BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Perkembangan pemikiran Marx memang tidak
lepas dari pengaruh filsuf-filsuf hebat seperti Hegel, Feuerbach, Smith, juga
Engels. von Magnis membagi lima tahap perkembangan pemikiran marx yang
dibedakan ke dalam pemikiran ‘Marx muda’ (young Marx) dan ‘Marx tua’ (mature
Marx). Gagasan dan pemikirannya terutama diawali dengan kajiannya terhadap
kritik Feuerbach atas konsep agamanya Hegel yang berkaitan dengan eksistensi
atau keberadaan Tuhan. Marx yang materialistik benar-benar menolak konsep Hegel
yang dianggapnya terlalu idealistik dan tidak menyentuh kehidupan keseharian.
Pemikiran-pemikirannya sosiologisnya
antara lain dialektika, teori keas sosial, determinisme ekonomi dan kritik
masyarakat. Mark sangat terkenal dengan dialektika materialis dan dialektika
historisnya karena bagi dia kekuatan yang mendorong manusia dalam sejarah
adalah cara manusia berhubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya,
yang abadi untuk merenggut kehidupan dari alam.
Munculnya kelas-kelas sosial dan hak milik
atas alat-alat produksi disebabkan karena usaha manusia untuk mengamankan dan
memperbaiki keadaan hidup. Usaha ini dilakukan dengan pembagian kerja yang
semakin spesialis. Masyarakat terbagi menjadi dua, yakni kelas penguasa dan
kelas pekerja. Pembagian yang semakin spesialis inilah yang akhirnya membuat
perbedaan tajam antara hidup seseorang yang berada di kelas penguasa dan kelas
bawah. Oleh karena itu Mark di dalam bukunya “the Communist Manifesto” berusaha
mengubah faham kapitalus menjadi komunis menurut Karl Marx. Namun hal itu tidak
semudah untuk merubah keadaan yang pada awalnya menganut paham kapitalis
menjadi sebuah keadaan tanpa hak atas milik pribadi.
Oleh karena itu sangat menarik sekali
untuk mengkaji tentang pemikiran Karl Marx, kami penulis akan mencoba mengulas
mengenai bagaimana latar belakang timbulnya pemikiran Karl Marx, Biografi Karl
Marx, serta pemikiran Karl Marx itu sendiri sehingga dapat menambah wawasan dan
pengetahuan kita mengenai pemikiran salah satu ahli filsafat terbesar sepanjang
zaman.
- Rumusan Masalah
Rumusal
masalah makalah ini antara lain adalah :
1. Bagaimanakah Biografi Karl Marx?
2. Bagaimana Pemikirain Karl Marx tentang Ekonomi Kapitalis ?
- Tujuan
Tujuan
dari pembahasan makalah ini antara lain adalah :
1. Mengetahui bagaimana biografi Karl Marx.
2. Mengetahui Pemikirain Karl Marx tentang Ekonomi Kapitalis
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Biografi Karl Marx
Karl Marx lahir di Trier, Prussia, pada 5 Mei 1818
(Beilharz, 2005e). Ayahnya adalah seorang pengacara, memberikan kehidupan
keluarga kelas menengah yang agak khas. Kedua orang tuanya berasal dari
keluarga rabbi, tetapi karena alasan-alasan bisnis, sang ayah telah berpindah
agama ke Lutheranisme ketika Karl masih sangat muda. Pada 1841 Marx menerima
gelar doktornya di bidang filsafat dari Universitas Berlin, yang sangat
dipengaruhi oleh Hegel dan para Hegelian muda, yang bersikap mendukung, namun
kritis terhadap guru mereka. Disertasi Marx adalah suatu risalat filosofis yang
kering, tetapi benar-benar mengantisipasi banyak dari idenya di kemudian hari.
Setelah lulus dia menjadi seorang penulis untuk sebuah koran yang
liberal-radikal dan dalam sepuluh bulan dia telah menjadi kepala editornya.
Akan tetapi, karena pendirian-pendirian politisnya, koran itu ditutup oleh pemerintah
tidak lama kemudian. Esai-esai awal yang diterbitkan di dalam periode ini mulai
mencerminkan sejumlah pendirian yang akan menuntun Marx di sepanjang hidupnya.
Pendirian-pendirian itu dibubuhi secara liberal dengan prinsip-prinsip
demokratis, humanisme, dan idealisme anak muda. Dia menolak keabstrakan
filsafat Hegelian, mimpi yang naif para komunis utopian, dan menolak para
aktivis yang sedang mendesakkan hal yang oleh Marx dianggap sebagai tindakan
politis pengatur. Dalam menolak para aktivis tersebut, Marx meletakkan dasar
bagi pekerjaannya sepanjang hayat:
Usaha-usaha praktis, oleh massa sekalipun, bisa segera
dijawab dengan Meriam bila sudah membahayakan, tetapi ide-ide yang telah
mengalahkan intelek kita dan menundukkan keyakinan kita, ide-ide yang telah
memaku suara hati kita, adalah rantai-rantai yang tidak dapat dilepaskan orang
tanpa mematahkan hatinya ; mereka adalh setan-setan yang dapat dikalahkan orang
hanya dengan menyerahkan diri kepadanya.(Marx, 1842/1977: 20)
Marx menikah pada 1843 dan tidak lama kemudian
terpaksa meninggalkan Jerman untuk mencari suasana yang lebih liberal di
Paris. Di sana dia terus bergumul dengan
ide-ide Hegel dan para pendukungnya, tetapi dia juga menjumpai dua kumpulan ide
yang baru – sosialisme Prancis dan ekonomi politis Inggris. Caranya
menggabungkan Hegelianisme, sosialisme, dan ekonomi politis yang membentuk
orientasi intelektualnya unik. Juga yang sangat penting pada titik tersebut
ialah pertemuannya dengan orang yang kemudian menjadi sahabat seumur hidup,
dermawan, dan kolaboratornya-Friedrich Engels (Carver, 1983). Putra seorang
pemilik pabrik tekstil, Engelsmenjadi seorang sosialis yang kritis terhadap
kondisi-kondisi yang sedang dihadapi kelas pekerja. Banyak rasa iba Marx untuk
kesengsaraan kelas pekerja berasal dari pembukaan dirinya kepada Engels dan
ide-idenya. Pada 1844 Engels dan Marx melakukan percakapan yang panjang di
sebuah kafe yang terkenal di Paris dan meletakkan dasar-dasar bagi hubungan
mereka yang berlangsung seumur hidup. Mengenai percakapan itu Engels
mengatakan, “kesepakatan kami yang lengkap di semua bidang teoritis menjadi
jelas … dan kerja sama kami dimulai sejak saat itu” (McLellan, 1973: 131). Pada
tahun berikutnya, Engels menerbitkan suatu karya yang terkenal, The Condition on the Working Class in
England. Selama periode tersebut Marx menulis sejumlah karya yang sulit
dimengerti (banyak yang tidak diterbitkan semasa hidupnya), termasuk The Holy Family (1845/1956) dan The German Ideology (1845-1846/1970) (keduanya ditulis bersama Engels),
tetapi dia juga menulis The Economic and
Philosophic Manuscripts of 1844 (1932/1964), yang membayangkan
pergulatannya kelak yang kian meningkat di ranah ekonomi.
Sementara Marx dan Engels menganut orientasi teoritis
yang sama, ada banyak perbedaan di antara kedua pria itu.
2.
Teori Pemikiran Karl Marx
1. Kapitalisme Sebagai Hal Yang Baik
Menurut Marx, setiap
masyarakat ditandai oleh
infrastruktur
dan superstruktur. Infrastruktur dalam masyarakat berwujud struktur ekonomi.
Superstruktur meliputi ideology, hukum, pemerintahan, keluarga, agama, budaya
dan juga standar moralitasnya. Menurutnya, bahwa hubungan antara infrastruktur
ekonomi dan superstruktur budaya dan struktur sosial yang dibangun atas dasar
itu merupakan akibat langsung yang wajar dari kedudukan meterialisme historis.
Adaptasi manusia terhadap lingkungan materiilnya selalu melalui
hubungan-hubungan ekonomi tertentu, dan hubungan ini sangatlah dekat, sehingga
semua hubungan-hubungan sosial lainnya juga dibentuk oleh hubungan ekonomi.[1] Struktur ekonomi merupakan landasan tempat membangun semua basis
kekuatan lainnya, dengan demikian perubahan cara produksi menyebabkan perubahan
dalam semua hubungan sosial manusia. Proses produksi yang dilakukan manusia
dalam perkembangan masyarakat industri melibatkan dua kelas yang saling
bertentangan, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Marx membahas secara
detail berkaitan dengan teori kelas dalam buku yang ditulisnya bersama
Friedrich Engels yang berjudul The Communist Manifesto. Dua kelas ini
memiliki posisi yang sangat berbeda. Kelas borjuis di sini dikenal sebagai
kelas pemilik modal (wong sugih), sedangkan kelas proletar merupakan
kelas pekerja (buruh/wong cilik) yang mempunyai ketergantungan sangat
tinggi terhadap kelas borjuis.31 Dalam praktiknya kedua kelas tersebut sering terjadi pertentangan,
karena kelas borjuis sering melakukan penindasan pada tenaga maupun pikiran
dari kelas proletar. Kelas borjuis dianggap menikmati kenikmatan di atas penderitaan
kelas proletar, sehingga kelas proletar berada dalam posisi yang tidak
menguntungkan serta mengalami kondisi hidup dalam kemiskinan serta keterasingan
(alienasi) yang semakin meningkat. Menurut Marx, bahwa kelas-kelas akan
timbul apabila hubungan-hubungan produksi melibatkan suatu pembagian tenaga kerja
yang beraneka ragam, yang memungkinkan terjadinya penumpukan suplus produksi.[2]
Mark, melihat kapitalism terutama sebagai hal
yang baik. Marx tiak ingin kembali kenilai-nilai tradisional prakapitalisme.
Generasi-generasi masalampau benar-benar dieksploitasi; perbedaannya hanyalah
eksploitasi lama tidak terselubung di balik uatu sistem ekonomi. Kelahiran
kapitalisme membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk kebebasan para pekerja.
Meskipun ada eksploitasi, sistem kapitalis memberikan kemungkinan untuk kebebasan
dari tradisi-tradisi yang mengikat masyarakat sebelumnya. Meskipun para pekerja
belum benar-benar bebas sepenuhnya. Marx percaya bahwa kapitalisme adalah akar
yang menyebabkan ciri-ciri penentuan zaman modern. Perubahan terus menerus
modernitas dan kecondongannya untuk menentang segala tradisi yang di terima di
dorong oleh kompetisi yang tidak dapat dipisahkan dalam kapitalisme. Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam teori
kelas, yaitu: (1) Besarnya peran struktural dibanding kesadaran dan moralitas.
Implikasinya bukan perubahan sikap yang mengakhiri konflik, tetapi perubahan
struktur ekonomi. (2) adanya pertentangan kepentingan kelas pemilik dan kelas
buruh. Implikasinya mereka mengambil sikap dasar yang berbeda dalam perubahan
sosial. Kelas buruh cenderung progresif dan revolusioner, sementara kelas
pemilik modal cenderung bersikap mempertahankan status quo menentang
segala bentuk perubahan dalam struktur kekuasaan. (3) setiap kemajuan dalam
masyarakat hanya akan dapat dicapai melalui gerakan revolusioner. Semua itu
pemikiran Karl Marx bermuara pada tujuan akhir yang dicita-citakannya, yakni
“masayarakat tanpa kelas”[3]
E.
Ciri-ciri Ekonomi Kapitalis
Ekonomi kapitalis berjalan menurut serangkaian
karakteristik yang khas. Di antaranya akan kita sebutkan di bawah ini:
1. Pada dasarnya, produksi terdiri
dariproduksi kooditi yaitu, produksi yang bertujuan untuk di jual di pasar.
Jika komoditi yang di produksi tidak terjual di atas harga yang ada, perusahaan
kapitalis dan borjuis secara keseluruhan tidak akan mendapat keuntungan atau
nilai lebih dari pekerja.
2. Produksi di jalankandalam kondisi di mana
alat produksi dimiliki secara pribadi. Kepemilikan pribadi ini bukanlah
kategori legal, tetapi pada intinya adalah kategori ekonomi. Hal tersebut
berarti bahwa kekuasaan untuk mengatur tenaga produktif (alat produksi dan alat
kerja) bukan milik kolektif, melainkan terbagi-bagi antara
perusahaan-perusahaan yang di kontrol oleh kelompok-kelompok dan
kelompok-kelompok finansial).
3.
Produksi
di jalankan untuk sebuah pasar yang tidak terbatas. Produksi di atur oleh printah kompetisi. Semenjak produksi
tidak di batasi oleh kebiasaan (seperti dalam komunitas priitif), atau oleh
hukum dan peraturan (seperti dalam perusahaan Abad Pertengahan), setiap
individu kapitalis (setiap pemilik pribadi, tiap perusahaan atau kelompok
kapitalis) berusaha untuk mendapatkan keuntungan terbesar, untuk mendapat
bagian terbesar dari pasar.
4.
Tujuan
prodksi kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan. Kelas pemilik para kapitalis
hidup dari produk surplus sosial,uumnya mengkonsumsi dalam cara yang tidak
produktif. Kelas kapitalis juga mengkonsumsi secara tidak produktif sebagian
dari surplus sosial, sebagian dari keuntungan yang di dapatkanya. Jalan yang
paling efisien menurunkan biaya produksi
(harga biaya) adalah, untuk meperbesar basis produksi dengan kata lain, untuk
memproduksi lebih, dengan bantuan mesin-mesin yang makin cangih. Tetapi hal
tersebut membutuhkan jumlah kapitalis yang besar. Karenanya, di bawah cambukan kompetisi, kapitalisme di wajibkan untuk
mencari maksimalisasi keuntungan, agar mengembangkan investasi produktif
hinggga maksimal.
5.
Karena
itu, produksi kapitalis muncul menjadi produk yang tidak hanya untuk memperoleh
keuntungan tetepi juga untuk akumulasi
kapital. Sesungguhnya logika
kapitalisme membutuhkan sebagian besar nilai lebih yang di akumulasikan secara
produktif (di rubah menjadi kapital tambahan, dalam bentuk mesin-mesin dan
bahan-bahan baku tambahan, dan pekerja tambahan) dan di konsumsi secara tidak
produktif.
Produksi yang bertujuan untuk akumulasi kapital
ternyata menuju pada hasil yang kontradiktif. Di satu sisi, meningkatnya
perkembangan mekanisasi mengakibatkan perluasan
tenaga produktif dan kenaikan dalam produktivitas kerja, menciptakan dasar
material bagi pembebasan umat manusia dari kebutuhan “bekerja banting tulang”.
Itulah fungsi sejarah progresif dari kapitalisme.
·
Berjalannya
Ekonomi Kapitalis
Dalam rangka mendapatkankeuntungan maksimum dan
mengembangkan akumulasi kapital sebesar mungkin, kapitalis di paksa mengurangi
hingga minimum bagian nilai baru yang di hasilkan oleh tenaga kerja yang di
kembalikan kepadanya dalam bentuk upah. Nilai baru ini, “nilai yang di
tambahkan” atau ”pendapatan nasional”,
pada dasarnya di tentukan dariproses produktif itu sendiri,terlepas dari faktor
apapun dalam sisi distribusi.
Dua cara esensial dimana kapitalis mencoba untuk
meningkatkan bagian mereka yaitu, nilai lebih adalah:
1. Menambah jam kerja tanpa meningkatkan upah
harian (yang terjadi sejak Abad Keenambelas sampai Abad Kesembilanbelas di
Barat, dan masih berlangsung hingga hari ini di berbagai negeri-negeri kolonial
dan semi-kolonial), pengurangan upah riil, penurunan “kebutuhan hidup minimum”.
Ini yang di sebut oleh marx dengan pertumbuhan dalam nilai lebih absolut.
2. Peningkatan produktifitas kerja dalam
bidang barang-barang konsumen (ini mendominasi di barat dari paruh dua abad
Kesembilan belas hingga sekarang). Setelah kenaikan produktivitas kerja dalam
industri barang-barang konsumen dan pertanian, rata-rata pekerja industri
menghasilkan nilai barang yang sudah di tentukan jumlahnya selama katakan saja
tiga jam kerja yang sebelumnya lima jam.
Setiap kapitalis mencoba mendapatkan keuntungan
maksimum. Tapi untuk mendapatkanya, mereka harus berusaha untuk meningkatkan
produksi secara maksimum, dan tanpa henti menurunkan harga biaya dan eceran
(diekspresikan dalam unit moneter stabil). Karena hal itu, kompetisi beroprasi
sebagai proses selektif di antara perusahaan kapitalis dengan syarat-syarat
yang sedang. Hanya yang paling produktif dan paling aktif bertahan hidup.
Mereka yang menjual terlalu mahal tidak akan mendapat keuntungan sama sekali.
·
Kapital, Kapitalis dan Ploretariat
Marx menemukan inti masyarakat kapitalis didalam
komoditas. Suatu masyarakat didominasi oleh
objek-objek yang nilai utamanya adalah pertukaran yang memproduksi
kategori-kategori masyarakat tertentu.
Dua tipe utama yang menjadi perhatian Marx adalah proleariat dan
kapitalis.
Proletariat adalah para pekerja yang menjual kerja
mereka dan tidak memiliki alat-aat produksi sendiri. Mereka tidak memilik sarana-sarana sendiri
dan pabrik-pabrik sendiri, tetapi marx
percaya bahwa ploretariat bahkan akan kehilangan keterampilan mereka seiring
dengan meningkatnya mesin-mesin yang mengantikan mereka. Karena proletariat hanya memproduksi demi
pertukaran, maka mereka juga konsumen.
Karena mereka tidak memiliki sarana-sarana untuk memproduksi
sarana-sarana untuk memproduksi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, maka mereka
harus menggunakan upah yang mereka peroleh untuk membeli apa yang mereka
butuhkan. Maka dari itu proletariat
tergantung sepenuhnya pada upahnya untuk bertahan hidup. Hal inilah yang membuat proletariat tergantung
pada orang yang memberi upah.
Orang yang memberi upah adalah kapitalis, jelas adalah
kapialis adalah orang-orang yang memiliki alat produksi. Kapital adalah uang yang menghasilkan lebih
banyak uang. Dengan kata lain, kapital
lebih merupakan uang yang di investasikan ketimbang uang yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan dan keingginan manusia.
Jadi kapitalisme adalah uang yang menghasilkan lebih
banyak uang, namun Marx mengungkapkan
kepada kita bahwa kapital bukan hanya itu : kapital juga merupakan sebuah
resolusi sosial tertentu. dengan kata
lain uang hanya akan menjadi kapital, karena adanya relasi sosial antara
proletariat yang bekerja dan harus membeli produk dengan orang yang
menginvestasikan upahnya. Kapitalis kapital untuk memperoleh keuntunagan
terlihat sebagai kekuatan yang di bantu oleh alam- suatu kekuatan produktif imanen
didalam kapital.
·
Akhir dari Kapitalisme
Marx berpandangan, bahwa suatu saat kaum
proletar akan menyadari akan kepentingan bersama mereka, sehingga akan
membangun kekuatan untuk memberontak pada kelas borjuis. Dari situasi konflik
antar kelas, maka sistem kapitalis tidak hanya menciptakan penghalang antara
buruh dengan pekerjaannya serta dari lingkungan sosial sekitarnya. Selain itu,
kapitalisme juga telah memisahkan individu dari dirinya sendiri. Para buruh
kehilangan kebebasan individual karena telah dirampas oleh sistem yang telah
melingkupinya. Mereka tidak memiliki waktu, tenaga, serta keinginan sendiri
karena dipenjara oleh sistem yang diterimanya sebagai sebuah kenyataan. Padahal
menurut Marx
sistem kapitalisme dapat dicegah.[4] Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud, namun pandangan Marx
berkaitan dengan stratifikasi sosial tetap berpengaruh bagi pemikiran sejumlah
ilmuan. Pemikiran Marx berpengaruh besar terhadap perubahan sosial besar yang
melanda Eropa barat sebagai dampak perkembangan pembagian kerja, khususnya yang
berkaitan dengan kapitalisme.[5]
Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme yang
berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis
tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme
akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme.
Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan
berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja
internasional.“Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh
negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil
dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis.
Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat
ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang
ada dari saat ini. – Ideologi Jerman-
Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik
kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi
dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis
biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan
bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan
Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh
kontrol pemerintah untuk dipelajari.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Suatu diskusi mengenai pendekatan
dialektis yang diperoleh Marx dari Hegel bahwa masyarakat disusun sekitar
kontradiksi-kontradiksi yang dapat dipecahkan hanya melalui perubahan sosial
yang nyata. Salah satu dari kontradiksi-kontradiksi utama yang dilihat Marx
ialah diantara Potensi Manusia dan kondisi Kapitalisme.
Dalam masyarakat kapitalis terdapat
konsep komoditas dan kontradiksi nilai guna dan niilai tukarnya. Dalam hal ini
kemampuan modal untuk menghasilkan keuntungan terletak pada eksploitasi kaum
ploletariat. Kontradiksi tersebut menyebabkan konflik kelas diantara kaum
proletariat dan borjuis, yang pada akhirnya akan menghasilkan revolusi karena
proletarianisasi akan memperbanyak barisan kaum ploretariat.
Meskipun dia mengkritik kapitalisme,
Marx percaya bahwa kapitalisme baik dan bahwa kritiknya atasnya adalah dari
pesrpektif potensi masa depannya. Marx merasa bahwa dia mampu memandang dari
masa depan potensial kapitalisme karena konsepsi materialisnya atas sejarah.
Dengan memfokuskan pada kekuatan-kekuatan produksi, Marx mampu memprediksi
kecenderungan-kecenderungan historis yang memungkinkannya mengidentifikasi di
mana tidakan politis dapat menjadi efektif. Tindakan politis da bahkan revolusi
dibutuhkan karena hubungan-hubungan produksi dan ideologi dapat menahan
perkembangan kekuatan-kekuatan produksi yang diperlukan. Menurut pandangan
Marx, perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya akan mendatangkan masyarakat komunis.
DAFTAR PUSTAKA
Arisandi,
Herman, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik sampai
Modern, Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.
Maksum, Ali, Pengantar Filsafat dari
Masa Kalsik Hingga Posmodernisme, Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2015.
Wirawan, I.B., Teori-Teori Sosial dalam
Tiga Paradigma, Jakarta: Prenadamedia, 2014.
Giddens, Anthony, Kapitalisme dan Teori
Sosial Modern: Suatu Analisis Terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber,
diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata, dari Capitalism and Modern Social
Theory: an Analysis of Writing of Marx, Durkheim and Max Weber, Jakarta:
Universitas Indonesia Press, 1986.
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi
Klasik dan Modern, diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang, dari Sociological
Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives, Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1994.
[1] Doyle Paul Johnson, Teori
Sosiologi Klasik dan Modern, diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang, dari Sociological
Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1994), hlm. 134-135.
[2] Anthony Giddens, 1986, Kapitalisme...,
hlm. 46.
[3] I.B. Wirawan, Teori-Teori...,
hlm. 9-10.
[4] Herman Arisandi, Buku
Pintar..., hlm. 48.
[5] Ali Maksum, Pengantar..., hlm.
156.



0 komentar:
Posting Komentar