori Evolusi
Teori Evolusi menjawab pertanyaan mengapa terjadi evolusi?
1.      Teori Lamarck (1744-1829)
Menurut Lamarck evolusi terjadi karena adaptasi, sedangkan adaptasi timbul karena diinginkan, yaitu perubahan struktur atau bentuk yang terjadi karena adanya keinginan yang timbul dari dalam untuk menghadapi perubahan lingkungan. Menurutnya, tingkatperkembangan suatu organ sebanding dengan penggunaanya dan apa yang diperboleh atau diubah pada individu dalam masa hidupnya adalah kekal, dan bilamana terdapat dalam dua jenis kelamin, sifat itu akan diturunkan.
2.      Teori Darwin (1809-1882)
Darwinlah yang membuka tabir misteri ini. Mwnurutnya, organisme menjadi sesuai dengan lingkunganya dalam proses evolusi dan proses ini dikendalikan oleh seleksi alam.
Teori pokok Darwin menyatakan bahwa :
a)      Spesies yang hidup sekarang sekarang berasal dari spesies yang hidup pada masa lampau.
b)      Evolusi terjadi melalui seleksi alam.
3.      Teori Darwin-Wiesmann
Pada zaman Darwin belum diketahui khromosom dan gen sebagai asal dari sifat keturunan. Wiesmann melengkapi teori Darwin dengan pernyataan sebagai berikut:
·         Evolusi merupakan masalah genetika yaitu menyangkut masalah bagaimana diwariskan gen-gen melalui sel-sel kelamin.
·         Sel-sel tubuh tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, evolusi adalah gejala seleksi alam.
4.      Teori De Vries
De Vries, seorang botanikus Belanda, mengungkapkan teorinya bahwa perubahan pada evolusi disebabkan oleh adanya mutasi gen. Mutasiadalah perubahan sempurna, yang tumbuh dalam gen dan mengakibatkan adanya perubahan sifat dan keturunanya.[6]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Akan kah kita ragu tentang kekuasaannya sedangkan di dalam Al-Qur’an sudah banyak di jelaskan tentang penciptaan alam seperti yang di jelaskan di atas, alam semesta yang berasal dari ketiadaan menjadi ada (terjadinya proses penciptaan) oleh Allah SWT. Al-Qur’an lebih dahulu menjelaskan tentang proses penciptaan alam sebelum ilmu pengetahuan mencapainya, penciptaan alam semesta itu terjadi secara berproses (berkembang) dan kebenaran Al-Qur’an itu sudah bisa dibuktikan adanya kebenarannya dengan ilmu sains.
Ilmu sains yang berkembang di Barat juga telah meguatkan dari adanya penciptaan alam semesta ini. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya teori-teori yang telah di kemukakan oleh para ahli.

B.     Saran
Dari uraian di atas dapat menjadikan pelajaran bagi pembacaa bahwa alam itu harus di jaga bukan untuk di rusak dan dapat dijadikan referensi penulisan serupa.
















DAFTAR PUSTAKA

·         Herabudin, Ilmu Alamiah Dasar, Pustaka Setia, Bandung, 2013

·         Mawardi & Hidayati, Nur, Ilmu Alamaiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, Bandung,
2009

·         Edy Chandra, “Alam semesta dalam perspektif Al-Quran”, diakses dari

·         Keluarga ikmal,”Penciptaan Alam Semesta dari Perspektif Islam dan Barat”, diakses dari

·         Ade Jamarudin,” Konsep Alam Semesta Menurut Al-Quran”. Vol. XVI No.2, 2010.





[1]Ilmu Alamaiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, Bandung, Mawardi & Nur hidayati, 2009.27
[2]Ilmu Alamaiah Dasar , Bandung, Herabudin, 2013.124-125
[3] Edy Chandra, “Alam semesta dalam perspektif Al-Quran”, diakses dari
[4] Ade Jamarudin,” Konsep Alam Semesta Menurut Al-Quran”. Vol. XVI No.2, 2010.
[5] Keluarga ikmal,”Penciptaan Alam Semesta dari Perspektif Islam dan Barat”, diakses dari https://www.google.com/amp/s/keluargaikmal.wordpress.com/2012/07/04/penciptaan-alam-semesta-ditinjau-dari-perspektif-sains-islam-dan-barat/amp/, pada tanggal 22 Februari 2018 pukul 20.00.


[6] Ilmu Alamaiah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar, Bandung, Mawardi & Nur hidayati, 2009.59.

Kebudayaan


BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Budaya berasal dari kata budi-daya yang asal muasalanya dari bahasa sansekerta yang dalam arti bahasa Indonesianya adalah daya-budi,oleh karena itu budaya secara harfiyah berarti hal-hal yang berkaitan dengan fikiran dan hasil dari tenaga fikiran tersebut. Sedangkan dalam KBBI budaya adalah suatu yang menjadi kebiasaan yang sudah sukar untuk diubah, dan dalam budaya asing disebut culture. Suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat yang sampai saat ini masih dilakukan karena kepatuhan mereka terhadap budayanya seolah-olah hal tersebut adalah wajib hukumnya dan harus selalu dilaksanakan karena mereka terlalu patuh dengan kebudayaannya.
Kebudayaan = Cultur (bahasa Belanda) = Culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab), berasal dari perkataan Latin “Colere” yang artinya mengelola, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, dari sini berkembanglah arti culture segala dan akrivitas manusia untuk mengelola dan mengubah alam.[1] Kebudayaan sendiri adalah suatu fenomena universal. Setiap masyarakat –masyarakat di dunia mempunyai kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat yang satu dengan masyrakat yang lain.[2]
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu kebudayaan ?
2.      Apa Hubungan Kebudayaan dan Manusia ?
3.      Kebudayaan di Indonesia ?
4.      Pengaruh Kebudayaan Asing di Indonesia ?




BAB II
Pembahasan

A.    Kebudayaan
Seperti yang sudah di jelaskan di atas kebudayaan merupakan suatu fenomena universal. Setiap masyarakat –masyarakat di dunia mempunyai kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari masyarakat yang satu dengan masyrakat yang lain. Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Tak ada manusia yang dapat hidup di luar ruang lingkup kebudayaan.
Suatu penjelasan yang menarik ide kebudayaan muncul pada akhir abad ke delapan belas dan terus berlanjut sampai ke abad ke sembilan belas, perubahan ini membuat bingung semua orang dari hal politik, sosial, dan personal, tidak hanya membingungkan tetapi bahkan bisa kehilangan arah. Perubahan semacam itu melalui industrialisasi dan teknologi.[3]
Para sosiolog dan antropolog sudah menjelaskan konsep kebudayaan dengan berbagai cara. Dalam berbagai cara, dalam pengertiannya secara umum dan paling banyak digunakan istilah sebuah kata benda kolektif yang di gunakan untuk mendefinisikan ranah dan lingkungan manusia. Kebudayaan adalah sebuah kategori yang deskriptif dan konkret, kebudayaan dipandang  sebagai sekumpulan besar karya seni dan karya intelektual di dalam suatu masyarakat tertentu.[4]
Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bukan kemiskinan. Bahwa Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi budaya yang luar biasa, jika mengacu pada pengertian bahwa kebudayaan adalah hasil cipta manusia
Kebudayaan lah yang memberi nilai dan makna pada hidup manusia, seluruh bangunan hidup manusia dan masyarakat terdiri di atas landasan kebudayaan. Karena itu penting sekali artinya bagi kita untuk memahami hakikat kebudayaan. Manusia adalah pencipta kebudayaan, dan sebagai ciptaan manusia, kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.
B.     Hubungan Manusia dan Kebudayaan
Namun manusia dan kebudayaan, pada dasarnya berhubungan secara dialektis. Ada interaksi kreatif antara manusia dan kebudayaan, kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaannya. Itulah dialektika fundamental yang mendasari seluruh proses hidup manusia.
Dialektika fundamental ini terdiri dari tiga momen atau tahap, yakni;
1.      Eksternalisasi adalah proses pencurahan diri manusia secara terus menerus ke dalam dunia melalui aktivitas fisik dan mentalnya
2.      Objektivasi adalah tahap dimana aktivitas manusia menghasilkan suatu realitas objektif yang berada di luar diri manusia.
3.      Internalisasi adalah tahap dimana realitas objektif hasil ciptaan manusia itu diserap kembali oleh manusia.[5]
Melalui eksternalisasi  manusia menciptakan kebudayaan, sedangkan melalui internalisasi kebudayaan membentuk manusia. Dengan kata lain, melalui internalisasi manusai menjadi produk kebudayaan, contoh seperti kehadiran gedung-gedung pencakar langit itu memberikan inspirasi bagi para arsitek untuk mengembangkan kreasi-kreasi baru yang lebih hebat dari apa yang sekerang. Atau contoh lagi seperti jaman sekarang manusia yang menggunakan komputer untuk kebutuhan sehari-hari, bagi mereka yang menggunakan komputer tentu berpikir bahwa tanpa komputer pekerjaannya akan terhambat.
Selain mempengaruhi pola pikir manusia, hal-hal yang diciptakan pun dapat mempengaruhi pola prilaku, aktivitas, dan gaya hidup. Lain gaya hidup orang-orang di kota besar yang sehari-harinya bergaul dengan handphone, komputer, sabun mandi, dll di supermarket, berbeda dengan orang-orang pedalaman yang hanya bergaul dengan senjata untuk berburu dan ladang untuk berkebun.
Beberapa contoh terpapar di atas memperlihatkan bagaimana kebudayaan yang merupakan produk manusia itu kembali membentuk manusia. Manusia dan kebudayaan memang saling mengandaikan, adanya manusia mengandaikan adanya budaya, negitupun sebaliknya. Tanpa kebudayaan manusia tidak dapat melangsungkan hidupnya secara manusiawi, tanpa kebudayaan manusia akan tetap tererat dalam determinisme absolut alam primer, dan terkurung dalam kerajaan hewan.[6]
Kiranya sudah jelas bahwa apa yang di sebut kebudayaan itu merupakan semua urusan manusia bukan urusan orang-orang atau kalangan tertentu saja. Tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan suatu tipe kebudayaan yang kondusif bagi pembentukan manusia dan masyarakat yang aktif-kreatif-dinamis.
C.    Kebudayaan Di Indonesia
Indonesia mempunyai sejarah tertulis yang dimulai sejak abad ke-4 M. Pada dasarnya, penduduk Indonesia dianggap terdiri dari masyarakat dengan kebudayaan-kebudayaan suku bangsa lokal yang hanya sedikit berhubungan satu dengan yang lain. Ketika kepulauan nusantara menjadi satu bagian yang integral dalam perdagangan Asia, dengan rute perdagangan yang merentang dari Asia Barat Daya dan Asia Selatan ke Tiongkok, dan ketika pada abad ke-4 dan ke-5 rempah-rempah dari kepulauan Indonesia, seperti merica, cengkeh dan pala, menjadi komoditi penting dalam ekonomi dunia kuno, keterlibatan dalam perdagangan rempa-rempah meningkatkan mobilitas antarpulau di kalangan penduduk nusantara. [7]
Mereka yang tinggal di daerah-daerah strategis dalam jaringan perdagangan antar pulau, seperti Sulawesi Selatan, pantai timur dan barat, Pulau Jawa, Sumatra Selatan, Malaka dan Aceh, kemudian tampaknya menjadi negara-negara atau kerajaan-kerajaan dagang kecil. Tergantung keadaan, mereka mungkin telah mengalami persaingan keras namun merupakan negara-negara tetangga yang bekerja sama pula. Negara-negara ini terpusat pada kota-kota pelabuhan, dan pada umumnya tidak memiliki daerah pedalaman yang luas maupun penduduk yang padat.
Keadaan geografis yang membagi wilayah Indonesia atas kurang lebih 3.000 pulau yang tersebar disuatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3.000 mil dari timur ke barat dan lebih dari 1.000 mil dari utara ke selatan, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap terciptanya pluralitas sukubangsa di Indonesia. Ketika nenek moyang bangsa Indonesia yang sekarang ini mula-mula sekali datang secara bergelombang sebagai emigran dari daerah yang sekarang kita kenal sebagai daerah Tiongkok Selatan pada kira-kira 2.000 tahun sebelum masehi, keadaan geografis serupa itu telah memaksa mereka untuk harus tinggal menetap di daerah yang terpisah-pisah satu sama lain.[8]
Ada beberapa budaya besar (bukan dalam konteks baik dan buruk) yang terkait dan selalu dikaitkan dengan kebudayaan Indonesia dalam pencariannya, yakni istilah budaya timur, dominasi sebuah budaya lokal dan pengaruh Islam sebagai agama mayoritas. Pengaitan itu pada dasarnya bukan mengarah kepada pencarian jawaban atas apa yang dimaksud dengan kebudayaan nasional, tetapi lebih cenderung menjadi sesuatu yang dipaksakan sebagai turunan dari kepentingan ideologis, yang kemudian mengatasnamakan integrasi nasional.
Dengan perkecualian yang sangat kecil , mereka pada umumnya memiliki bahasa dan warisan kebudayaan yang sama. Lebih daripada itu, mereka biasanya mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu kepercayaan yang seringkali di dukung oleh mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat. Tentang berapa jumlah sukubangsa yang sebenarnya ada di Indonesia, ternyata terdapat berbagai-bagai pendapat yang tidak sama di antara para ahli ilmu kemasyarakatan. Hidred Geertz (1981), misalnya, menyebutkan adanya lebih dari 300 sukubangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan identitas kultural yang berbeda. Skinner, menyebutkan adanya lebih dari 35 sukubangsa menurut kajian induk bahasa dan adat yang tidak sama.
Van Vollenhoven (1926), mengemukakan sekurangnya ada 19 daerah pemetaan menurut hukum adat yang berlaku walaupun angka-angka tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan pada puluhan tahun yang lalu; akan tetapi dengan perkiraaan bahwa angka kelahiran dan angka kematian selama ini memiliki rata-rata yang sama bagi kebanyakan sukubangsa yang ada di Indonesia.

D.    Pengaruh Kebudayaan Asing
Akulturasi adalah perubahan besar yang terjadi dalam kebudayaan sebagai akibat adanya kontak antar kebudayaan yang berlangsung lama. Hal itu terjadi apabila ada kelompok-kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda saling berhubungan secara langsung dan intensif. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan pada salah satu kelompok atau keduanya. Perubahan kebudayaan akibat adanya proses akulturasi tidak mengakibatkan perubahan total pada kebudayaan yang bersangkutan, hal ini disebabkan karena ada unsur-unsur kebudayaan yang masih bertahan, masyarakatpun ada yang menerima sebagian atau mengadakan penyesuaian dengan unsur-unsur kebudayaan yang baru.
Indonesia ditandakan dengan banyaknya berhubungan dengan masyarakat asing seperti Cina, India, Persia, Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang; keberadaanmereka ternyata banyak meninggalkan unsur-unsur kebudayaan yang kemudian beberapa darinya diadopsikan dalam budaya lokal.

1.      Pengaruh India (Hindu – Budha)
Pengaruh yang pertama kali menyentuh masyarakat Indonesia berupa pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha dari India sejak 400 tahun sebelum masehi. Hinduisme dan Budhaisme, pada waktu itu tersebar meliputi daerah yang cukup luas di Indonesia, serta lebur bersama-sama dengan kebudayaan asli yang telah lama hidup. Namun demikian terutama di pulau Jawa dan pulau Bali pengaruh agama Hindu dan Budha itu tertanam dengan kuatnya sampai saat ini. Cerita seperti Mahabharata atau Ramayana sangat populer sampai sekarang, bahkan pada beberapa sukubangsa seperti Sunda, Jawa, atau Bali, pengaruh cerita-cerita itu sudah dianggap sebagai bagian atau ciri dari kebudayaannya.
2.      Pengaruh Kebudayaan Islam
Pengaruh kebudayaan Islam mulai memasuki masyatrakat Indonesia sejak abad ke 13, akan tetapi baru benar-benar mengalami proses penyebaran yang meluas sepanjang abad ke 15. Pengaruh agama Islam terutama memperoleh tanah tempat berpijak yang kokoh di daerah-daerah di mana pengaruh agama Hindu dan Budha tidak cukup kuat. Di daerah Jawa tengah dan Jawa Timur, dimana pengaruh agama Hindu dan Budha telah tertanam dengan cukup kuat, suatu kepercayaan keagamaan yang bersifat sincretic dianut oleh sejumlah besar penduduk di kedua daerah tersebut, dimana kepercayaan animisme dinamisme bercampur dengan kepercayaan agama Hindu, Budha dan Islam. Pengaruh reformasi agama Islam yang memasuki Indonesia pada permulaan abad ke 17 dan terutama pada akhir abad ke 19 itupun tidak berhasil mengubah keadaaan tersebut, kecuali memperkuat pengaruh agama Islam di daerah-daerah yang sebelumnya memang telah merupakan daerah pengaruh agama Islam.


3.      Pengaruh Kebudayaan Barat
Pengaruh kebudayaan Barat mulai memasuki masyarakat Indonesia melalui kedatangan bangsa Portugis pada permulaan abad ke 16, kedatangan mereka ke tanah Indonesia ini karena tertarik dengan kekayaan alam berupa rempah-rempah di daerah kepulauan Maluku, rempah-rempah ini adalah sebagai barang dagangan yang sedang laku keras di Eropa pada saat itu. Kegiatan misionaris yang menyertai kegiatan perdagangan mereka, dengan segera berhasil menanamkan pengaruh agama Katolik di daerah tersebut. Ketika bangsa Belanda berhasil mendesak bangsa Portugis untuk meninggalkan Indonesia pada sekitar tahun 1600 M, maka pengaruh agama Katolik pun segera digantikan oleh pengaruh agama Protestan. Namun demikian, sikap bangsa Belanda yang lebih lunak di dalam soal agama jika dibandingkan dengan bangsa Portugis, telah mengakibatkan pengaruh agama Proterstan hanya mampu memasuki daerah-daerah yang sebelumnyaa tidak cukup kuat dipengaruhi oleh agama Islam dan agama Hindu, sekalipun bangsa Belanda berhasil menanamkam kekuasaan politiknya tidak kurang selama 350 tahun lamanya di Indonesia.[9]






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kebudayaan yang beraneka ragam, tersebar luas di seluruh dunia sebagai masyarakat yang baik kita harus meneruskan kebudayaan tersebut agar tidak hilang oleh zaman.
Manusia tidak akan terlepas dari kebudaya karna manusia membutuhkan kebudayaan untuk keberlangsungan hidupnya, manusia menciptakan kebudayaan dan bergantung kepada hasil ciptaannya. Kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia di dunia. Pada kebudayaan, manusia menampakan jejak-jejaknya dalam panggung sejarah.
Kebudayaan di Indoenesia beraneka ragam dari sabang sampai marauke, , mereka pada umumnya memiliki bahasa dan warisan kebudayaan yang sama. Lebih daripada itu, mereka biasanya mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal-usul keturunan yang sama, satu kepercayaan yang seringkali di dukung oleh mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.
Kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia, kebudayaan India, kebudayaan Islam, kebudayaan Barat, di indonesia memang banyak sekali kebudayaan yang ada.









DAFTAR PUSTAKA

·         Chris Jenks, Culture Studi Kebudayaan (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2013).
·         Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT. Rineka Cipta, 2004).
·         Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasiaonal Indonesia (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009).
·         Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan “Dalam Perspektf Ilmu Budaya Dasar” (Jakarta; PT. Asdi Mahasatya, 2000).



[1] Joko Tri Prasetya, Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 28.
[2] Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2000), hlm. V.
[3] Chris Jenk, Culture Studi Kebudayaan, (Yogayakarta; Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 2.
[4] Chris Jenk, Culture Studi Kebudayaan, (Yogayakarta; Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 4-10.
[5] Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 16.
[6] Rafael Raga Maran, Manusia & Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta; PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 18.
[7] Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia, (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009), hlm. 5.
[8] Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia, (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009), hlm.    6-7.
[9] Syarif Moels, Pembentukan Kebudayaan Nasional Indonesia, (Bandung; Jurnal Ilmiah, 2009), hlm.    7-9.

Postingan Lama