Rabu, 12 September 2018

KENABIAN DALAM PANDANGAN AL-FARABI


KENABIAN DALAM PANDANGAN AL-FARABI
OLEH: AHMAD MUTHOHAR S (1617502001)

            Filsafat Al-Farabi mengenai kenabian dengan filosof dalam kesanggupan keduanya untuk dapat berkomunikasi dengan akal fa’al (jibril). Filsafat ini muncul akibat dari adanya penentangan mengenai kenabian secara filosof yang di lakukan oleh Ahmad Ibnu Ishaq Al-Ruwandi, yang mengatakan bahwa mukjizat hanya cerita khayal dan sebagainya. Oleh karena itu,Al-Farabi merasa tergugah untuk menjawab tantangan tersebut dan meluruskannya. Sebab, Nabi erat kaitannya dengan agama, jika batal maka akan membawa dampak kebatalan dari agama itu sendiri.
            Menurut Al-Farabi, ada 2 cara manusia untuk dapat berkomunikasi dengan akal fa’al (jibril),yaitu melalui renungan atau pemikiran dan imajinasi atau ilham. Manusia yang dapat melakukan cara pertama yaitu filosof, sedangkan manusia yang dapat berkomunikasi dengan akal fa’al menggunakan cara kedua yaitu Nabi (Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, 2017: 81). Ketika filosof dapat menembus alam materi dengan menggunakan pemikiran atau renungan untuk dapat berkomunikasi akal fa’al, maka itu merupakan suatu capaian tertinggi yang dilakukan oleh filusuf. Sedangkan nabi melakukan komunikasi tersebut sebab akal yang sudah mecapai kesempurnaan.
            Perbedaan antara Nabi dan filosof hanya terletak pada tingkatan dan esensinya. Perbedaan tersebut terjadi sebab ada batasan-batasan tertentu yang hanya dapat dicapai oleh akal yang sempurna atau mendapat kelebihan dari Allah. Nabi mendapat capaian tersebut berupa wahyu yang berasal dari Allah melalui perantara akal fa’al atau malaikat Jibril. Sedangkan filosof sendiri mendapat capaian tersebut sebab akal yang digunakan untuk berfikir serta terlatih dan kuat untuk menangkap hal-hal diluar materi atau abstrak murni dari akal kesepuluh.
            Dari filsafat Al-Farabi tersebut, dapat kita pahami bahwa setiap hal yang berkaitan dengan hal-hal diluar nalar yang dibawa oleh Nabi untuk disebar luaskan kepada seluruh manusia itu diperoleh melalui komunikasi dengan akal fa’al sebagai perantaranya. Filosof sendiri merupakan orang yang mempercayai dengan adanya Nabi serta ajaran yang dibawa Nabi. Sebab, tidak semua orang dapat mempercayai hal tersebut. Filsafat ada untuk dapat membuktikan bahwa ajaran yang dibawa Nabi itu memang benar adanya. Maka ada ungkapan bahwa setiap Nabi itu filosof, dan tidak setiap filosof itu nabi.
            Kenabian merupakan sebuah anugrah dari Allah dalam membawa wahyu untuk disebarkan kepada umat manusia. Sedangkan apabila seorang dalam menerima wahyu tersebut tidak menggunakan akalnya untuk merenungkan dan berpikir, maka akibatnya akan seperti yang terjadi pada Ahmad Ibnu Ishaq al-Ruwandi. Memang dalam filsafat merupakan ilmu yang menuntut untuk berfikir kritis, mengakar, serta mendalam. Namun dalam berfikir tersebut masih ada batasan-batasan yang ada untuk dapat dihindarkan. Sehingga tidak terjadi hal yang serupa.
            Manusia diciptakan dengan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia dibekali dengan akal yang digunakan untuk dapat berfikir atas apa yang diberikan oleh Allah. Disini akal berperan dalam memahami hakekat yang sebenarnya mengenai sesuatu. Para filosof menggunakan akal untuk dapat mencapai hal tersebut melalui latihan dan bebagai usaha untuk dapat menangkap hakekat-hakekat yang ada. Sedangkan Nabi sudah dibekali dengan akal hads atau akal materiil yang dapat secara langsung menangkap hakekat-hakekat yang ada.
            Dengan kelebihan yang dimiliki oleh manusia, akal lah yang membedakan anatara individu dengan individu yang lain. Tingkat kecerdasan pada akal manusia ini yang memang dalam kenyataannya dapat dikaitkan dalam filsafatnya Al-Farabi ini. Dalam kecerdasan yang diperoleh oleh manusia sejak dilahirkan ke dunia ini memiki kapasitas yang berbeda-beda. Kapasitas tersebut ada yang sudah diberikan kelebihan oleh Allah dan ada juga yang memiliki kapasitas sedang-sedang saja. Ketika orang yang dianugrahi kecerdasan lebih, dalam kehidupannya pasti sudah memahami berbagai banyak hal tanpa harus belajar lebih. Berbeda dengan orang yang memiliki kecerdasan sedang, ketika orang itu hendak memahami sesuatu tentunya harus banyak belajar serta melewati beberapa proses untuk dapat menjawab atau memahaminya.
            Atas anugerah Allah tersebut, orang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata terkadang dalam memahami sesuatu hanya dapat melalui imajinasi yang secara tidak langsung muncul jawaban tersebut. Sedangkan yang kecerdasannya sedang atau bahkan tidak tahu apa-apa, cenderung dalam memahami sesuatu tidak secara imajinasi, malah melalui pemikiran yang dasar lalu naik ke alam penalaran dan akhirnya dapat menemukan jawabn tersebut. Sebagai contoh ketika ada anak kelas 2 SD diberikan pertanyaan oleh gurunya 10+10. Ketika anak yang dianugrahi kelebihan, pasti langsung dapat berimajinasi melalui akalnya dan langsung menjawabnya. Berbeda dengan yang tidak di anugrahi kelebihan, pasti yang dilakukan ialah mencari jawaban tersebut melalui alat bantu untuk menghitung dan menghitung satu-satu dengan jarinya setelah itu barulah dapat menjawabnya.
            Dari contoh kasus tersebut, kita dapat memahami bahwa seorang yang memiliki kelebihan yang diberikan Allah akan dengan mudah mengetahui berbagai banyak hal di dunia ini tanpa harus belajar lebih. Sedangkan yang tidak diberi kelebihan oleh Allah, dalam memahami sesuatu dibangun atas pemikiran yang nantinya melewati beberapa proses dalam mengetahui jawabannya.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar