Selasa, 11 September 2018

Siapa Itu Karl Marx ?


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Perkembangan pemikiran Marx memang tidak lepas dari pengaruh filsuf-filsuf hebat seperti Hegel, Feuerbach, Smith, juga Engels. von Magnis membagi lima tahap perkembangan pemikiran marx yang dibedakan ke dalam pemikiran ‘Marx muda’ (young Marx) dan ‘Marx tua’ (mature Marx). Gagasan dan pemikirannya terutama diawali dengan kajiannya terhadap kritik Feuerbach atas konsep agamanya Hegel yang berkaitan dengan eksistensi atau keberadaan Tuhan. Marx yang materialistik benar-benar menolak konsep Hegel yang dianggapnya terlalu idealistik dan tidak menyentuh kehidupan keseharian.
Pemikiran-pemikirannya sosiologisnya antara lain dialektika, teori keas sosial, determinisme ekonomi dan kritik masyarakat. Mark sangat terkenal dengan dialektika materialis dan dialektika historisnya karena bagi dia kekuatan yang mendorong manusia dalam sejarah adalah cara manusia berhubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, yang abadi untuk merenggut kehidupan dari alam.
Munculnya kelas-kelas sosial dan hak milik atas alat-alat produksi disebabkan karena usaha manusia untuk mengamankan dan memperbaiki keadaan hidup. Usaha ini dilakukan dengan pembagian kerja yang semakin spesialis. Masyarakat terbagi menjadi dua, yakni kelas penguasa dan kelas pekerja. Pembagian yang semakin spesialis inilah yang akhirnya membuat perbedaan tajam antara hidup seseorang yang berada di kelas penguasa dan kelas bawah. Oleh karena itu Mark di dalam bukunya “the Communist Manifesto” berusaha mengubah faham kapitalus menjadi komunis menurut Karl Marx. Namun hal itu tidak semudah untuk merubah keadaan yang pada awalnya menganut paham kapitalis menjadi sebuah keadaan tanpa hak atas milik pribadi.
Oleh karena itu sangat menarik sekali untuk mengkaji tentang pemikiran Karl Marx, kami penulis akan mencoba mengulas mengenai bagaimana latar belakang timbulnya pemikiran Karl Marx, Biografi Karl Marx, serta pemikiran Karl Marx itu sendiri sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai pemikiran salah satu ahli filsafat terbesar sepanjang zaman.

  1. Rumusan Masalah
Rumusal masalah makalah ini antara lain adalah :
1.      Bagaimanakah Biografi Karl Marx?
2.      Bagaimana Pemikirain Karl Marx tentang Ekonomi Kapitalis ?
  1. Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini antara lain adalah :
1.      Mengetahui bagaimana biografi Karl Marx.
2.      Mengetahui Pemikirain Karl Marx tentang Ekonomi Kapitalis













BAB II
PEMBAHASAN

1.    Biografi Karl Marx
Karl Marx lahir di Trier, Prussia, pada 5 Mei 1818 (Beilharz, 2005e). Ayahnya adalah seorang pengacara, memberikan kehidupan keluarga kelas menengah yang agak khas. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga rabbi, tetapi karena alasan-alasan bisnis, sang ayah telah berpindah agama ke Lutheranisme ketika Karl masih sangat muda. Pada 1841 Marx menerima gelar doktornya di bidang filsafat dari Universitas Berlin, yang sangat dipengaruhi oleh Hegel dan para Hegelian muda, yang bersikap mendukung, namun kritis terhadap guru mereka. Disertasi Marx adalah suatu risalat filosofis yang kering, tetapi benar-benar mengantisipasi banyak dari idenya di kemudian hari. Setelah lulus dia menjadi seorang penulis untuk sebuah koran yang liberal-radikal dan dalam sepuluh bulan dia telah menjadi kepala editornya. Akan tetapi, karena pendirian-pendirian politisnya, koran itu ditutup oleh pemerintah tidak lama kemudian. Esai-esai awal yang diterbitkan di dalam periode ini mulai mencerminkan sejumlah pendirian yang akan menuntun Marx di sepanjang hidupnya. Pendirian-pendirian itu dibubuhi secara liberal dengan prinsip-prinsip demokratis, humanisme, dan idealisme anak muda. Dia menolak keabstrakan filsafat Hegelian, mimpi yang naif para komunis utopian, dan menolak para aktivis yang sedang mendesakkan hal yang oleh Marx dianggap sebagai tindakan politis pengatur. Dalam menolak para aktivis tersebut, Marx meletakkan dasar bagi pekerjaannya sepanjang hayat:
Usaha-usaha praktis, oleh massa sekalipun, bisa segera dijawab dengan Meriam bila sudah membahayakan, tetapi ide-ide yang telah mengalahkan intelek kita dan menundukkan keyakinan kita, ide-ide yang telah memaku suara hati kita, adalah rantai-rantai yang tidak dapat dilepaskan orang tanpa mematahkan hatinya ; mereka adalh setan-setan yang dapat dikalahkan orang hanya dengan menyerahkan diri kepadanya.(Marx, 1842/1977: 20)

Marx menikah pada 1843 dan tidak lama kemudian terpaksa meninggalkan Jerman untuk mencari suasana yang lebih liberal di Paris.  Di sana dia terus bergumul dengan ide-ide Hegel dan para pendukungnya, tetapi dia juga menjumpai dua kumpulan ide yang baru – sosialisme Prancis dan ekonomi politis Inggris. Caranya menggabungkan Hegelianisme, sosialisme, dan ekonomi politis yang membentuk orientasi intelektualnya unik. Juga yang sangat penting pada titik tersebut ialah pertemuannya dengan orang yang kemudian menjadi sahabat seumur hidup, dermawan, dan kolaboratornya-Friedrich Engels (Carver, 1983). Putra seorang pemilik pabrik tekstil, Engelsmenjadi seorang sosialis yang kritis terhadap kondisi-kondisi yang sedang dihadapi kelas pekerja. Banyak rasa iba Marx untuk kesengsaraan kelas pekerja berasal dari pembukaan dirinya kepada Engels dan ide-idenya. Pada 1844 Engels dan Marx melakukan percakapan yang panjang di sebuah kafe yang terkenal di Paris dan meletakkan dasar-dasar bagi hubungan mereka yang berlangsung seumur hidup. Mengenai percakapan itu Engels mengatakan, “kesepakatan kami yang lengkap di semua bidang teoritis menjadi jelas … dan kerja sama kami dimulai sejak saat itu” (McLellan, 1973: 131). Pada tahun berikutnya, Engels menerbitkan suatu karya yang terkenal, The Condition on the Working Class in England. Selama periode tersebut Marx menulis sejumlah karya yang sulit dimengerti (banyak yang tidak diterbitkan semasa hidupnya), termasuk The Holy Family  (1845/1956) dan The German Ideology (1845-1846/1970) (keduanya ditulis bersama Engels), tetapi dia juga menulis The Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 (1932/1964), yang membayangkan pergulatannya kelak yang kian meningkat di ranah ekonomi.
Sementara Marx dan Engels menganut orientasi teoritis yang sama, ada banyak perbedaan di antara kedua pria itu.





2.    Teori Pemikiran Karl Marx
1.    Kapitalisme Sebagai Hal Yang Baik
  Menurut Marx, setiap masyarakat ditandai oleh infrastruktur dan superstruktur. Infrastruktur dalam masyarakat berwujud struktur ekonomi. Superstruktur meliputi ideology, hukum, pemerintahan, keluarga, agama, budaya dan juga standar moralitasnya. Menurutnya, bahwa hubungan antara infrastruktur ekonomi dan superstruktur budaya dan struktur sosial yang dibangun atas dasar itu merupakan akibat langsung yang wajar dari kedudukan meterialisme historis. Adaptasi manusia terhadap lingkungan materiilnya selalu melalui hubungan-hubungan ekonomi tertentu, dan hubungan ini sangatlah dekat, sehingga semua hubungan-hubungan sosial lainnya juga dibentuk oleh hubungan ekonomi.[1] Struktur ekonomi merupakan landasan tempat membangun semua basis kekuatan lainnya, dengan demikian perubahan cara produksi menyebabkan perubahan dalam semua hubungan sosial manusia. Proses produksi yang dilakukan manusia dalam perkembangan masyarakat industri melibatkan dua kelas yang saling bertentangan, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Marx membahas secara detail berkaitan dengan teori kelas dalam buku yang ditulisnya bersama Friedrich Engels yang berjudul The Communist Manifesto. Dua kelas ini memiliki posisi yang sangat berbeda. Kelas borjuis di sini dikenal sebagai kelas pemilik modal (wong sugih), sedangkan kelas proletar merupakan kelas pekerja (buruh/wong cilik) yang mempunyai ketergantungan sangat tinggi terhadap kelas borjuis.31 Dalam praktiknya kedua kelas tersebut sering terjadi pertentangan, karena kelas borjuis sering melakukan penindasan pada tenaga maupun pikiran dari kelas proletar. Kelas borjuis dianggap menikmati kenikmatan di atas penderitaan kelas proletar, sehingga kelas proletar berada dalam posisi yang tidak menguntungkan serta mengalami kondisi hidup dalam kemiskinan serta keterasingan (alienasi) yang semakin meningkat. Menurut Marx, bahwa kelas-kelas akan timbul apabila hubungan-hubungan produksi melibatkan suatu pembagian tenaga kerja yang beraneka ragam, yang memungkinkan terjadinya penumpukan suplus produksi.[2]
  Mark, melihat kapitalism terutama sebagai hal yang baik. Marx tiak ingin kembali kenilai-nilai tradisional prakapitalisme. Generasi-generasi masalampau benar-benar dieksploitasi; perbedaannya hanyalah eksploitasi lama tidak terselubung di balik uatu sistem ekonomi. Kelahiran kapitalisme membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk kebebasan para pekerja. Meskipun ada eksploitasi, sistem kapitalis memberikan kemungkinan untuk kebebasan dari tradisi-tradisi yang mengikat masyarakat sebelumnya. Meskipun para pekerja belum benar-benar bebas sepenuhnya. Marx percaya bahwa kapitalisme adalah akar yang menyebabkan ciri-ciri penentuan zaman modern. Perubahan terus menerus modernitas dan kecondongannya untuk menentang segala tradisi yang di terima di dorong oleh kompetisi yang tidak dapat dipisahkan dalam kapitalisme. Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam teori kelas, yaitu: (1) Besarnya peran struktural dibanding kesadaran dan moralitas. Implikasinya bukan perubahan sikap yang mengakhiri konflik, tetapi perubahan struktur ekonomi. (2) adanya pertentangan kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh. Implikasinya mereka mengambil sikap dasar yang berbeda dalam perubahan sosial. Kelas buruh cenderung progresif dan revolusioner, sementara kelas pemilik modal cenderung bersikap mempertahankan status quo menentang segala bentuk perubahan dalam struktur kekuasaan. (3) setiap kemajuan dalam masyarakat hanya akan dapat dicapai melalui gerakan revolusioner. Semua itu pemikiran Karl Marx bermuara pada tujuan akhir yang dicita-citakannya, yakni “masayarakat tanpa kelas”[3]
E. Ciri-ciri Ekonomi Kapitalis
Ekonomi kapitalis berjalan menurut serangkaian karakteristik yang khas. Di antaranya akan kita sebutkan di bawah ini:
1.      Pada dasarnya, produksi terdiri dariproduksi kooditi yaitu, produksi yang bertujuan untuk di jual di pasar. Jika komoditi yang di produksi tidak terjual di atas harga yang ada, perusahaan kapitalis dan borjuis secara keseluruhan tidak akan mendapat keuntungan atau nilai lebih dari  pekerja.
2.      Produksi di jalankandalam kondisi di mana alat produksi dimiliki secara pribadi. Kepemilikan pribadi ini bukanlah kategori legal, tetapi pada intinya adalah kategori ekonomi. Hal tersebut berarti bahwa kekuasaan untuk mengatur tenaga produktif (alat produksi dan alat kerja) bukan milik kolektif, melainkan terbagi-bagi antara perusahaan-perusahaan yang di kontrol oleh kelompok-kelompok dan kelompok-kelompok finansial).
3.      Produksi di jalankan untuk sebuah pasar yang tidak terbatas. Produksi di atur oleh printah kompetisi. Semenjak produksi tidak di batasi oleh kebiasaan (seperti dalam komunitas priitif), atau oleh hukum dan peraturan (seperti dalam perusahaan Abad Pertengahan), setiap individu kapitalis (setiap pemilik pribadi, tiap perusahaan atau kelompok kapitalis) berusaha untuk mendapatkan keuntungan terbesar, untuk mendapat bagian terbesar dari pasar.
4.      Tujuan prodksi kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan. Kelas pemilik para kapitalis hidup dari produk surplus sosial,uumnya mengkonsumsi dalam cara yang tidak produktif. Kelas kapitalis juga mengkonsumsi secara tidak produktif sebagian dari surplus sosial, sebagian dari keuntungan yang di dapatkanya. Jalan yang paling efisien  menurunkan biaya produksi (harga biaya) adalah, untuk meperbesar basis produksi dengan kata lain, untuk memproduksi lebih, dengan bantuan mesin-mesin yang makin cangih. Tetapi hal tersebut membutuhkan jumlah kapitalis yang besar. Karenanya, di bawah cambukan kompetisi, kapitalisme di wajibkan untuk mencari maksimalisasi keuntungan, agar mengembangkan investasi produktif hinggga maksimal.
5.      Karena itu, produksi kapitalis muncul menjadi produk yang tidak hanya untuk memperoleh keuntungan tetepi juga untuk akumulasi kapital. Sesungguhnya  logika kapitalisme membutuhkan sebagian besar nilai lebih yang di akumulasikan secara produktif (di rubah menjadi kapital tambahan, dalam bentuk mesin-mesin dan bahan-bahan baku tambahan, dan pekerja tambahan) dan di konsumsi secara tidak produktif.
Produksi yang bertujuan untuk akumulasi kapital ternyata menuju pada hasil yang kontradiktif. Di satu sisi, meningkatnya perkembangan mekanisasi mengakibatkan perluasan tenaga produktif dan kenaikan dalam produktivitas kerja, menciptakan dasar material bagi pembebasan umat manusia dari kebutuhan “bekerja banting tulang”. Itulah fungsi sejarah progresif dari kapitalisme.
·           Berjalannya Ekonomi Kapitalis
Dalam rangka mendapatkankeuntungan maksimum dan mengembangkan akumulasi kapital sebesar mungkin, kapitalis di paksa mengurangi hingga minimum bagian nilai baru yang di hasilkan oleh tenaga kerja yang di kembalikan kepadanya dalam bentuk upah. Nilai baru ini, “nilai yang di tambahkan”  atau ”pendapatan nasional”, pada dasarnya di tentukan dariproses produktif itu sendiri,terlepas dari faktor apapun dalam sisi distribusi.
Dua cara esensial dimana kapitalis mencoba untuk meningkatkan bagian mereka yaitu, nilai lebih adalah:
1.      Menambah jam kerja tanpa meningkatkan upah harian (yang terjadi sejak Abad Keenambelas sampai Abad Kesembilanbelas di Barat, dan masih berlangsung hingga hari ini di berbagai negeri-negeri kolonial dan semi-kolonial), pengurangan upah riil, penurunan “kebutuhan hidup minimum”. Ini yang di sebut oleh marx dengan pertumbuhan dalam nilai lebih absolut.
2.      Peningkatan produktifitas kerja dalam bidang barang-barang konsumen (ini mendominasi di barat dari paruh dua abad Kesembilan belas hingga sekarang). Setelah kenaikan produktivitas kerja dalam industri barang-barang konsumen dan pertanian, rata-rata pekerja industri menghasilkan nilai barang yang sudah di tentukan jumlahnya selama katakan saja tiga jam kerja yang sebelumnya lima jam.
Setiap kapitalis mencoba mendapatkan keuntungan maksimum. Tapi untuk mendapatkanya, mereka harus berusaha untuk meningkatkan produksi secara maksimum, dan tanpa henti menurunkan harga biaya dan eceran (diekspresikan dalam unit moneter stabil). Karena hal itu, kompetisi beroprasi sebagai proses selektif di antara perusahaan kapitalis dengan syarat-syarat yang sedang. Hanya yang paling produktif dan paling aktif bertahan hidup. Mereka yang menjual terlalu mahal tidak akan mendapat keuntungan sama sekali.
·           Kapital, Kapitalis dan Ploretariat
Marx menemukan inti masyarakat kapitalis didalam komoditas.  Suatu masyarakat didominasi oleh objek-objek yang nilai utamanya adalah pertukaran yang memproduksi kategori-kategori masyarakat tertentu.  Dua tipe utama yang menjadi perhatian Marx adalah proleariat dan kapitalis.
Proletariat adalah para pekerja yang menjual kerja mereka dan tidak memiliki alat-aat produksi sendiri.  Mereka tidak memilik sarana-sarana sendiri dan pabrik-pabrik sendiri,  tetapi marx percaya bahwa ploretariat bahkan akan kehilangan keterampilan mereka seiring dengan meningkatnya mesin-mesin yang mengantikan mereka. Karena  proletariat hanya memproduksi demi pertukaran, maka mereka juga konsumen.  Karena mereka tidak memiliki sarana-sarana untuk memproduksi sarana-sarana untuk memproduksi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, maka mereka harus menggunakan upah yang mereka peroleh untuk membeli apa yang mereka butuhkan.  Maka dari itu proletariat tergantung sepenuhnya pada upahnya untuk bertahan hidup.  Hal inilah yang membuat proletariat tergantung pada orang yang memberi upah.
Orang yang memberi upah adalah kapitalis, jelas adalah kapialis adalah orang-orang yang memiliki alat produksi.  Kapital adalah uang yang menghasilkan lebih banyak uang.  Dengan kata lain, kapital lebih merupakan uang yang di investasikan ketimbang uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keingginan manusia.
Jadi kapitalisme adalah uang yang menghasilkan lebih banyak uang,  namun Marx mengungkapkan kepada kita bahwa kapital bukan hanya itu : kapital juga merupakan sebuah resolusi sosial tertentu.  dengan kata lain uang hanya akan menjadi kapital, karena adanya relasi sosial antara proletariat yang bekerja dan harus membeli produk dengan orang yang menginvestasikan upahnya. Kapitalis kapital untuk memperoleh keuntunagan terlihat sebagai kekuatan yang di bantu oleh alam- suatu kekuatan produktif imanen didalam kapital.
·           Akhir dari Kapitalisme
Marx berpandangan, bahwa suatu saat kaum proletar akan menyadari akan kepentingan bersama mereka, sehingga akan membangun kekuatan untuk memberontak pada kelas borjuis. Dari situasi konflik antar kelas, maka sistem kapitalis tidak hanya menciptakan penghalang antara buruh dengan pekerjaannya serta dari lingkungan sosial sekitarnya. Selain itu, kapitalisme juga telah memisahkan individu dari dirinya sendiri. Para buruh kehilangan kebebasan individual karena telah dirampas oleh sistem yang telah melingkupinya. Mereka tidak memiliki waktu, tenaga, serta keinginan sendiri karena dipenjara oleh sistem yang diterimanya sebagai sebuah kenyataan. Padahal menurut Marx sistem kapitalisme dapat dicegah.[4] Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud, namun pandangan Marx berkaitan dengan stratifikasi sosial tetap berpengaruh bagi pemikiran sejumlah ilmuan. Pemikiran Marx berpengaruh besar terhadap perubahan sosial besar yang melanda Eropa barat sebagai dampak perkembangan pembagian kerja, khususnya yang berkaitan dengan kapitalisme.[5]
Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme yang berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme.
Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional.“Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini. – Ideologi Jerman-
Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx, Das Kapital (2006), penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.
















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Suatu diskusi mengenai pendekatan dialektis yang diperoleh Marx dari Hegel bahwa masyarakat disusun sekitar kontradiksi-kontradiksi yang dapat dipecahkan hanya melalui perubahan sosial yang nyata. Salah satu dari kontradiksi-kontradiksi utama yang dilihat Marx ialah diantara Potensi Manusia dan kondisi Kapitalisme.
            Dalam masyarakat kapitalis terdapat konsep komoditas dan kontradiksi nilai guna dan niilai tukarnya. Dalam hal ini kemampuan modal untuk menghasilkan keuntungan terletak pada eksploitasi kaum ploletariat. Kontradiksi tersebut menyebabkan konflik kelas diantara kaum proletariat dan borjuis, yang pada akhirnya akan menghasilkan revolusi karena proletarianisasi akan memperbanyak barisan kaum ploretariat.
            Meskipun dia mengkritik kapitalisme, Marx percaya bahwa kapitalisme baik dan bahwa kritiknya atasnya adalah dari pesrpektif potensi masa depannya. Marx merasa bahwa dia mampu memandang dari masa depan potensial kapitalisme karena konsepsi materialisnya atas sejarah. Dengan memfokuskan pada kekuatan-kekuatan produksi, Marx mampu memprediksi kecenderungan-kecenderungan historis yang memungkinkannya mengidentifikasi di mana tidakan politis dapat menjadi efektif. Tindakan politis da bahkan revolusi dibutuhkan karena hubungan-hubungan produksi dan ideologi dapat menahan perkembangan kekuatan-kekuatan produksi yang diperlukan. Menurut pandangan Marx, perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya akan mendatangkan masyarakat komunis.






                             DAFTAR PUSTAKA


Arisandi, Herman, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik                                            sampai Modern, Yogyakarta: IRCiSoD, 2015.
Maksum, Ali, Pengantar Filsafat dari Masa Kalsik Hingga Posmodernisme, Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2015.

Wirawan, I.B., Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma, Jakarta: Prenadamedia, 2014.

Giddens, Anthony, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Terhadap Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata, dari Capitalism and Modern Social Theory: an Analysis of Writing of Marx, Durkheim and Max Weber, Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986.

Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang, dari Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.




[1] Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang, dari Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), hlm. 134-135.
[2] Anthony Giddens, 1986, Kapitalisme..., hlm. 46.
[3] I.B. Wirawan, Teori-Teori..., hlm. 9-10.
[4] Herman Arisandi, Buku Pintar..., hlm. 48.
[5] Ali Maksum, Pengantar..., hlm. 156.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar