BAB I
A.
Latar
Belakang
Antropologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia baik dari segi tubuhnya maupun
segi budayanya, yang di sebut Antropologi Fisik dan Antropologi
Budaya. Antropologi fisik di bedakan antara Paleo Antropologi dan Antropologi Fisik dalam arti sempit Paleo
Antropologi mempelajari asal usul terjadinya manusia, menurut pandangan ilmiah,
dimana manusia itu berkembang secara evolusi. Dan Antropologi Budaya
pada mulayanya dibagi dalam tiga bagian.
Yang pertama, Etnolinguistik atau Antropologi Bahasa yang
mempelajari berbagai bahasa, yang kedua, ialah pra-sejarah atau
pra-histori yang mempelajari sejarah perkembangan dan persebaran manusia di
muka bumi. Yang ketiga, ialah Etnologi atau ilmu bangsa-bangsa
yang mempelajari berbagai suku bangsa di dunia dan kebudayaannya.
B.
Rumusan
Masalah
Makalah
ini di buat untuk mengetahui apa itu antropologi, kapan antropologi di temukan,
fase-fase antropologi, dan juga tokoh-tokoh yang ada didalamnya dan juga untuk
memperdalam tentang antropologi ada tujuh hal yang akan di bahas di makalah
ini, yaitu:
1. Fase-fase
perkembangan antropologi
2. Antropologi
masakini
3. Ilmu
bagian dari antropologi
4. Hubungan
antara antropologi budaya atau
sosial dan sosiologi
5. Hubungan
antropologi dengan ilmu-ilmu yang lain
6. Metode
ilmiah dari antropologi budaya
7. Tenaga
ahli dan prasarana antropologi
BAB II
1.
FASE-FASE
PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI
Fase pertama (sebelum
1800). Dengan kedatangan orang Eropa di Benua Afrika, Asia,
dan Amerika selama sekitar 4 abad sejak akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16,
suku-suku dan yang lainnya yang ada di muka bumi mendapat pengaruh dari
negara-negara Eropa Barat . Bersama dengan itu terbit berbagai tulisan
hasilbuah tangan dari pelaut, musafir, pendeta, agama Nasrani, penerjemah kitab
Injil dan juga pemerintah jajahan,berupa tentang buku kisah perjalanan,
laporan, dan lain-lain, yang jumlahnya sangat banyak. Didalam buku tersebut bnyak
ilmu yang dapat kita pelajari tentang adat-isitadat, susunan masyarakat,
bahasa, dan ciri-ciri fisik serta beraneka warna suku bangsa di Afrika, Asia,
dan lain-lain. Karena sangat berbeda keadaannya di Eropa, maka bahan deskripsi
itu sangat menarik yaitu etnografi (ilmu sejarah yang mempelajari masyarakat ) itu sangat menarik bagi bangsa Eropa pada
waktu itu.
Ada
3 sikap yang bertentangan terhadap orang-orang Afrika, Asia, Oseania, dan India
yaitu :
1. Anggapan
bahwa orang-orang tersebut sebenarnya bukan manusia sungguh-sungguh, melainkan
manusia liar keturunan iblis, dan lain-lain, sehingga timbul istilah-istilah savage dan primitive yang mengacu kepada bangsa-bangsa pribumi itu.
2. Pandangan
bahwa masyarakat-masyarakat pribumi tersebut merupakan contoh masyarakat yang
masih murni, yang belum mengenal kejahatan seperti yang ada dalam masyarakat
Eropa Barat pada waktu itu
3. Pandangan
bahwa “keanehan” bangsa-bangsa pribumi itu (adat-istiadatnya, maupun
benda-benda kebudayaannya) dapat di manfaatkan untuk dipercontohkan kepada
khalayak/publik ramai di Eropa Barat
Pada
awal abad ke-19 perhatian para ilmuwan Eropa terhadap pengetahuan tentang
masyarakat, adat-istiadat,serta ciri-ciri fisik bangsa pribumi “asing” itu
sangat besar,sehingga ada upaya untuk mengintegrasikan semua bahan pengetahuan
etnografi yang ada menjadi satu.
Fase Kedua (kira-kira
pengetahuan abad ke -19). Integrasi yang sungguh-sungguh baru
terlaksana pada pertengahan abad ke-19 dengan terbitnya karangan-karangan yang
bahannya tersusun berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat, yaitu: Masyarakat
dan kebudayaan manusia telah berevolusi sangat lambat, yakni melalui beberapa
tingkat antara pada tingkat-tingkat yang rendah dan tertinggi. Selain
masyarakat dan kebudayaan bangsa Eropa, semuanya mereka anggap “primitif” dan
lebih rendah dan merupakan kebudayaan manusia purba. Berdasarkan dari cara
berfikir itulah bangsa di dunia digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi,
ketika sekitar tahun 1860 ada beberapa karangan yang mengklasifikasikan
bahan-bahan mengenai beberapa kebudayaan dunia berbagai tinggkat evolusi, dan
lahirlah antropologi.
Fase
berikutnya terjadi dengan terbitnya karangan-karangan hasil penelitian mengenai
sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang juga masih di
anggap sebagai sisa-sisa kebudayaan manusia kuno.
Fase Ketiga (Awal Abad
ke-20). Pada awal abad ke -20, sebagian besar negara
penjajah di Eropa berhasil memantapkan kekuasaannya di daerah-daerah
jajahannya. Sebagai ilmu yang me**mpelajari bangsa-bangsa bukan-Eropa,
antropologi menjadi kian penting bagi bangsa Eropa dalam menghadapi bangsa yang
mereka jajah. Di samping itu mulai ada anggapan bahwa mempelajari bangsa-bangsa
bukan-Eropa itu makin penting karena masyarakat pada bangsa-bangsa itu belum
sekompleks bangsa-bangsa Eropa.
Ilmu
itu terutama berkembang disuatu negara yang paling luas daerah jajahannya,
yaitu Inggris, dan hampir seluruh negara kolonial lainnya. Amerika bukan negara
kolonial, tetapi mereka mengalami masalah terhadap pribuminya sendiri,dan
terpengaruh oleh ilmu yang baru.
Dalam
fase ketiga ini antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, yang tujuannya
adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa
guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapatkan pengertian masyarakat modern yang bersifat
kompleks.
Fase Keempat (sesudah
kira-kira 1930). Dalam fase ini antropologi berkembang
sangat luas, baik dalam halketelitian bahan pengetahuannya maupun ketajaman
metode ilmiahnya. Di samp[ing itu, ketidaksenangan terhadap kolonialisme
dangejala makin berkurangnya bangsa primitif setelah perang dunia ke II,
menyebabkan bahwa antropologi kemudian seakan-akan kehilangan lapanga, dan
terdorong untuk mengembangkan lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang
berbeda. Warisan dari fase-faseperkembangan yang semula (fase pertama, kedua,
ketiga) yang berupa bahan etnografi serta berbagai metode ilmiah, tentu tidak
di buang, tetapi digunakan untuk landasan bagi perkembangannya yang baru,
perkembangan itu terutama terjadi di universitas-universitas Amerika Serikat,
dan setelah tahun 1951 menjadi umum di negara-negara lain.
Pokok
atau sasaran penelitian para ahli antropologi sudah ada sejak tahun 1930.
Antropologi gaya baru ini dalam fase perkembangannya yang keempat ini mempunyai
dua tujuan, yaitu :
·
Tujuan akademis
ialah untuk mencapai pengertian makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari
segalanya dari manusia beserta kebudayaannya
·
Tujuan praktis
ialah mempelajari manusia dalam beragam masyarakat suku bangsa guna membangun
masyarakat suku bangsa tersebut.
2.
ANTROPOLOGI
MASAKINI
Perbedaan-Perbedaan Di Berbagai Pusat
Ilmiah. Seri asas-asas antropologi
modern mendokumentasikan kondisi manusia, masa lampau dan kini. Perhatian
utamanya pada masyarakat-masyarakat eksotis, masa prasejarah, bahasa tak
tertulis, dan adat kebiasaan yang aneh, tetapi untuk saat ini cara yang di
tempuh antropologi ini memberikan sumbangan yang unik terhadap pengetahuan kita
tentang apa yang terjadi di dunia ini[1]. Uraian
mengenai keempat fase perkembangan diatas perlu untuk memperoleh pengertian
tentang tujuan dan ruang lingkupnya. Sifatnyyang bisa di bilang sangatmuda
karena hanya sekitar satu setengah abad, menyebabkan bahwa tujuan dan ruang
lingkupnya masih menjadi bahan perbedaan dan adanya berbagai aliran. Aliran
antropologi dapat digolongkan berdasarkan universitas tempat ilmu itu
berkembang (yaitu : Terutama di Amerika Serikat, Ingris, Eropa Tengah, Eropa
Utara, Rusia, dan negara-negara berkembang lainnya).
Di Amerika Serikat dan Meksiko,
antropologi telah menggunakan serta mengintergrasikan semua bahan dan metode
antropologi fase perrama, kedua, ketiga maupun berbagai spesialisasi yang telah
dikembangkan secara khusus guna mendapatkan pengertian tentang dasar-dasar dari
keanekaragaman wujud masyarakat dan kebudayaan manusia yang ada sekarang. Di
Amerika Serikat merupakan tempat dimana dalam fase keempatnya antropologi telah
berkembang paling luas.
Di Inggris dan negara-negara persemakmuran
seperti Ausralia, antropologi dalamfase ketiga masih dilakukan. Namun dengan
hilangnya daerah-daerah jajahan inggris, sifatnya tentu juga berubah, pada
waktu Papua Nugini yang merupakan daerah jajahannya, suku-suku tersebut
dipelajari guna keperluan pemerintah setempat. Setelah mereka merdeka berbagai
masalah dasar-dasar masyarakat dan kebudayaan. Metode-metode antropologi yang
telah di kembangkan di Amerika Serikat dan mulai mempengaruhi penelitian para
ahli antropologi Inggris.
Di Eropa Tengah, pada awal tahun 1970-an
saja antropologi masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa guna
mendapatkan pengertian sejarah penyebaran kebudayaan umat manusia di bumi,
antropologi dari Eropa Tengah berada di fase kedua.
Di Eropa Utara, antropologi sebagian
bersifat akademis, mereka juga banyak mempelajari daerah di luar Eropa. Di
samping itu mereka juga banyak menggunakan metode antropologi yang berkembang
di Amerika Serikat.
Di Indonesia sekarang telah memulai di
kembangkan suatu ilmu antropologi yang khas Indonesia.
Perbedaan-Perbedaan
Istilah. Sampai sekarang di berbagai negara masih digunakan
istilah-istilah yang berbeda-beda sehingganya di sini perlu di jelaskan tentang
istilah-istilah yang bersangkutan.
Ethnography
yang di artikan sebagai “ deskripsi tentang bangsa-bangsa”,di gunakansecara umum
di Eropa Barat. Metode yang di gunakan untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan
tersebut.
Ethnology
atau
Voelkerkunde dalam bahasa Jerman dan Volkenkude dalam bahasa Belanda yang berarti “ilmu bangsa-bangsa”, juga
sudah di pakai sejak awal, di bnyak negara istilah itu mulai di tinggalkan oleh
beberapa negara. Istilah itu di pakai untuk menyebut suatu bagian dari
antropologi yang secara khusus mempelajari masalah-masalah yang berhubungan
dengan sejarah pengembangan kebudayaan manusia.
Kulturkunde
berarti
“ilmu kebudayaan” dalam arti yang sama dengan ethnology dan Antropology
adalah “ilmu tentang manusia” atau “ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia”.
3.
ILMU-ILMU
BAGIAN DARI ANTROPOLOGI
Lima
Ilmu Bagian. Di universitas yang ada di Amerika,
tentang antropologi telah mencapai perkembangan yang paling luas, ruang lingkup
dan batas lapangan perhatian yang luas itu menyebabkan 5 masalah penelitian
yaitu:
Ø Masalah
sejarah asal dan perkembangan manusia di pandang dari segi biologinya.
Ø Masalah
sejarah terjadinya berbagai ragam manusia di pandang dari ciri-ciri tubuhnya.
Ø Masalah
sejarah asal, perkembangan, serta penyebaran macam bahasa di seluruh dunia.
Ø Masalah
perkembangan, penyebaran, dan terjadinya beragam kebudayaan di dunia.
Ø Masalah
mengenai asas-asas kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di
dunia.
Paleoantropologi
Antropologi fisik
Keduanya
di sebut “antropologi dalam arti luas”
Etnolinguistik
Prasejarah Etnologi
Ketiganya
disebut “antropologi budaya” atau “antropologi sosial”
·
Paleoantropologi
adalah ilmu bagian yang meneliti asal-usul atau terjadinya evolusi manusia
·
Antropologi Fisik
adalah bagian dari antropologi yang mencoba memahami sejarah terjadinya beragam
makhluk manusia berdasarkan perbedaan ciri-ciri tubuhnya.
·
Etnolinguistik
adalah suatu ilmu bagian yang pada awalnya erat berkaitan antropologi
·
Sub-ilmu
prasejarah seringkali dinamakan ilmu arkelog.
·
Etnologi adalah
ilmu bagian yang mempelajari asas-asas manusia dengan cara meneliti sejumlah
kebudayaan suku bangsa yang tersebar di dunia.
Kompleks
kajian-kajian antropologi yang menggunakan psikologi sekarang dianggap sebagai
suatu sub-ilmu atauspesialisasi yang disebut etnopsikologi, antropologi
psikologi, ataustudy kebudayaan dan kepribadian
Bermacam
macam Spesialisasi Dalam Antropologi sejak
tahun 1930, yaitu:
·
Antropologi
Ekonomi,
penelitian tentang pengumpulan modal, tenaga kerja pribumi, sistem produksi,
dan pemasaran.
·
Antropologi
Pembangunan, yang menggunakan
metode-metode, konsep, dan teori antropologi untuk mempelajari hal-hal yang bersangkutan dengan pembangunan.
[2]
·
Antropologi
Pendidikan, erat hubungannya dengan pengembangan desa, para ahli antropologi
juga meneliti masalah pendidikan, yang di banyaknegara sedang berkembang
melalui perkembangan, penelitian tersebut menyebabkan timbulnya antropologi
pendidikan. [3]
·
Antropologi Kesehatan, para antropologi kesehatan juga di kerahkan dalam
beberapa negara dengan suatu laju kenaikan penduduk yang pesat, para dokter dan
para ahli demografi meneliti dan memecahkan masalah keluarga berencana. [4]
·
Antropologi
Kependudukan, ilmu antropologi
yang tidak ketinggalan dalam penelitian-penelitian itu, telah mengembangkan
dengan sangat pesat suatu spesialais baru. [5]
·
Antropologi
Politik, sistem nilai dan
sistem norma dari manusia-manusia yang menjalankan politik itu. [6]
·
Antropologi Psikiatri, penelitian-penelitian mengenai masalah
latar-belakang sosial-budaya dari penyakit-penyakit jiwa itulah penyebabnya.[7]
4.
HUBUNGAN
ANTARA ANTROPOLOGI BUDAYA ATAU SOSIAL
DAN SOSIOLOGI
Persamaan
Dan Perbedaan Antara Kedua Ilmu. Kebudayaan adalah segala hal yang dimiliki oleh
manusia,yang hanya di peroleh dengan belajar dan menggunakan akalnya /
kebudayaan adalah segala pikiran dan prilaku manusia yang secara fungsional dan
difungsional di tata dalam masyarakat.[8]
Dalam teks-teks
antropologi sebagian besar memfokuskan diri pada agama yang ada dalam budaya
kesukuan dan melangkah lebih lanjut dalam seluruh analisanya dan menyingkap
struktur dasar suatu masyarakat atau budaya.[9]
Sepintas
memang tidak ada perbedaan antara sub-ilmu antropologi sosial dan sosiologi.
Kuedua ilmu memang memiliki tujuan yang sama, namun secara khusus ada beberapa
perbedaan yang lebih mendasar, yaitu:
1. Kedua
ilmu itu masing-masing mempunyai asal-mula dan sejarah perkembangan yang
berbeda.
2. Perbedaan
sejak awal itu menyebabkan pengkhususan pada pokok dan bahan penilitian dari
kedua ilmu itu masing-masing.
3. Perbedaan
sejak awal itu juga telah menyebabkan berkembangnya metode-metode dan
masalah-masalah yang khusus pada antropologi budaya maupun sosial dan
sosiologi.
Sejarah
Perkembangan Sosiologi. Kita akan menguraikan mengenai
asal-muladan perkembangan sosiologi. Mula-mula sosiologi hanya merupakan bagian
dari ilmu filsafat, sejak abad ke-19 itu, sesuai dengan perubahan filsafat dan
cara berfikir orang di Eropa Barat, teori dan konsep filsafat sosial tentu
sudah berubah juga.
Ilmu-ilmu bagian dari antropologi
Perkembangan antropologi khususnya
antropologi budaya atau sosial, dari perbandingan mengenal sejarah perkembangan
antropologi budaya atau sosial dan sosiologi, ada perbedaan yang besar di
antara kedua ilmu tersebut. Antropologi budaya atau sosial berawal dari
himpunan bahan keterangan tentang berbagai masyarakat dan kebudayaan masyarakat
pribumi bukan-Eropa, yang menjadi suatu ilmu khusus tingkat-tingkat awal dari
sejarah perkembangan masyarakat kebudayaan bangsa-bangsa Eropa itu sendiri.
Sebaliknya sosiologi dimulai sebagai suatu bagian dari ilmu filsafat, yang
menjadi suatu ilmu khusus karena masyarakat Eropa yang tengah dilanda krisis
memerlukan pengetahuan yang lebih mengenai asas-asas dari masyarakat dan
kebudayaannya.
5.
HUBUNGAN
ANTARA ANTROPOLOGI DAN ILMU-ILMU LAIN
Selain
dengan ilmu psikologi dan sosiologi, antropologi bersub-sub ilmunya yang
tercantum di bagan I, juga mempunyai hubungan timbal-balik dengan ilmu-ilmu
lain, seperti geologi, paleontologi, anatomi, kesehatan masyarakat, psikiatri, linguistik,
arkeologi, sejarah, geografi, ekonomi, hukum adat, administrasi, dan politik.
Hubungan antropologi dengan yang lain[10], yaitu:
Ø Hubungan
antara geologi dan antropologi.
Ø Hubungan
antara paleontologi dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu anatomi dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu kesehatan masyarakat dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu psikiatri dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu linguistik dan antropologi.
Ø Hubungan
antara arkeolog dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu sejarah dan antropologi.
Ø Hubungan
antara geografi dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu ekonomi dan antropologi.
Ø Hubungan
antara hukum adat Indonesia dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu administrasi dan antropologi.
Ø Hubungan
antara ilmu politik dan antropologi.
6.
METODE
ILMIAH DARI ANTROPOLOGI BUDAYA ATAU SOSIAL DAN SOIOLOGI
Metode Ilmiah.
Metode ilmiah dari suatu cabang ilmu pengetahuan adalah segala jalan yang dapat digunakan
dalam ilmu tersebut untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode
ilmiah,suatu ilmu pengetahuan bukanlah ilmu, melainkan hanya suatu himpunan
pengetahuan saja. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai para ahli dalam ilmu
yang bersangkutan melalui tiga tingkat, yaitu: pengumpulan data, penentuan
ciri-ciri umum dan sistem, dan verifikasi.
Pengumpulan fakta.
Untuk antropologi budaya atau sosial, tingkat ini adalah pengumpulan data
mengenai kejadian, gejala masyarakat, dan kebudayaan untuk di olah secara
ilmiah. Metode pengumpulan fakta ada tiga, yaitu: penelitian dilapangan,
penelitian di laboratium, penelitian perpustakaan. Dalam penelitian di lapangan
seorang peneliti harus secara langsung melibatkan dirinya dengan obyeknya, sedangkan
penelitian laboratorium dan perpustakaan ia tetap berada di luar, tetapi tidak
melibatkan dirinya dengan obyek yang ditelitinya.
Penentuan Ciri-Ciri Umum Dan Sistem. Penentuan
ciri-ciri umum serta sistem merupakan suatu tahap dalam cara berfikir ilmiah.
Pada tahap ini digunakan metode-metode untuk mencari ciri-ciri yang sama dan
umum di antara beragam fakta yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dan
kebudayaan umat manusia. Harus menggunakan berbagai metode komparatif untuk
mendapatkan suatu ciri umum yang biasanya dimulai dengan metode klasifikasi dan
bisa di tentukan dengan cara mencari perumusan-perumusan yang menyatakan
berbagai hubungan yang mantap antara fakta-fakta tersebut.
Verifikasi.
Metode-metode yang digunakan untuk melakukan verifikasi dilakukan dalam
kenyataan alam atau dalam masyarakat yang hidup, terhadapa kaidah-kaidah yang
dirumuskan atau kaidah-kaidah yang dimaksudkan untuk memperkuat suatu
pengertian yang sudah ada. Dalam melakukan pengujian, proses berfikirnya
dilakukan secara deduktif, yaitu perumusan umum ke fakta-fakta yang ada, pada
metode-metode kuantitatif verifikasi dilakukan dengan cara mengumpulkan
sebanyak mungkin fakta dari kejadian dan gejala sosial budaya yang sama atau
menunjuk persamaan yang mendasar.
7.
TENAGA
AHLI, LEBAGA, MAJALAH DAN PRASARANA ANTROPOLOGI
Kehidupan Ilmiah.
Suatu cabang ilmu pengetahuan dapat dikatakan “hidup” apabila para ahli dalam
bidang ilmu pengetahuan tersebut melakukan kegiatan-kegiatan penelitian untuk
memecahkan berbagai masalah di bidang itu. Karena suatu penelitian memerlukan
pendanaan yang besar, maka untuk menyokong kegiatan-kegiatan penelitian itu
diperlukan kehadiran badan-badan yang dapat menopang kegiatan-kegiatan itu,
yaitu perguruan tinggi atau yayasan. Tugas lembaga ilmiah yang utama pada
umumnya adalah menyelenggsrakan pertemuan-pertemuan atau kongres ilmiah dan
menerbitkan majalah ilmiah, di samping membiayai proyek-proyek penelitian.
Para Tokoh
Sarjana Antropologi.
Dalam fase pertama perkembangannya, antropologi tentu belum memiliki
tokoh-tokoh ahli. Menurut buku yang saya baca, ketika itu yang ada adalah
karangan-karangan mengenai suku-suku bangsa yang tinggal di luar Benua Eropa
yang terdiri dari beberapa pekerjaan seperti pelaut, penyiar agama, pegawai
pemerintah. Pengarang-Pengarang itu adalah
Fase Pertama
·
A. Bastian,
Seorang pengarang etnografi kuno golongan musafir, Bastian menulis tentang
etnografi mengenai kebudayaan berbagai suku bangsa di Indonesia, terdiri dari
tiga jilid
·
J. F. Lafitau,
Pengarang etnografi dari golongan penyiar agama Nasrani, Lafitau menulis
etnografi klasik (1724) tentang kebudayaan suku-suku bangsa Indian penduduk
daerah terserbut.
·
N. N.
Miklukho-Maklai, pengarang etnografi kuno golongan eksplorasi
·
T. S. Raffles
Pengarang etnografi kuno pegawai pemerintah jajahan di Indonesia, Raffles
menulis dua jilid etnografi tentang kebudayaan jawa yang terbit dalam tahun
1817.
Fase Kedua
·
L. H. Morgan,
tokoh pendekar antropologi. Morgan menulis sebuah buku etnografi dan sebuah
karangan teoretis mengenai evolusi masyarakat manusia, dalam buku yang berjudul
Ancient Society (1877)
Fase Ketiga
·
B. Malinowski,
seorang tokoh antropologi inggris. Telah menulis sejumlah buku antropologi
tentang penduduk kepulauan Trobriand.
·
M. Fortes, banyak
menulis tentang kebudayaan suku-suku bangsa Afrika Barat, khususnya Ghana
Utara.
Fase Keempat
·
F. Boas, seorang
pakar geografi Jerman yang menjadi warganegara Amerika, ia sebagai tokoh
pendekar antropologi yang baru, yaitu ilmu tentang makhluk manusia pada
umumnya, seorang tokoh penting dalam fase keempat yang lain adalah L.Kroeber
dan sebagai pendekar-pendekar antropologi psikologi adalah Ruth Benedict, Margaret
Mead, R. Linton.
BAB III
A.
Kesimpulan
1.
Fase-fase yang
terdiri dari empat fase yang di jelaskan secara rinci membahas dari awal
berdirinya berdirinya antropologi dan di jelaskan siapa yang membuat pertama
kali antropologi itu.
2.
Seperti yang telah
kita baca, setiap negara memiliki antropologi yang berbeda-beda contoh seperti
Amerika dan Meksiko mereka menggunakan antropologi fase pertama sedangkan
Inggris menggunakan fase ketiga, berbeda dengan Eropa Tengah antropologi mereka
masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa, berbeda juga dengan
Indonesia, Indonesia sendiri telah memulai dikembangkan sesuatu antropologi
yang khas Indonesia.
3.
Ilmu juga bagian
dari antropologi yang menyebabkan kurang lebihnya ada lima masalah, yang
membuat para penelitibermaksd untuk memecahkan masalah tersebut yang memerlukan
ahli khusus untuk masalah-masalah tersebut
4. Dengan
demikian dapat di simpulkan bahwa perbedaan antara antropologi dan sosiologi
tidak lagi dapat di tentukan dengan perbedaan masyarakat pedesaan dengan
perkotaan, tetapi dengan metode-metode ilmiahnya.
5.
Antropologi itu
sangat membantu dan berguna untuk ilmu-ilmu yang lain misalnya, geologi,
paleontologi, anatomi, kesehatan, dll.
6.
Metode ilmiah dari
suatu cabang ilmu pengetahuan adalah semua cara yang dapat digunakan dalam ilmu
tersebut untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah,suatu
ilmu pengetahuan bukanlah ilmu, melainkan hanya suatu himpunan pengetahuan saja,
karena tanpa adanya kesadaran mengenai hubungan antara gejala-gejala yang ada.
7.
Suatu cabang ilmu
pengetahuan dikatakan hidup apabila para ahli melakukan geiatan penelitian
untuk memecahkan masalah dalam bidang tersebut, dan penelitian itu membutuhkan biaya
yang di dapat dari universitas dan juga yayasan.
B.
Saran
·
Pembaca di buat
menarik oleh buku ini kita harus membaca semua baru mengerti apa artinya,
tetapi tidak harus semua menggunakan bahasa yang sulit
·
Kurangannya para
tokoh pada fase-fase yang di jelaskan dan jugasiapa saja tokoh yang menjadi
pokok pembicaraan dari fase-fase tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Koentjaraningrat. 2014. Pengantar
Antropologi I. Jakarta:PT Rineka Cipta.
·
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar
Ilmu Antropologi. Jakarta:PT Rineka Cipta
·
Koentjaraningrat. 2005. Pengantar
Antropologi II. Jakarta:PT Rineka Cipta.
·
Hadikusuma, Hilman. 1992. Pengantar
Antropologi Hukum. Bandung:PT. Citra Aditya Bakti
·
Kaplan, David, Robert A.
Manners. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
·
Morris, Brian. 2003. Antropologi
Agama. Yoyakarta:AK Group.
[1] David Kaplan, Teori Budaya
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. XII
[3] G. Spindler (editor), Education
and Anthropology. Stanford University Press, 1955.
[4] G. M. Foster, Relationship Between
Theoretical and Applied Anthropology : a Public. Health Program Analysis. Human
Organisation, XI : hlm. 5-16.
[5] B.Ezra dan B. W. Zubrow, Demographic
Anthropology, Albuquerque, University of New Mexico Press, 1971.
[6] G. Balandier, Political
Anthropology. Middlesec, Penguin Books, 1972
[7] L. Nader, T. W. Maretzki, Cultural
Illness and Healt. Essays in Human Adaption. D. H. Haxbury – Lewis
editor, New Hamphisre, AAA Monograph No.9, 1972.
[8] Koentjaraningrat, Pengantar
Antropologi II (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 11-13.
[9] Morris Brian, Antropologi Agama
(Yogyakarta: AK Group, 2003), hlm. 234-235
[10] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu
Antropologi, Radar Jaya Offset, Jakarta, 1990, hlm 31-40.



0 komentar:
Posting Komentar