Selasa, 11 September 2018

Apa Yang Dimaksut Dengan Antropologi ?


BAB I

A.    Latar Belakang
Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia baik dari segi tubuhnya maupun segi budayanya, yang di sebut Antropologi Fisik dan Antropologi Budaya. Antropologi fisik di bedakan antara Paleo Antropologi dan Antropologi Fisik dalam arti sempit Paleo Antropologi mempelajari asal usul terjadinya manusia, menurut pandangan ilmiah, dimana manusia itu berkembang secara evolusi. Dan Antropologi Budaya pada mulayanya dibagi dalam tiga bagian.  Yang pertama, Etnolinguistik atau Antropologi Bahasa yang mempelajari berbagai bahasa, yang kedua, ialah pra-sejarah atau pra-histori yang mempelajari sejarah perkembangan dan persebaran manusia di muka bumi. Yang ketiga, ialah Etnologi atau ilmu bangsa-bangsa yang mempelajari berbagai suku bangsa di dunia dan kebudayaannya.
B.    Rumusan Masalah
Makalah ini di buat untuk mengetahui apa itu antropologi, kapan antropologi di temukan, fase-fase antropologi, dan juga tokoh-tokoh yang ada didalamnya dan juga untuk memperdalam tentang antropologi ada tujuh hal yang akan di bahas di makalah ini, yaitu:
1.      Fase-fase perkembangan antropologi
2.      Antropologi masakini
3.      Ilmu bagian dari antropologi
4.      Hubungan antara antropologi budaya atau sosial dan sosiologi
5.      Hubungan antropologi dengan ilmu-ilmu yang lain
6.      Metode ilmiah dari antropologi budaya
7.      Tenaga ahli dan prasarana antropologi

BAB II

1.      FASE-FASE PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI
Fase pertama (sebelum 1800). Dengan kedatangan orang Eropa di Benua Afrika, Asia, dan Amerika selama sekitar 4 abad sejak akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16, suku-suku dan yang lainnya yang ada di muka bumi mendapat pengaruh dari negara-negara Eropa Barat . Bersama dengan itu terbit berbagai tulisan hasilbuah tangan dari pelaut, musafir, pendeta, agama Nasrani, penerjemah kitab Injil dan juga pemerintah jajahan,berupa tentang buku kisah perjalanan, laporan, dan lain-lain, yang jumlahnya sangat banyak. Didalam buku tersebut bnyak ilmu yang dapat kita pelajari tentang adat-isitadat, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik serta beraneka warna suku bangsa di Afrika, Asia, dan lain-lain. Karena sangat berbeda keadaannya di Eropa, maka bahan deskripsi itu sangat menarik yaitu etnografi (ilmu sejarah yang mempelajari masyarakat )  itu sangat menarik bagi bangsa Eropa pada waktu itu.
Ada 3 sikap yang bertentangan terhadap orang-orang Afrika, Asia, Oseania, dan India yaitu :
1.      Anggapan bahwa orang-orang tersebut sebenarnya bukan manusia sungguh-sungguh, melainkan manusia liar keturunan iblis, dan lain-lain, sehingga timbul istilah-istilah savage dan primitive yang mengacu kepada bangsa-bangsa pribumi itu.
2.      Pandangan bahwa masyarakat-masyarakat pribumi tersebut merupakan contoh masyarakat yang masih murni, yang belum mengenal kejahatan seperti yang ada dalam masyarakat Eropa Barat pada waktu itu
3.      Pandangan bahwa “keanehan” bangsa-bangsa pribumi itu (adat-istiadatnya, maupun benda-benda kebudayaannya) dapat di manfaatkan untuk dipercontohkan kepada khalayak/publik ramai di Eropa Barat
Pada awal abad ke-19 perhatian para ilmuwan Eropa terhadap pengetahuan tentang masyarakat, adat-istiadat,serta ciri-ciri fisik bangsa pribumi “asing” itu sangat besar,sehingga ada upaya untuk mengintegrasikan semua bahan pengetahuan etnografi yang ada menjadi satu.

Fase Kedua (kira-kira pengetahuan abad ke -19). Integrasi yang sungguh-sungguh baru terlaksana pada pertengahan abad ke-19 dengan terbitnya karangan-karangan yang bahannya tersusun berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat, yaitu: Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi sangat lambat, yakni melalui beberapa tingkat antara pada tingkat-tingkat yang rendah dan tertinggi. Selain masyarakat dan kebudayaan bangsa Eropa, semuanya mereka anggap “primitif” dan lebih rendah dan merupakan kebudayaan manusia purba. Berdasarkan dari cara berfikir itulah bangsa di dunia digolongkan menurut berbagai tingkat evolusi, ketika sekitar tahun 1860 ada beberapa karangan yang mengklasifikasikan bahan-bahan mengenai beberapa kebudayaan dunia berbagai tinggkat evolusi, dan lahirlah antropologi.
Fase berikutnya terjadi dengan terbitnya karangan-karangan hasil penelitian mengenai sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa yang juga masih di anggap sebagai sisa-sisa kebudayaan manusia kuno.
Fase Ketiga (Awal Abad ke-20). Pada awal abad ke -20, sebagian besar negara penjajah di Eropa berhasil memantapkan kekuasaannya di daerah-daerah jajahannya. Sebagai ilmu yang me**mpelajari bangsa-bangsa bukan-Eropa, antropologi menjadi kian penting bagi bangsa Eropa dalam menghadapi bangsa yang mereka jajah. Di samping itu mulai ada anggapan bahwa mempelajari bangsa-bangsa bukan-Eropa itu makin penting karena masyarakat pada bangsa-bangsa itu belum sekompleks bangsa-bangsa Eropa.
Ilmu itu terutama berkembang disuatu negara yang paling luas daerah jajahannya, yaitu Inggris, dan hampir seluruh negara kolonial lainnya. Amerika bukan negara kolonial, tetapi mereka mengalami masalah terhadap pribuminya sendiri,dan terpengaruh oleh ilmu yang baru.
Dalam fase ketiga ini antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, yang tujuannya adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapatkan  pengertian masyarakat modern yang bersifat kompleks.
Fase Keempat (sesudah kira-kira 1930). Dalam fase ini antropologi berkembang sangat luas, baik dalam halketelitian bahan pengetahuannya maupun ketajaman metode ilmiahnya. Di samp[ing itu, ketidaksenangan terhadap kolonialisme dangejala makin berkurangnya bangsa primitif setelah perang dunia ke II, menyebabkan bahwa antropologi kemudian seakan-akan kehilangan lapanga, dan terdorong untuk mengembangkan lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang berbeda. Warisan dari fase-faseperkembangan yang semula (fase pertama, kedua, ketiga) yang berupa bahan etnografi serta berbagai metode ilmiah, tentu tidak di buang, tetapi digunakan untuk landasan bagi perkembangannya yang baru, perkembangan itu terutama terjadi di universitas-universitas Amerika Serikat, dan setelah tahun 1951 menjadi umum di negara-negara lain.
Pokok atau sasaran penelitian para ahli antropologi sudah ada sejak tahun 1930. Antropologi gaya baru ini dalam fase perkembangannya yang keempat ini mempunyai dua tujuan, yaitu :
·         Tujuan akademis ialah untuk mencapai pengertian makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari segalanya dari manusia beserta kebudayaannya
·         Tujuan praktis ialah mempelajari manusia dalam beragam masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa tersebut.




2.      ANTROPOLOGI MASAKINI
            Perbedaan-Perbedaan Di Berbagai Pusat Ilmiah. Seri asas-asas antropologi modern mendokumentasikan kondisi manusia, masa lampau dan kini. Perhatian utamanya pada masyarakat-masyarakat eksotis, masa prasejarah, bahasa tak tertulis, dan adat kebiasaan yang aneh, tetapi untuk saat ini cara yang di tempuh antropologi ini memberikan sumbangan yang unik terhadap pengetahuan kita tentang apa yang terjadi di dunia ini[1]. Uraian mengenai keempat fase perkembangan diatas perlu untuk memperoleh pengertian tentang tujuan dan ruang lingkupnya. Sifatnyyang bisa di bilang sangatmuda karena hanya sekitar satu setengah abad, menyebabkan bahwa tujuan dan ruang lingkupnya masih menjadi bahan perbedaan dan adanya berbagai aliran. Aliran antropologi dapat digolongkan berdasarkan universitas tempat ilmu itu berkembang (yaitu : Terutama di Amerika Serikat, Ingris, Eropa Tengah, Eropa Utara, Rusia, dan negara-negara berkembang lainnya).
Di Amerika Serikat dan Meksiko, antropologi telah menggunakan serta mengintergrasikan semua bahan dan metode antropologi fase perrama, kedua, ketiga maupun berbagai spesialisasi yang telah dikembangkan secara khusus guna mendapatkan pengertian tentang dasar-dasar dari keanekaragaman wujud masyarakat dan kebudayaan manusia yang ada sekarang. Di Amerika Serikat merupakan tempat dimana dalam fase keempatnya antropologi telah berkembang paling luas.
Di Inggris dan negara-negara persemakmuran seperti Ausralia, antropologi dalamfase ketiga masih dilakukan. Namun dengan hilangnya daerah-daerah jajahan inggris, sifatnya tentu juga berubah, pada waktu Papua Nugini yang merupakan daerah jajahannya, suku-suku tersebut dipelajari guna keperluan pemerintah setempat. Setelah mereka merdeka berbagai masalah dasar-dasar masyarakat dan kebudayaan. Metode-metode antropologi yang telah di kembangkan di Amerika Serikat dan mulai mempengaruhi penelitian para ahli antropologi Inggris.
Di Eropa Tengah, pada awal tahun 1970-an saja antropologi masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa guna mendapatkan pengertian sejarah penyebaran kebudayaan umat manusia di bumi, antropologi dari Eropa Tengah berada di fase kedua.
Di Eropa Utara, antropologi sebagian bersifat akademis, mereka juga banyak mempelajari daerah di luar Eropa. Di samping itu mereka juga banyak menggunakan metode antropologi yang berkembang di Amerika Serikat.
Di Indonesia sekarang telah memulai di kembangkan suatu ilmu antropologi yang khas Indonesia.
Perbedaan-Perbedaan Istilah. Sampai sekarang di berbagai negara masih digunakan istilah-istilah yang berbeda-beda sehingganya di sini perlu di jelaskan tentang istilah-istilah yang bersangkutan.
Ethnography yang di artikan sebagai “ deskripsi tentang bangsa-bangsa”,di gunakansecara umum di Eropa Barat. Metode yang di gunakan untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan tersebut.
Ethnology atau Voelkerkunde dalam bahasa Jerman dan Volkenkude dalam bahasa Belanda yang berarti “ilmu bangsa-bangsa”, juga sudah di pakai sejak awal, di bnyak negara istilah itu mulai di tinggalkan oleh beberapa negara. Istilah itu di pakai untuk menyebut suatu bagian dari antropologi yang secara khusus mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan sejarah pengembangan kebudayaan manusia.
Kulturkunde berarti “ilmu kebudayaan” dalam arti yang sama dengan ethnology dan Antropology adalah “ilmu tentang manusia” atau “ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia”.



3.      ILMU-ILMU BAGIAN DARI ANTROPOLOGI
          Lima Ilmu Bagian. Di universitas yang ada di Amerika, tentang antropologi telah mencapai perkembangan yang paling luas, ruang lingkup dan batas lapangan perhatian yang luas itu menyebabkan 5 masalah penelitian yaitu:
Ø  Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia di pandang dari segi biologinya.
Ø  Masalah sejarah terjadinya berbagai ragam manusia di pandang dari ciri-ciri tubuhnya.
Ø  Masalah sejarah asal, perkembangan, serta penyebaran macam bahasa di seluruh dunia.
Ø  Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya beragam kebudayaan di dunia.
Ø  Masalah mengenai asas-asas kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di dunia.

Paleoantropologi Antropologi fisik
                       
Keduanya di sebut “antropologi dalam arti luas”
Etnolinguistik Prasejarah Etnologi


Ketiganya disebut “antropologi budaya” atau “antropologi sosial”

           
·         Paleoantropologi adalah ilmu bagian yang meneliti asal-usul atau terjadinya      evolusi manusia
·         Antropologi Fisik adalah bagian dari antropologi yang mencoba memahami sejarah terjadinya beragam makhluk manusia berdasarkan perbedaan ciri-ciri tubuhnya.
·         Etnolinguistik adalah suatu ilmu bagian yang pada awalnya erat berkaitan antropologi
·         Sub-ilmu prasejarah seringkali dinamakan ilmu arkelog.
·         Etnologi adalah ilmu bagian yang mempelajari asas-asas manusia dengan cara meneliti sejumlah kebudayaan suku bangsa yang tersebar di dunia.
Kompleks kajian-kajian antropologi yang menggunakan psikologi sekarang dianggap sebagai suatu sub-ilmu atauspesialisasi yang disebut etnopsikologi, antropologi psikologi, ataustudy kebudayaan dan kepribadian


Bermacam macam Spesialisasi Dalam Antropologi sejak tahun 1930, yaitu:
·         Antropologi Ekonomi, penelitian tentang pengumpulan modal, tenaga kerja pribumi, sistem produksi, dan pemasaran.
·         Antropologi Pembangunan, yang menggunakan metode-metode, konsep, dan teori antropologi untuk mempelajari  hal-hal yang bersangkutan dengan pembangunan. [2]
·         Antropologi Pendidikan, erat hubungannya dengan pengembangan desa, para ahli antropologi juga meneliti masalah pendidikan, yang di banyaknegara sedang berkembang melalui perkembangan, penelitian tersebut menyebabkan timbulnya antropologi pendidikan. [3]
·         Antropologi Kesehatan, para antropologi kesehatan juga di kerahkan dalam beberapa negara dengan suatu laju kenaikan penduduk yang pesat, para dokter dan para ahli demografi meneliti dan memecahkan masalah keluarga berencana. [4]
·         Antropologi Kependudukan, ilmu antropologi yang tidak ketinggalan dalam penelitian-penelitian itu, telah mengembangkan dengan sangat pesat suatu spesialais baru. [5]
·         Antropologi Politik, sistem nilai dan sistem norma dari manusia-manusia yang menjalankan politik itu. [6]
·         Antropologi Psikiatri, penelitian-penelitian mengenai masalah latar-belakang sosial-budaya dari penyakit-penyakit jiwa itulah penyebabnya.[7]

4.      HUBUNGAN ANTARA ANTROPOLOGI BUDAYA ATAU SOSIAL DAN SOSIOLOGI
Persamaan Dan Perbedaan Antara Kedua Ilmu. Kebudayaan adalah segala hal yang dimiliki oleh manusia,yang hanya di peroleh dengan belajar dan menggunakan akalnya / kebudayaan adalah segala pikiran dan prilaku manusia yang secara fungsional dan difungsional di tata dalam masyarakat.[8] Dalam teks-teks antropologi sebagian besar memfokuskan diri pada agama yang ada dalam budaya kesukuan dan melangkah lebih lanjut dalam seluruh analisanya dan menyingkap struktur dasar suatu masyarakat atau budaya.[9] Sepintas memang tidak ada perbedaan antara sub-ilmu antropologi sosial dan sosiologi. Kuedua ilmu memang memiliki tujuan yang sama, namun secara khusus ada beberapa perbedaan yang lebih mendasar, yaitu:
1.      Kedua ilmu itu masing-masing mempunyai asal-mula dan sejarah perkembangan yang berbeda.
2.      Perbedaan sejak awal itu menyebabkan pengkhususan pada pokok dan bahan penilitian dari kedua ilmu itu masing-masing.
3.      Perbedaan sejak awal itu juga telah menyebabkan berkembangnya metode-metode dan masalah-masalah yang khusus pada antropologi budaya maupun sosial dan sosiologi.
Sejarah Perkembangan Sosiologi. Kita akan menguraikan mengenai asal-muladan perkembangan sosiologi. Mula-mula sosiologi hanya merupakan bagian dari ilmu filsafat, sejak abad ke-19 itu, sesuai dengan perubahan filsafat dan cara berfikir orang di Eropa Barat, teori dan konsep filsafat sosial tentu sudah berubah juga.
Bagan 1
Ilmu-ilmu bagian dari antropologi


 




 






Perkembangan antropologi khususnya antropologi budaya atau sosial, dari perbandingan mengenal sejarah perkembangan antropologi budaya atau sosial dan sosiologi, ada perbedaan yang besar di antara kedua ilmu tersebut. Antropologi budaya atau sosial berawal dari himpunan bahan keterangan tentang berbagai masyarakat dan kebudayaan masyarakat pribumi bukan-Eropa, yang menjadi suatu ilmu khusus tingkat-tingkat awal dari sejarah perkembangan masyarakat kebudayaan bangsa-bangsa Eropa itu sendiri. Sebaliknya sosiologi dimulai sebagai suatu bagian dari ilmu filsafat, yang menjadi suatu ilmu khusus karena masyarakat Eropa yang tengah dilanda krisis memerlukan pengetahuan yang lebih mengenai asas-asas dari masyarakat dan kebudayaannya.

5.      HUBUNGAN ANTARA ANTROPOLOGI DAN ILMU-ILMU LAIN
Selain dengan ilmu psikologi dan sosiologi, antropologi bersub-sub ilmunya yang tercantum di bagan I, juga mempunyai hubungan timbal-balik dengan ilmu-ilmu lain, seperti geologi, paleontologi, anatomi, kesehatan masyarakat, psikiatri, linguistik, arkeologi, sejarah, geografi, ekonomi, hukum adat, administrasi, dan politik. Hubungan antropologi dengan yang lain[10], yaitu:
Ø  Hubungan antara geologi dan antropologi.
Ø  Hubungan antara paleontologi dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu anatomi dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu kesehatan masyarakat dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu psikiatri dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu linguistik dan antropologi.
Ø  Hubungan antara arkeolog dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu sejarah dan antropologi.
Ø  Hubungan antara geografi dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu ekonomi dan antropologi.
Ø  Hubungan antara hukum adat Indonesia dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu administrasi dan antropologi.
Ø  Hubungan antara ilmu politik dan antropologi.

6.      METODE ILMIAH DARI ANTROPOLOGI BUDAYA ATAU SOSIAL DAN SOIOLOGI
Metode Ilmiah. Metode ilmiah dari suatu cabang ilmu pengetahuan adalah segala jalan yang dapat digunakan dalam ilmu tersebut untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah,suatu ilmu pengetahuan bukanlah ilmu, melainkan hanya suatu himpunan pengetahuan saja. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai para ahli dalam ilmu yang bersangkutan melalui tiga tingkat, yaitu: pengumpulan data, penentuan ciri-ciri umum dan sistem, dan verifikasi.
Pengumpulan fakta. Untuk antropologi budaya atau sosial, tingkat ini adalah pengumpulan data mengenai kejadian, gejala masyarakat, dan kebudayaan untuk di olah secara ilmiah. Metode pengumpulan fakta ada tiga, yaitu: penelitian dilapangan, penelitian di laboratium, penelitian perpustakaan. Dalam penelitian di lapangan seorang peneliti harus secara langsung melibatkan dirinya dengan obyeknya, sedangkan penelitian laboratorium dan perpustakaan ia tetap berada di luar, tetapi tidak melibatkan dirinya dengan obyek yang ditelitinya.
Penentuan Ciri-Ciri Umum Dan Sistem. Penentuan ciri-ciri umum serta sistem merupakan suatu tahap dalam cara berfikir ilmiah. Pada tahap ini digunakan metode-metode untuk mencari ciri-ciri yang sama dan umum di antara beragam fakta yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia. Harus menggunakan berbagai metode komparatif untuk mendapatkan suatu ciri umum yang biasanya dimulai dengan metode klasifikasi dan bisa di tentukan dengan cara mencari perumusan-perumusan yang menyatakan berbagai hubungan yang mantap antara fakta-fakta tersebut.
Verifikasi. Metode-metode yang digunakan untuk melakukan verifikasi dilakukan dalam kenyataan alam atau dalam masyarakat yang hidup, terhadapa kaidah-kaidah yang dirumuskan atau kaidah-kaidah yang dimaksudkan untuk memperkuat suatu pengertian yang sudah ada. Dalam melakukan pengujian, proses berfikirnya dilakukan secara deduktif, yaitu perumusan umum ke fakta-fakta yang ada, pada metode-metode kuantitatif verifikasi dilakukan dengan cara mengumpulkan sebanyak mungkin fakta dari kejadian dan gejala sosial budaya yang sama atau menunjuk persamaan yang mendasar.

7.      TENAGA AHLI, LEBAGA, MAJALAH DAN PRASARANA ANTROPOLOGI
Kehidupan Ilmiah. Suatu cabang ilmu pengetahuan dapat dikatakan “hidup” apabila para ahli dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut melakukan kegiatan-kegiatan penelitian untuk memecahkan berbagai masalah di bidang itu. Karena suatu penelitian memerlukan pendanaan yang besar, maka untuk menyokong kegiatan-kegiatan penelitian itu diperlukan kehadiran badan-badan yang dapat menopang kegiatan-kegiatan itu, yaitu perguruan tinggi atau yayasan. Tugas lembaga ilmiah yang utama pada umumnya adalah menyelenggsrakan pertemuan-pertemuan atau kongres ilmiah dan menerbitkan majalah ilmiah, di samping membiayai proyek-proyek penelitian.
Para Tokoh Sarjana Antropologi. Dalam fase pertama perkembangannya, antropologi tentu belum memiliki tokoh-tokoh ahli. Menurut buku yang saya baca, ketika itu yang ada adalah karangan-karangan mengenai suku-suku bangsa yang tinggal di luar Benua Eropa yang terdiri dari beberapa pekerjaan seperti pelaut, penyiar agama, pegawai pemerintah. Pengarang-Pengarang itu adalah
Fase Pertama
·         A. Bastian, Seorang pengarang etnografi kuno golongan musafir, Bastian menulis tentang etnografi mengenai kebudayaan berbagai suku bangsa di Indonesia, terdiri dari tiga jilid
·         J. F. Lafitau, Pengarang etnografi dari golongan penyiar agama Nasrani, Lafitau menulis etnografi klasik (1724) tentang kebudayaan suku-suku bangsa Indian penduduk daerah terserbut.
·         N. N. Miklukho-Maklai, pengarang etnografi kuno golongan eksplorasi
·         T. S. Raffles Pengarang etnografi kuno pegawai pemerintah jajahan di Indonesia, Raffles menulis dua jilid etnografi tentang kebudayaan jawa yang terbit dalam tahun 1817.
Fase Kedua
·         L. H. Morgan, tokoh pendekar antropologi. Morgan menulis sebuah buku etnografi dan sebuah karangan teoretis mengenai evolusi masyarakat manusia, dalam buku yang berjudul Ancient Society (1877)
Fase Ketiga
·         B. Malinowski, seorang tokoh antropologi inggris. Telah menulis sejumlah buku antropologi tentang penduduk kepulauan Trobriand.
·         M. Fortes, banyak menulis tentang kebudayaan suku-suku bangsa Afrika Barat, khususnya Ghana Utara.
Fase Keempat
·         F. Boas, seorang pakar geografi Jerman yang menjadi warganegara Amerika, ia sebagai tokoh pendekar antropologi yang baru, yaitu ilmu tentang makhluk manusia pada umumnya, seorang tokoh penting dalam fase keempat yang lain adalah L.Kroeber dan sebagai pendekar-pendekar antropologi psikologi adalah Ruth Benedict, Margaret Mead, R. Linton.






BAB III
A.    Kesimpulan
1.      Fase-fase yang terdiri dari empat fase yang di jelaskan secara rinci membahas dari awal berdirinya berdirinya antropologi dan di jelaskan siapa yang membuat pertama kali antropologi itu.
2.      Seperti yang telah kita baca, setiap negara memiliki antropologi yang berbeda-beda contoh seperti Amerika dan Meksiko mereka menggunakan antropologi fase pertama sedangkan Inggris menggunakan fase ketiga, berbeda dengan Eropa Tengah antropologi mereka masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa, berbeda juga dengan Indonesia, Indonesia sendiri telah memulai dikembangkan sesuatu antropologi yang khas Indonesia.
3.      Ilmu juga bagian dari antropologi yang menyebabkan kurang lebihnya ada lima masalah, yang membuat para penelitibermaksd untuk memecahkan masalah tersebut yang memerlukan ahli khusus untuk masalah-masalah tersebut
4.      Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa perbedaan antara antropologi dan sosiologi tidak lagi dapat di tentukan dengan perbedaan masyarakat pedesaan dengan perkotaan, tetapi dengan metode-metode ilmiahnya.
5.      Antropologi itu sangat membantu dan berguna untuk ilmu-ilmu yang lain misalnya, geologi, paleontologi, anatomi, kesehatan, dll.
6.      Metode ilmiah dari suatu cabang ilmu pengetahuan adalah semua cara yang dapat digunakan dalam ilmu tersebut untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah,suatu ilmu pengetahuan bukanlah ilmu, melainkan hanya suatu himpunan pengetahuan saja, karena tanpa adanya kesadaran mengenai hubungan antara gejala-gejala yang ada.
7.      Suatu cabang ilmu pengetahuan dikatakan hidup apabila para ahli melakukan geiatan penelitian untuk memecahkan masalah dalam bidang tersebut, dan penelitian itu membutuhkan biaya yang di dapat dari universitas dan juga yayasan.

B.     Saran
·         Pembaca di buat menarik oleh buku ini kita harus membaca semua baru mengerti apa artinya, tetapi tidak harus semua menggunakan bahasa yang sulit
·         Kurangannya para tokoh pada fase-fase yang di jelaskan dan jugasiapa saja tokoh yang menjadi pokok pembicaraan dari fase-fase tersebut.














                                                DAFTAR PUSTAKA
·         Koentjaraningrat. 2014. Pengantar Antropologi I. Jakarta:PT Rineka Cipta.
·         Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:PT Rineka Cipta
·         Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi II. Jakarta:PT Rineka Cipta.
·         Hadikusuma, Hilman. 1992. Pengantar Antropologi Hukum. Bandung:PT. Citra Aditya Bakti
·         Kaplan, David, Robert A. Manners. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
·         Morris, Brian. 2003. Antropologi Agama. Yoyakarta:AK Group.


[1] David Kaplan, Teori Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. XII
    [2] W. H. Goodenough, Cooperation in chane, An Anthropological Approach to Community Development. New York, Russell Sage Foundation, 1963.
[3] G. Spindler (editor), Education and Anthropology. Stanford University Press, 1955.
[4] G. M. Foster, Relationship Between Theoretical and Applied Anthropology : a Public. Health Program Analysis. Human Organisation, XI : hlm. 5-16.
[5] B.Ezra dan B. W. Zubrow, Demographic Anthropology, Albuquerque, University of New Mexico Press, 1971.
[6] G. Balandier, Political Anthropology. Middlesec, Penguin Books, 1972
[7] L. Nader, T. W. Maretzki, Cultural Illness and Healt. Essays in Human Adaption. D. H. Haxbury – Lewis editor, New Hamphisre, AAA Monograph No.9, 1972.
[8] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi II (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 11-13.
[9] Morris Brian, Antropologi Agama (Yogyakarta: AK Group, 2003), hlm. 234-235
[10] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Radar Jaya Offset, Jakarta, 1990, hlm 31-40.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar