Kamis, 27 September 2018

Agama dan Budaya


BAB I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Agama dengan kebudayaan sangatlah menarik untuk di perdebatkan karna dari dua hal tersebut, ada interpedensi antara agama sebagai wahyu dan kehidupan budaya manusia. Dengan begitu menurut islam konsep kebudayaan merupakan subordinat dari agama. Agama atau pemahaman ketuhanan, menurut Kuntowijoyo harus di pandang sebagai frame of reference dari kebudayaan. Hubungan agam dengan budaya tidak bisa dipisahkan sekalipun dapat di bedakan antara keduanya, kebudayaan merupakan perwujudan konfigurasi semangat keagamaan, pemahaman eksistensial ini membawa agama menjadi terlibat dalam perguluman kemanusiaan.
Penyebaran islam di Jawa yang di kenal sebagai serat-serat babad sebagai wali sanaga yang melahirkan budaya sakatenan yang diselenggarakan dalam rangka memeringati maulud Nabi Muhammad. Strategi kebudayaan yang paling tampak tercermin pada upaya para pujangga dan sastrawan jawa dalam merubah sastra-sastra suluk. Strategi ini merepukan wujud nyata usaha mendekati islam dari pola budaya tertentu.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu agama ?
2.      Apa itu budaya ?
3.      Hubungan antara keduanya









BAB II
Pembahasan

A.      AGAMA
Agama atau Religi adalah hubungan antara manusia dengan yang maha segalanya. Dihajati sebagai hakikat bersifat ghaib dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu. Manusia senantiasa menghadapi berbagai kendala di dalam menjalankan aktivitasnya di muka bumi.[2] Untuk itu setiap manusia menggunakan akal fikirannya secara maksimal untuk mengatasi berbagai kesulitan hidupya. Dalam hal seperti ini manusia sangat membutuhkan Tuhan untuk tempat bergantungnya secara spiritual. Tuhan dipercayai mampu mengatasi semua masalah yang ada di alam semesta ini, sekaligus penguasa alam ini yang menciptakan manusia-manusia dimuka bumi dan tuhan menjadi awal dari proses sebuah agama dalam diri manusia.
Islam adalah agama yang suci, turun dari Allah melalui Nabi Muhammad, dengan perantara malaikat Jibril bersama dengan diturunkannya kitap suci Al-Qur’an sebagai sumber ajaran umat Islam. Islam seperti inilah yang selalu didakwakan oleh umat islam kepada orang lain bahkan dengan umat islam lainnya, sebagai tugas untuk menyebarkan agama islam yang di perintahkan oleh Allah SWT. Jelas bahwa islam itu  adalah satu, turun dari Tuhan yang satu (Allah SWT), melalui Rasul yang terpilih (Muhammad SAW), bersumber dari kitab suci yang tunggal (Al-Qur’an). Akan tetapi islam yang tunggal tersebut dalam perkembangannya mengalami dinamika praktis di dalam diri manusia dan masyarakat.
Ibadah merupakan komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya, sebagai tanda pengakuan atas kebesaran dan kekuasaannya, sebagai bentuk ketaatan kepadanya, dan terlebih penting adalah sebagai bentuk doa agar tuhan selalu menyertai dan selalu memberi segala bentuk keselamatan selama hidup didunia.[3] Selain suatu ke seharusan ibadah juga suatu yang dipercaya diperintah oleh Tuhan sendiri melalu Rasulnya. Dalam pengertian umum ibadah adalah doa, ritual ibadah adalah suatu jalan ketenangan bagi pelakunya dalam berbagai kondisi susah maupun bahagia.

B.     BUDAYA
Budaya berasal dari kata budi-daya yang asal muasalanya dari bahasa sansekerta yang dalam arti bahasa Indonesianya adalah daya-budi,oleh karena itu budaya secara harfiyah berarti hal-hal yang berkaitan dengan fikiran dan hasil dari tenaga fikiran tersebut.[4] Sedangkan dalam KBBI budaya adalah suatu yang menjadi kebiasaan yang sudah sukar untuk diubah,[5] dan dalam budaya asing disebut culture. Suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat yang sampai saat ini masih dilakukan karena kepatuhan mereka terhadap budayanya seolah-olah hal tersebut adalah wajib hukumnya dan harus selalu dilaksanakan karena mereka terlalu patuh dengan kebudayaannya.
C.     HUBUNGAN BUDAYA DENGAN AGAMA
Dengan rasa di dalam dirinya, manusia slalu ingin berhasil di dalam menempuh cita-citanya, ingin dihormati, dihargai, dan ingin disenangi oleh orang lain. Oleh karena itulah setiap manusia tidak mudah diperlakukan oleh orang lain sebagaimana layaknya benda mati.[6] Kelebihan manusia dari makhluk yang lain adalah bahwa manusia mempunya jiwa, yang dari jiwa itulah manusia berkebudayaan.[7]
Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang di ataskan dasarkan oleh kebenaran rasional dan telah dibuktikan di alam empiris, ketika kebenaran rasional tidak meyakinkan, maka manusia terdorong untuk membuktikan hasil rasional itu ke alam nyata. Ketika terbukti di alam nyata, maka kebenaran itulah yang dianggap kebenaran tertinggi karna relatif sulit untuk di bantah.[8] Kebenara ilmiah yang dianggap sebagai kebenraran tertinggi ternyata tidak juga selalu memenuhi kebutuhan manusia, pengalaman batiniah yang tidak dapat dinyatakan secara inderawi selalu hadir di kehidupan manusia, disitulah manusia kembali kepada alam keyakinan.
Orang-orang yang mengaku rasional dan ilmiah setinggi apapun akhirnya akan meyakini adanya Tuhan, yang di dalam islam dijelaskan bahwa setiap orang diciptakan secara fitrah (bertuhan), oleh karena itu keyakinan terhadap Tuhan bukan merupakan wilayah ilmiah. Akan tetapi kenyataan setiap manusia bertuhan menjadi bukti kongkrit bahwa kebenaran ilmiah bukanlah segalanya atau bahwkan bukan kebenaran tertinggi.
Proses berfikir adalah proses kebudayaan, kalau keberagaman seseorang merupakan sebuah keyakinan yang banyak diperankan oleh akal fikiran, maka sulit di sangkal bahwa di dalam seseorang menentukan agama tertentu tidak lepas dari aspek kebudayaan. Dalam memahami Tuhan atau agama keyakinan justru merupakan kebenaran tertinggi setelah kebenaran indrawi maupun rasional,[9] bagi orang yang beragama rasio atau tidak, ilmiah atau tidak sosok Tuhan justru merupakan kebenaran yang mutlak yang sangat sulit dibantah.
Antara agama dengan budaya keduanya sama-sama melekat pada diri seseorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal fikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun aspek ibadah formal (sholat), praktik agama akan selalu bersamaan dan bahkan berinteraksi dengan budaya, kebudayaan sangat berperan penting dalam terbentuknya sebuah praktik keagamaan seseorang.[10]
Islam dan budaya adalah dua hal yang niscaya hidup bersama tanpa pertentangan, perintah menggunakan akal dan juga adanya tugas umat islam sebagai pengemban amanah menjadi khalifah dibumi mengilhami segenap umat islam untuk terus berfikir mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tentunya nilai-nilai keislaman selalu menjadi pegangan umat islam didalam mengembangkan peradabannya.
Dengan seiring berjalannya waktu akal setiap manusia atau masyarakat mempunyai pandangan dan cara pengalaman agama islam masing-masing, dengan mudahkan kita menemukan perdebatan-perdebatan antara sesama umat islam, contohnya; perdebatan tentang sholat, halal dan haram dan masih banyak lagi lainnya, dan mungkin sekarang dengan bertambahnya maju ilmu teknologi budaya yang lama akan terus berkurang bahkan bisa terhapus oleh budaya yang baru. Adanya dampak baik dan buruk dengan adanya teknologi yang semakin maju :
1.      Baik : seseorang bisa mendengarkan ceramah dimanapun dan kapanpun yang dia inginkan karna adanya gadget, adanya Al-Qur’an yang bisa di download jadi hanya membawa gadget kita bisa membaca Al-Qur’an dengan terjemahannya.
2.      Buruk : dengan teknologi yang semakin maju, banyak dari kita yang salah penggunaan gadget, menunda bahkan meninggalkan waktu sholat karena sibuk bermain gadget, banyaknya berita dan ceramah palsu yang beredar di jejaring sosial (internet).
BAB III
Penutup

A.    Kesimpulan
Dari makalah yang saya tulisa di atas, budaya adalah pemikiran manusia (rasio) dan agama adalah hubungan manusia dengan yang maha segalanya ( Tuhan) keduanya memang tidak bisa di pisahkan walaupun keduanya memang berbeda tetapi di lain sisi keduanya bisa saling melengkapi,di zaman yang serba modern budaya-budaya yang dulu di bawa untuk menyebarkan islam lama-lama akan punah karna tergantikan oleh budaya baru.

B.     Saran
Dari uraian di atas dapat menjadikan pelajaran bagi pembacaa bahwa budaya itu harus di jaga bukan untuk di tinggalkan dan dapat dijadikan referensi penulisan serupa.




























DAFTAR PUSTAKA

·         Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri; Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993).

·         Kamus Besar Bahasa Indonesia.

·         Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta; Sukses Offset 2009).

·         Sidi Gazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, (Jakarta; Pustaka Antara, 1963).

·         zakiyudddin Baidahwy, mutohharun jinan, Agama dan Pluralitas Budaya Lokal, (Surakarta: Pusat Studi, 2003).




[1] Baidahwy zakiyudddin, mutohharun jinan, Agama dan Pluralitas Budaya Lokal, (Surakarta: Pusat Studi, 2003), hlm. 3
[2] Sidi Gazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, (Jakarta; Pustaka Antara, 1963), hlm. 49.
[3] Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta; Sukses Offset 2009), hlm. 26.
[4] Sidi Gazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, (Jakarta; Pustaka Antara, 1963), hlm. 36-38.
[5] Kamus Besar Bahasa Indonesia
[6] Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri; Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 2.
[7] Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta; Sukses Offset 2009), hlm. 35.
[8] Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta; Sukses Offset 2009), hlm. 36.
[9] Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta; Sukses Offset 2009), hlm. 41.
[10] Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, (Yogyakarta; Sukses Offset 2009), hlm. 42.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar