KENABIAN DALAM
PANDANGAN AL-FARABI
OLEH: AHMAD MUTHOHAR S (1617502001)
Filsafat Al-Farabi mengenai kenabian
dengan filosof dalam kesanggupan keduanya untuk dapat berkomunikasi dengan akal
fa’al (jibril). Filsafat ini muncul akibat dari adanya penentangan mengenai
kenabian secara filosof yang di lakukan oleh Ahmad Ibnu Ishaq Al-Ruwandi, yang
mengatakan bahwa mukjizat hanya cerita khayal dan sebagainya. Oleh karena
itu,Al-Farabi merasa tergugah untuk menjawab tantangan tersebut dan
meluruskannya. Sebab, Nabi erat kaitannya dengan agama, jika batal maka akan
membawa dampak kebatalan dari agama itu sendiri.
Menurut Al-Farabi, ada 2 cara
manusia untuk dapat berkomunikasi dengan akal fa’al (jibril),yaitu melalui
renungan atau pemikiran dan imajinasi atau ilham. Manusia yang dapat melakukan
cara pertama yaitu filosof, sedangkan manusia yang dapat berkomunikasi dengan
akal fa’al menggunakan cara kedua yaitu Nabi (Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar,
2017: 81). Ketika filosof dapat menembus alam materi dengan menggunakan
pemikiran atau renungan untuk dapat berkomunikasi akal fa’al, maka itu
merupakan suatu capaian tertinggi yang dilakukan oleh filusuf. Sedangkan nabi
melakukan komunikasi tersebut sebab akal yang sudah mecapai kesempurnaan.
Perbedaan antara Nabi dan filosof
hanya terletak pada tingkatan dan esensinya. Perbedaan tersebut terjadi sebab
ada batasan-batasan tertentu yang hanya dapat dicapai oleh akal yang sempurna
atau mendapat kelebihan dari Allah. Nabi mendapat capaian tersebut berupa wahyu
yang berasal dari Allah melalui perantara akal fa’al atau malaikat Jibril.
Sedangkan filosof sendiri mendapat capaian tersebut sebab akal yang digunakan
untuk berfikir serta terlatih dan kuat untuk menangkap hal-hal diluar materi
atau abstrak murni dari akal kesepuluh.
Dari filsafat Al-Farabi tersebut,
dapat kita pahami bahwa setiap hal yang berkaitan dengan hal-hal diluar nalar yang
dibawa oleh Nabi untuk disebar luaskan kepada seluruh manusia itu diperoleh
melalui komunikasi dengan akal fa’al sebagai perantaranya. Filosof sendiri
merupakan orang yang mempercayai dengan adanya Nabi serta ajaran yang dibawa
Nabi. Sebab, tidak semua orang dapat mempercayai hal tersebut. Filsafat ada
untuk dapat membuktikan bahwa ajaran yang dibawa Nabi itu memang benar adanya.
Maka ada ungkapan bahwa setiap Nabi itu filosof, dan tidak setiap filosof itu
nabi.
Kenabian merupakan sebuah anugrah
dari Allah dalam membawa wahyu untuk disebarkan kepada umat manusia. Sedangkan
apabila seorang dalam menerima wahyu tersebut tidak menggunakan akalnya untuk
merenungkan dan berpikir, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada Ahmad
Ibnu Ishaq al-Ruwandi. Memang dalam filsafat merupakan ilmu yang menuntut untuk
berfikir kritis, mengakar, serta mendalam. Namun dalam berfikir tersebut masih
ada batasan-batasan yang ada untuk dapat dihindarkan. Sehingga tidak terjadi
hal yang serupa.
Manusia diciptakan dengan sempurna
dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia dibekali dengan akal yang
digunakan untuk dapat berfikir atas apa yang diberikan oleh Allah. Disini akal
berperan dalam memahami hakekat yang sebenarnya mengenai sesuatu. Para filosof
menggunakan akal untuk dapat mencapai hal tersebut melalui latihan dan bebagai
usaha untuk dapat menangkap hakekat-hakekat yang ada. Sedangkan Nabi sudah dibekali
dengan akal hads atau akal materiil yang dapat secara langsung menangkap
hakekat-hakekat yang ada.
Dengan kelebihan yang dimiliki oleh
manusia, akal lah yang membedakan anatara individu dengan individu yang lain. Tingkat
kecerdasan pada akal manusia ini yang memang dalam kenyataannya dapat dikaitkan
dalam filsafatnya Al-Farabi ini. Dalam kecerdasan yang diperoleh oleh manusia
sejak dilahirkan ke dunia ini memiki kapasitas yang berbeda-beda. Kapasitas
tersebut ada yang sudah diberikan kelebihan oleh Allah dan ada juga yang
memiliki kapasitas sedang-sedang saja. Ketika orang yang dianugrahi kecerdasan
lebih, dalam kehidupannya pasti sudah memahami berbagai banyak hal tanpa harus
belajar lebih. Berbeda dengan orang yang memiliki kecerdasan sedang, ketika
orang itu hendak memahami sesuatu tentunya harus banyak belajar serta melewati
beberapa proses untuk dapat menjawab atau memahaminya.
Atas anugerah Allah tersebut, orang
yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata terkadang dalam memahami sesuatu
hanya dapat melalui imajinasi yang secara tidak langsung muncul jawaban
tersebut. Sedangkan yang kecerdasannya sedang atau bahkan tidak tahu apa-apa,
cenderung dalam memahami sesuatu tidak secara imajinasi, malah melalui
pemikiran yang dasar lalu naik ke alam penalaran dan akhirnya dapat menemukan
jawabn tersebut. Sebagai contoh ketika ada anak kelas 2 SD diberikan pertanyaan
oleh gurunya 10+10. Ketika anak yang dianugrahi kelebihan, pasti langsung dapat
berimajinasi melalui akalnya dan langsung menjawabnya. Berbeda dengan yang
tidak di anugrahi kelebihan, pasti yang dilakukan ialah mencari jawaban
tersebut melalui alat bantu untuk menghitung dan menghitung satu-satu dengan
jarinya setelah itu barulah dapat menjawabnya.
Dari contoh kasus tersebut, kita
dapat memahami bahwa seorang yang memiliki kelebihan yang diberikan Allah akan
dengan mudah mengetahui berbagai banyak hal di dunia ini tanpa harus belajar
lebih. Sedangkan yang tidak diberi kelebihan oleh Allah, dalam memahami sesuatu
dibangun atas pemikiran yang nantinya melewati beberapa proses dalam mengetahui
jawabannya.



0 komentar:
Posting Komentar