Rabu, 12 September 2018

Khulafaur Rasyidin


BAB I
PENDAHULUAN

Khulafaur Rasyidin atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Empat khalifah tersebut adalah:
1.      Abu Bakar As-Shiddiq                 11-13 H/632-634 M
2.      Umar bin Al-Khatab                     13-23 H/634-644 M
3.      ‘Utsman bin ‘Affan                      23-35 H/644-656 M
4.      Ali Bin Abi Thalib                        35-40 H/656-661 M[1]
Para Khulafaur Rasyidin itu adalah pemimpin yang arif dan bijaksana. Mereka itu terdiri dari para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berkualitas tinggi dan baik adapun sifat-sifat yang dimiliki Khulafaur Rasyidin sebagai berikut:
1.      Arif dan bijaksana
2.      Berilmu yang luas dan mendalam
3.      Berani bertindak
4.      Berkemauan yang keras
5.      Berwibawa
6.      Belas kasihan dan kasih sayang
7.      Berilmu agama yang amat luas serta melaksanakan hukum-hukum Islam.
Dalam sejarah Islam empat orang pengganti  nabi  yang  pertama  adalah
para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari sang guru agung bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar “yang mendapat bimbingan di jalan yang lurus” (al-khulafa ar-rasyidin) diberikan kepada mereka.[2]
            Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam. Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi’ah meyakini bahwa Muhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam.
           

















BAB II
PEMBAHASAN

1.      Abu Bakar As-Shiddiq
            Setelah wafatnya Rasulullah SAW, mulailah periode Khulafaur Rasyidin atau fase baru pada saat pemakaman Nabi Muhammad tiba-tiba Abu Bakar dan Umar meninggalkan tempat duka menuju ke Tsaqifah Bani Sa’idah di mana kaum Ansor telah berkumpul merak mencalonkan Sa’ad bin Ubadah (Khazrja) dan hampir memilih sebagai pengganti Nabi al-Ayimmatumin Duraisy (kepemimpinan dalam Islam adalah dari kalangan Quraisy). Akhirnya Abu Bakar terpilih sebagai khalifah al-Rasul (pengganti Rasul)
            Periode Abu Bakar 632-634 M, sangat singkat hanya 2 tahun lebih, ia mampu mengamankan negara baru Islam dari perpecahan dan kehancuran, baik dikalangan sahabat mengerai persoalan pengganti Nabi maupun tekanan-tekanan dari luar dan dalam.[3]
            Setelah terpilih menjadi khalifah, Abu Bakar menghadapi berbagai tugas dan persoalan seperti mengirim kembali ekspedisi Usamah ke Syam yang telah ditugaskan Nabi untuk menghadapi Bizantium yang sekaligus juga membalas kematian ayahnya Zaid di medan perang sebelumnya.
Di sisi lain musuh- musuh luar terutama dua super power (Bizantium dan Sasania) beranggapan, bahwa dalam negeri Madinah keamanannya sudah kuat pasca wafatnya Nabi jika tidak demikian, bagaimana mungkin ekspedisi Islam dikirim jauh dari Madinah ke Syam selain itu penolakan membayar pajak dan zakat terhadap pemerintahan Islam yang baru saja ditinggal oleh Nabi, mereka beranggapan, bahwa kontrak atauperjanjian untuk membayar pajak kepada negara dengan Nabi telah usai saat ia wafat, maka pajak tidak perlu dikirim kepada pemerintah baru, pimpinan Abu Bakar, di antaranya, suku-suku Yaman, Yaimamah, Oman serta kemunculan nabi-nabi palsu mereka semuanya memusuhi pemerintahan Madinah.
            Abu Bakar menghadapi mereka dengan tegas dan lugas, hanya memberikan dua alternatif kepada mereka, tunduk pada syarat, atau diperangi dengan mengirim tentara. Akhirnya pasukan Islam menang atas musuh-musuh Islam yang keluar dari barisan Islam yang dikenal dengan perang Riddah.[4]
            Dalam waktu dua tahun lebih, khalifaan dapat mengatasi semua persoalan dengan hasil yang gilang gemilang. Dampak positif juga tampak bahwa orang Baduwi gurun pasir dan suku-suku lain yang sejak zaman Jahiliyah suka perang, yang disatukan oleh Nabi dalam panji suatu ummah, diselamatkan oleh Abu Bakar dari nyaris perpecahan dan kehencuran. Di sinilah keunggulan khalifah manfaatkan sumber daya manusia secara serentak untuk menumpas kaum Riddah.
            Di samping itu, juga Abu Bakar yang mengabdikannya, ialah atas usulan Umar ia berhasil membukukan al-Qur’an dalam satuan mushaf sebab setelah banyak penghafal al-Qur’an gugur dalam perang Riddah di Yamamah.
            Dengan demikian, tidak salah pemberian gelar istimewa kepada Abu Bakar oleh para sejarawan: “Abu Bakar is the savior of Islam after the prophet Muhammad SAW” (Abu Bakar adalah penyelamat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat).[5]
            Prestasi Abu Bakar As Siddiq r.a. adalah :
a)      Memerangi orang murtad.
b)      Memberantas nabi palsu.
c)      Penulisan dan Pengumpulan Al-Qur’an.
d)      Memperluas wilayah dakwah Islamiah

2.      Umar bin Khatab
            Umar bin Khatab r.a., nama lengkapnya adalah Umar bin Khatab bin Nufail keturunan Abdul Uzza al Quraisy dari suku Adi, salah satu suku yang terpandang dan mulia,Umar dilahirkan di Mekah, 4 tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW, periode Umar dari 634-644 M.
            Ketika menginjak remaja ia mendapat kepercayaan dari suku bangsanya, Quraisy untuk menjadi wakil dalam berbagai perundingan dengan suku-suku yang lain. Salah satu sifat yang menjadi karakter Umar bin Khatab r.a., adalah pemberani, tidak mengenal takut dan gentar, mempunyai ketabahan dan kemauan yang keras, serta tidak mengenal kata ragu dalam dirinya.[6]
            Dengan masuknya Umar bin Khatab r.a., kedalam barisan kaum muslimin, maka mulailah Islam mendapatkan amunisi baru untuk menyusun kekuatan dalam berdakwah. Memang benar setelah masuknya Umar ke dalam Islam, para sahabat menjadi lebih berani dengan terang-terangan berdakwah dan melakukan aktivitas keagamaan.Sebelum Abu Bakar As Sidiq r.a., meninggal dunia, ia telah menunjuk Umar bin Khatab r.a., sebagai penerusnya.
            Pengangkatan Umar mendapatkan persetujuan di kalangan kaum muslimin. Setelah dibaitnya Umar sebagai khalifah, Umar pun berkata kepada umatnya, “Orang-orang Arab bagaikan seekor unta yang keras kepala dan ini akan beralian dengan pengendara di mana jalan yang akan dilalui,begitulah aku akan menunjukan kepada kamu jalan yang lurus.” Umar menyebut dirinya sebagai “khalifah khalifati Rasulillah” (pengganti dari pengganti Rasulullah). Ia juga mendapat gelar sebagai Amir al Mukminin (komandan orang-orang mukmin), gelar ini diberikan sehubung dengan keberhasilan-keberhasilan Umar memerintah selama 10 tahun, Umar di bunuh oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Luluah.
Adapun Prestasi Umar adalah :
a)      Mendirikan beberapa departemen di dalam pemerintahan.
b)      Mengatur dan menertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah.
c)      Mendirikan pengadilan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif.
d)      Membentuk jawatan kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban negara.
e)      Mendirikan jawatan pekerjaan umum untuk mendukung pembangunan.
f)       Mendirikan Baitul Mal untuk melancarkan kesejahteraan umat.
g)      Mencetak mata uang sebagai sarana mangisyah dan muamalah (kehidupan ekonomi).
h)      Menetapkan penaggalan berdasarkan kalender tahun Hijriah.[7]

3.      Utsman bin Affan
            Utsman bin Affan r.a., nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf dari suku Qurasy.Lahir pada tahun 576 M di Taif. Ibunya yang bernama Urwah adalah putri Ummu Hakim al-Baidha, putri Abdul Muthalib.Nasab Ustman melalui garis ibunya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad SAW. Pada Abdi Manaf ibnu Qushayi. Nasab Utsman bersambung melalui Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, sedang nasab Rasulullah SAW, bersambung melalui Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ayah dari Utsman, Affan adalah seorang Ustman bin Affan r.a., masuk Islam melalui dakwah atau ajakan Abu Bakar dan menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi, ia adalah orang kaya dan berasal dari keluarga yang kaya raya, akan tetapi kehidupannya dijalani dengan sederhana, serta sebagian besar kekayaannya adalah untuk perjuangan agama Islam, periode Utsman dari 644-656 M.[8]
            Pemerintahan Utsman berlangsung selama 12 tahun. Pada paroh terakhir masa kekhalifaannya, muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya, pada tahun 35 H / 655 M, Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
            Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting di antaranya adalah Marwan bin Hakam. Dialah pada dasarnya menjalankan pemerintahan,sedangkan Utsman hanya menyandang gelar Khalifah.[9] Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Utsman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Utsman sendiri.
            Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegiatan yang penting. Utsman berjasa :
a.       Membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar.
b.      Mengatur bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar.
c.       Mengatur pembagian air ke kota-kota.
d.      Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, mesjid-mesjid, dan memperluas mesjid Nabi di Madinah.[10]

4.      Ali Bin Abi Thalib
            Ali bin Abi Thalib r.a., nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf. Dia dilahirkan di Mekah pada tanggal 13 Rajab sekitar tahun 600M. Ia merupakan anak laki-laki dari keempat dan terakhir dari Abu Thalib. Abu Thalib adalah adik dari Abdullah, ayah Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib adalah saudara sepupu Nabi Muhammad SAW.
            Dikatakan, ia masuk Islam pada usia 10 tahun. Setelah dewasa, Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan Fatimah az-Zahra, putri bungsu Nabi Muhammad SAW. Pernikahan ini terjadi 2 tahun setelah peristiwa hijrah, atau sekitar tahun 624 M.
            Setelah Utsman bin Affan r.a., wafat, melalui musyawarah masyarakat Muslim beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ali menerima baiat pada tanggal 24 juni 656 M atau tanggal 25 Dzulhijjah 36 H di Masjid Madinah.
            Ali bin Abi Thalib r.a., memerintah hanya 6 tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Pada masa pemerintahan di pindahkan dari Madinah ke Kufah. Alasan Ali memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah adalah karena ia tidak menginginkan kota suci ini terkotori kancah politik.Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para gubernur yng diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antar orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.
            Prestasi Ali bin Abi Thalib r.a., yaitu:
a)         Dalam perluasan dakwa Islam, Islam telah sampai ke daerah Said yang terletak di bagian barat India.
b)        Dalam urusan politik, khalifah Ali bin Abi Thalib r.a., mengganti para gubernur yang diangkat khalifah sebelumnya serta membasmi para pemberontak dan pembangkang kekhalifahan.
c)         Dalam urusan pembangunan, khalifah Ali bin Abi Thalib r.a., membangun kota Kufah dengan bentuk baru dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan.
d)        Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khalifah Ali bin Abi Thalib r.a., dikenal sebagai pembina yang menyusun dasar-dasar ilmu nahwu, ia mempunyai murid yang sangat cerdas bernama Aswad Ad Duali yang menyusun dasar-dasar ilmu nahwu untuk meluruskan bacaan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadis.[11]




BAB III
KESIMPULAN

Khulafaur Rasyidin atau Khalifah ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah 
(pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad wafat. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasar konsesus bersama umat Islam.
            Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung.
Masa Khulafaur Rasyidin ini tidak lebih dari 30 tahun. Pada masa ini
peradaban Islam mencapai puncak sebenarnya. Pada masa itu manusia telah mendapatkan kebahagiaan, mendapatkan perlakuan yang adil, persamaan hak, keamanan, rasa tentram, dan memperoleh segala kebutuhan asasi mereka. Umat Islam betul-betul masih berpegang kepada tali agama Allah yang lurus. Dalam artian ajaran Islam dijadikan sebagai dasar negara. Apa yang diperitahkan ole agama diyakini sebagai kebenaran mutlak dan mereka tidak ragu terjadap ajaran Islam itu sendiri.
            Di samping perkembangan peradaban Islam yang pesat, juga terdapat banyak hambatan, yaitu: munculnya nabi-nabi palsu setelah pasca meninggalnya Rasulullah, munculnya kelompok pemberontakan baik dari dalam maupun luar agama Islam, terjadinya perpecahan kaum muslim dipicu oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin menduduki posisi kekhalifahan.







DAFTAR PUSTAKA

A.    Sumber Buku
Amin, Ahmad. 1987. Islam dari Masa ke Masa. Bandung: CV Rusyada.

Maarif, Ahmad Syafii dan M. Amin Abdullah. 2007. Sejarah Pemikiran
dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Yatim, Badri. 2007. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.

B.     Sumber Internet
point-bab-13.pptx, pada tanggal 29 September 2016 pukul 13.20 WIB.

           





















[1] G.E, Bosworth, Dinasti-Dinasti Islam, Terj. Ilyas Hasan (Bandung: Mizan,1980), hlm.
23.
[2] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997), Hlm. 46.
[3]Ahmad Syafii Maarif dan M. Amin Abdullah, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam
(Yogyakarta: Pustaka Boo Publisher, 2007), hlm. 78-79.
[4] Ibid., Hlm. 82.
[5] Ibid., Hlm. 83-34.
[6] Diakses dari https://suaidinmath.files.wordpress.com/2015/08/power-point-bab-13.pptx, pada tanggal 29 September 2016 pukul 13.20 WIB.
[7] Ibid.,
[8] Ibid.,
[9] Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, (Bandung: CV Rusyada, 1987, cetakan pertama), Hlm. 87.
[10] Badri Yatim, M. A., Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 38-39.
[11]Diakses dari https://suaidinmath.files.wordpress.com/2015/08/power-point-bab-13.pptx, pada tanggal 29 September 2016 pukul 13.20

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar